BUDAYA di Sumba Barat Daya (SBD) yang mengutamakan laki-laki dalam semua urusan hidup membuat perempuan terpenjara dalam rasa malu dan takut. Hal itu juga dialami perempuan-perempuan yang ada di Desa Loko Kalada, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Maria Goreti Buma. Berbicara di depan umum sangat malu. Semua ini karena selama ini dalam hidupnya dari rumahnya semua hal dipercayakan kepada bapak yang mengurusnya.
Jika ada tamu yang datang ke rumahnya, ia membuka pintu dan menyampaikan kepada bapaknya ada tamu, bapaknya yang menerima tamu, ia langsung ke dapur menyeduh kopi dan mengantarnya kepada tamu. Karena hal ini berulang-ulang dan berlangsung cukup lama rasa malu dan takut ada dalam dirinya sehingga tidak mempunyai kepercayaan diri berbicara di depan umum. Hal ini diperburuk dengan konstruksi di masyarakat dan pemerintah yang tak pernah memberi kesempatan kepada perempuan untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan desa.
Suatu saat ia mengikuti pertemuan yang diadakan CIS Timor di kediaman Bapak Desa. Kebetulan saat itu, ia hanya jalan-jalan ke sana bukan diundang. Ia mendengarkan penjelasan Ibu Tini. Ia tertarik karena materi yang disampaikan bagus. Setelah itu, ia mulai mengikuti pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ibu Sekertaris Desa menawarkannya untuk terlibat dan ia sangat berterima kasih atas kesempatan tersebut. Pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan CIS Timor tersebut di hotel dua kali membuat dirinya menjadi percaya diri dan berani bicara tidak takut dan malu lagi. Meski ia tidak sekolah tetapi ada keberanian dalam dirinya yang memotivasinya untuk maju dengan pertanyaan dalam dirinya mengapa yang lain bisa dirinya tidak bisa?.
Sebagai fasilitator CIS Timor, ia ke masyarakat mendistribusi pengetahuan dan perspektif yang didapatnya. Tidak mudah memang karena ada tantangan. Tetapi tantangan yang didapatkannya dianggap sebagai hal yang wajar, karena pasti dalam pikiran warga menganggap orang ini tidak sekolah sekarang dia bisa. Anggapan remeh berupa sindiran justru dipakai dan dikelolanya sebagai kekuatan untuk memotivasi dirinya lebih maju.
Di kerekabaca, sebuah komunitas diskusi yang lahir dari inisiatif warga mereka mendiskusikan banyak hal termasuk tungku hemat energi. Tungku hemat energi dianggap akan meringangkan kerja-kerja perempuan di dapur. Selama ini beban kerja yang besar ada pada perempuan tetapi dianggap perempuan sebagai hal yang wajar karena itu tanggung jawab perempuan.
Komunitas kerekabaca diputar video tungku hemat energi, mendiskusikan kelebihan dan kelemahannya kalau ada kelemahan dicari solusi bersama. Ia tertarik dengan tungku hemat energi. Sepulangnya dari diskusi dan menonton video ia mengajak bapak bapak dan beberapa teman, keluarga untuk membuat tungku hemat energi. Mereka saweran mengumpulkan pasir, semen, kerikil dan besi. Dengan kerja bersama tungku hemat energi jadi meski masih ada kekurangannya.
Keuntungan menggunakan tungku hemat energi katanya dan beberapa fasilitator dan warga yang ditemui terpisah antara lain Marselina Wada, Sekertaris Desa Loko Kalada, Margareta Amalo, Andreas Zula Bili dan dan Sekertaris Desa Waikaninyo, Bernadus Bali Mema yakni lebih hemat penggunaan kayunya karena kayunya dipotong berukuran kecil. Nyalakan apinya memasak makanan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Hal ini berbeda dengan tungku tradisional boros kayu karena tidak dipotong dalam ukuran kecil dan harus duduk menjaganya sehingga tidak bisa mengerjakan pekerjaan lain. Ia mencontohkan menanak nasi atau menjerang air hanya memberi perhatian sedikit tidak perlu duduk menjaganya sudah bisa mengerjakan pekerjaan lain sampai nasi masak dan airnya mendidih.
Kelima orang ini memberikan testimoni tungku hemat energi memberikan banyak manfaat bagi perempuan dimana tungku ini mengurangi konsumsi kayu bakar, menghemat biaya, meningkatkan efisiensi memasak dan mengurangi paparan asap berbahaya, sehingga perempuan dapat memiliki waktu lebih banyak waktu untuk kegiatan.
Kelimanya sepakat kalau tungku hemat energi ini memberi manfaat ekonomi yakni pada penghematan biaya. Dengan pengurangan konsumsi kayu bakar, artinya dapat menekan pengeluaran untuk bahan bakar. Begitupun dari segi efisiensi karena tungku ini memungkinkan memasak dengan lebih cepat dan efisien, terutama memasak dalam jumlah besar. Hal ini lebih menghemat waktu dan tenaga perempuan yang sehari-hari berkutat dengan pekerjaan di dapur. Sementara manfaat Kesehatan, tungku ini mengurangi paparan asap berbahaya yang dapat menyebabkan masalah pernapasan dan penyakit lainnya. Manfaat lainnya, memasak dengan tungku hemat energi membutuhkan waktu yang lebih sedikit. Hal ini memungkinkan perempuan memiliki lebih banyak waktu untuk kegiatan lain menenun, kegiatan sosial, aktif di gereja.
Nilai-nilai yang diajarkan CIS Timor untuk tidak mendiskriminasi disabilitas juga diterapkannya dan melakukan pemberdayaan disabilitas dengan talenta yang dimiliki.
Ia merasakan kehadiran CIS Timor di desanya telah memberi perspektif baru dalam relasi perempuan dan laki-laki, dimana perempuan juga sudah mendapatkan kesempatan untuk tampil di depan, mengikuti berbagai pertemuan di desa dan semakin percaya diri. Laki-laki sudah mengubah cara pandang dan perilaku dengan rela mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik yang sebelumnya dianggap pekerjaan perempuan. Itu juga terlihat dalam keseimbanagan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan laki-laki 25 orang perempuan juga 25 orang. Kalau dulu laki-laki urusan kebun pulang, makan, istirahat dan perempuan mengerjakan semua urusan dalam rumah. Sekarang laki- laki pulang kebun sudah membawa kayu bakar, merejang air. Itu suatu kemajuan perubahan perilaku
Pengakuan CIS Timor telah berhasil mentransformasi nilai-nilai kesetaraan dan adil gender juga diakui kelimanya Maria Goreti Buma orang lainnya Marselina Wada, Margareta Amalo, Andreas Sula Bili dan dan Bernadus Bali Mema. Nilai-nilai adil gender yang sudah diterapkan di desa mereka yakni pembagian kerja dalam rumah tangga, laki-laki sudah mulai terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan keperawatan, keterlibatan di ruang public mengikuti forum-forum pengambilan keputusan strategis di desa dan berkurangnya kekerasan berbasis gender, KDRT, kekerasan seksual.
Menurut Maria Goreti, CIS Timor berhasil melakukan perubahan cara pandang dan perilaku dengan mentransformasi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender dalam masyarakat yang ada di Desa Loko Kalada.
Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga ada perubahan cara pandang dan perilaku, menciptakan masyarakat yang egaliter menghormati perempuan dan laki-laki, perempuan bebas kekerasan kelimanya setuju program CIS Timor berkelanjutan.
“Dampak positif”
Marselina Wada, masih muda sudah menjadi Sekretaris Desa (Sekdes) di Desa Loko Kalada, sejak tahun 2020 lalu.
Diakuinya forum-forum desa yang mengambil keputusan strategis selama ini dikuasai laki-laki dan tidak memberi kesempatan sama sekali kepada perempuan.
Dalam pengalaman selama ini ujarnya yang menghadiri Musrenbangdes didominasi laki-laki dan perempuan yang menghadiri forum tersebut ia sendiri, sebagai sekdes.
Situasi berubah setelah CIS Timor dengan projeknya masuk tahun 2023 lalu memperkenalkan tungku hemat energi, lampu hemat energi. Bukan saja sosialisasi tentang tungku tetapi bagaimana nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender menjadi pintu masuk untuk meneropong relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan selama ini menyebabkan perempuan lebih banyak fokus ke urusan domestik dan tidak mendapatkan kesempatan tampil di ruang publik.
Saat ini perempuan dan kelompok disabilitas sudah mendapat kesempatan terlibat dalam musrenbangdes, dimana dalam forum tersebut telah mengusulkan tungku hemat energi yang dianggaran dari dana desa untuk menunjang program CIS Timor yang memberi manfaat bagi perempuan. Setelah melakukan asistensi di tingkat kecamatan, kecamatan tidak mengakomodir usulah tersebut dengan alasan lebih memprioritaskan pemberdayaan masyarakat. Padahal sebagai sekdes bersama kepala desa dan beberapa delegasi yang pergi melakukan asistensi sudah menjelaskan tungku hemat energi memberi manfaat yang besar bagi perempauan tetapi kecamatan tidak mengakomodir dalam anggaran tahun 2025.
Pemerintah Desa Loko Kalada juga memberikan perhatian pada disabillitas dimana mereka memiliki hambatan dalam melakukan aktivitas tertentu karena fisik, intelektual, mental atau sensorik yang berlangsung lama. Pemerintah mempunyai tanggung jawab memberikan pemberdayaaan disabiilitas, membantu penyandang disabilitas untuk dapat hidup mandiri, memiliki kesempatan yang sama dan berpartispasi aktif dalam kehidupan masyarakat. Tahun 2025 ada usulan usaha mebeler dan tata boga kaerena di Desa Loko Kalada ada tiga orang penyandang disabilitas yang mempunyai kemampuan dalam kedua bidang tersebut.
CIS Timor melalui Program We for Jet mengajarkan kepada masyarakat Desa Loko Kalada tentang nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender sejak 2023. Apa yang disampaikan membawa perubahan tentang partisipasi perempuan dalam mengikuti musyawarah di dusun dan desa. Yang dulu itu tidak pernah sama sekali perempuan terlibat sejak program ini masuk perempuan sudah terlibat dan aktif dalam musyawarah desa. Ini soal kesempatan. Bagaimana perempuan mau berpartisipasi kalau tidak mendapatkan kesempatan.
Selain pengenalan konsep nilai adil gender , CIS Timor memperkenalkan tungku hemat energi yang mana implementasinya sudah diaplikasikan oleh beberapa rumah tangga dan keluarga. Setelah dievaluasi tungku hemat energi ini memberikan manfaat yang besar bagi perempuan. Banyak manfaat tungku hemat energi bagi perempuan yakni efisiensi, kesehatan dan pengehamatan biaya. Tungku ini mengurangi paparan asap yang membahayakan Kesehatan pernapasan, menghemat penggunaan kayu bakar. Itu artinya mengurangi beban kerja perempuan dalam mencari bahan bakar dan mengurangi deforestasi (proses penghilangan hutan) serta mengurangi pengeluaran rumah tangga karena efisensi penggunaan bahar bakar.
Konsep nilai-nilai kesetaraan dan adil gender yang didapatkan dari CIS Timor tidak menjadi miliknya sendiri tetapi dibagikan dengan mengedukasinya kepada orang muda. Mereka diajarkan apa itu kesetaraan gender, bentuk-bentuk ketidakadilan gender antara lain yakni kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga. Banyak kekerasand dalam ruman tangga terjadi, kekerasan seksual bapak terhadap anaknya. Disampaikan kepada mereka ada undang-undang yang mengatur perempuan anak-anak, mereka harus dilindungi meski itu istri dan anak sendiri. Jika melakukan kekerasan terhadap mereka akan diproses hukum. Pernah suatu saat dalam kunjungannya mendapatkan seorang suami melakukan KDRT terhadap istrinya, ia langsung menegur suaminya saat itu. Suaminya meminta maaf karena ia tidak bisa menguasasi diri karena marah.
Dari kunjungan-kunjungannya sebagai Sekertaris Desa dan fasilitator We for Jet Cis Timor ke rumah-rumah warga khususnya ibu-ibu yang mengikuti pelatihan didapatkan fakta ada perubahan cara pandang pada para suami bahwa selama ini mereka membiarkan istri mereka yang mengurusi urusan rumah tangga memasak, mencuci, mengurus anak karena mereka menganggap itu pekerjaan perempuan. Tetapi saat ini meski belum semua berubah sudah ada suami yang mau memasak, menyapu, mencuci. Terhadap realitas masih ada laki-laki yang belum paham sehingga belum berubah ia tak hentinya mengedukasi agar mereka berubah cara pandang dan berdampak pada perubahan perilaku.
Meski project CIS Timor ini ada waktunya selesai dan berharap ketika CIS Timor keluar masyarakat sudah berdaya, semangat swadaya dan gotong royong masyarakat tumbuh, perempuan sudah aktif dan menjadi pemimpin di ruang publik, angka kekerasan seksual dan KDRT tidak ada, tetapi Sekertaris Desa berharap program CIS Timor ini berkalnjutan di desanya. Ini penting sehingga banyak masyarakat yang bisa menerima manfaatnya yang sama.
Sementara itu, Mama Margareta Amalo disapa manis Mama Erti dihubungi secara terpisah adalah fasilitator CIS Timor di Desa Loko Kalada. Ia sependapat dengan mama-mama lainnya sebagai fasilitator desa.
Perubahan-perubahan yang saat ini dirasakan masyarakat tidak menggelinding begitu saja. Semua karena kehadiran CIS Timor. Sebagai fasilitator melakukan pertemuan yang dihadiri banyak ibu-ibu, mengedukasi mereka. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya karena budaya yang kuat tidak memberi kesempatan perempuan aktif di luar rumah.
Tungku hemat energi yang disosialisasikan CIS Timor sangat baik bagi meringankan pekerjaan perempuan. Hanya saja belum bisa dialokasikan dari dana desa sehingga bisa membantu banyak perempuan desa agar beban kerja mereka berkurang.
Selama ini para perempuan di desanya tidak mengerti pentingnya partisipasi perempuan selama ini di ruang publik dan dalam pengambilan keputusan dalam pertemuan-pertemuan di desa dan perencanaan desa. Karena konstruksi budaya yang sangat kuat mengutamakan laki-laki selama ini membuat posisi perempuan dinomorduakan dan hanya mengurus pekerjaan-pekerjaan dalam rumah tangga.
Melalui CIS Timor dan programnnya yang mengedukasi masyarakat sekarang perempuan sudah mendapatkan kesempatan untuk terlibat aktif dalam musrenbangdes, di gereja dan dalam acara adat. Para suami juga sudah berubah cara pandang dan perlaku mengizinkan istri untuk terlibat dalam pertemuan.
Sejak tahun 2010 ia melayani sebagai majelis gereja dan diangkat sebagai sekretaris BPMJ. Meski hanya tamat SMA ia menggunakan momen itu untuk belajar. Berdasarkan pengalamannya mengurus organisasi gereja ia direkrut sebagai pengurus BUMDES.
Ia berkomitmen mengkampanyekan tungku hemat energi pada berbagai forum termasuk dalam acara-acara keluarga. Karena selain dari sosialisasi CIS Timor pengalaman beberapa ibu yang menggunakan tungku hemat energi memberi manfaat besar bagi perempuan.
Adapun manfaat yang dirasakan yakni lebih menghemat pemakaian kayu bakar, dari segi kesehatan melindungi Kesehatan pernapasan karena terbebas dari paparan asap, sambil masak bisa mengerjakan pekerjaan lain dan menghemat waktu.
Meski tujuan program ini membangun kemandirian, kesawadayaan, terwujudnya masyarakat yang egaliter, bebas kekerasan dan hidupnya semangat gotong royong ia mengharapkan program ini berkelanjutan sehingga bisa menjangkau banyak masyarakat
“Buat tungku hemat energi”
Sementara Andreas Zula Bili, lebih sering dipanggil Bapak Karel, warga Desa Loko Kalada, kampung Wanokutura, saat dihubungi menuturkan awal ketertarikannya pada tungku hemat energi karena mendengar cerita adiknya Maria Goreti Buma. Adiknya itu mengajaknya bergabung untuk mengikuti penjelasan manfaat tungku hemat energi dan cara merakitnya seperti apa. Sebenarnya ia malas mengikuti pertemuan sosialisasi karena ia menganggap dirinya sudah tua dan tidak ada manfaatnya mengikuti kegiatan seperti itu. Biarkan saja anak muda yang punya peluang dan kompeten untuk terus berkembang. Tetapi karena adiknya terus mengajak ia menghargai dan mengikuti pertemuan-pertemuan.
Saat mengikuti pertemuan ia menonton video tungku hemat energi. Adiknya meminta ia mendukung dan membuat tungku tersebut. “Kakak kita jangan tunggu anggaran dari desa atau dari manapun. Kalau bisa kakak mendukung kami, supaya kita buat. Maka saya jawab mereka, kalau memang kamu siap, saya dukung kamu dan saya sendiri terjun melaksanakan pekerjaan ini,” ucapnya.
Selanjutnya bersama ibu-ibu, mereka mengumpulkan bahan-bahan yakni semen, besi, kawat ikat, pasir dengan kerangka atau dalam bahasa setempat mal yang dipakai merakit tungku. Karena ia telah menyatakan kesanggupan membantu mengerjakan tungku tersebut bagi mama-mama di Desa Loko Kalada maka ia mengerjakan tungku tersebut dengan sungguh-sungguh. Hasilnya yang dibawah untuk dipamerkan di Tambolaka pada saat HUT SBD.
Meski ia sudah berhasil membuat tungku tetapi ia belum puas dengan hasilnya karena malnya. Saat mengeluarkan tungku dari malnya masih rumit. Ia meminta agar ini menjadi perhatian CIS Timor supaya terus melakukan inovasi sampai jadi tungku yang bagus.
Menurutnya, ada lima rumah tangga yang sudah ia selesaikan pembuatan tungku hemat energinya. Selanjutnya dilakukan uji coba. Dua tungku dinyalakan untuk membandingkan cara kerjanya, satu yang tradisional dan satu lagi yang hemat energi. Tungku hemat energi bisa memasak dua periuk, hanya sekali saja memasukan kayu, tidak perlu sering mendorong kayu terus-menerus seperti tungku tradisional sehingga saat memasak makanan atau menjerang air cepat masak dan mendidih. Dengan tungku hemat energi apinya terkosentrasi tidak menyebar sehingga panasnya membuat makanan cepat masak. Karena itu, sebaiknya semua warga menggunakan tungku hemat energi.
Meski ia seorang tukang, ia berharap sudah ada mal tersedia sehingga tidak rumit membuatnya dan mengeluarkannya nanti. Dengan demikian banyak tungku yang diproduksi. Solusinya bekerja sama dengan pihak lain yang lebih profesional sehingga dalam perakitan produk kerangka (mal) bongkar pasang yang lebih bagus hasilnya. Hal itu lebih mempermudah dalam merakit tungkut hemat energi.
Saat pameran banyak yang memberikan masukan untuk membuat tungku hemat energi lebih baik kualitasnya. Baginya masukan-masukan tersebut adalah hal yang baik bagi memperbaiki kualitas tungku hemat energi. Ada masukan agar bagian atas tungku dibuat lebih tebal, lubang tungku lebih diangkat agar tidak berjarak nyala api dengan periuk atau kuali, sehingga panas dan membuat makanan yang dimasak cepat masak.
“Pemerintah Desa Mendukung”.
Kesaksian yang sama juga disampaikan Bernadus Bali Mema, Sekretaris Desa (Sekdes) Waikaninyo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) yang juga fasilitator desa, Yayasan Cis Timor Indonesia
Ia mengikuti pelatihan di Hotel Sima yang diselenggarakan CIS Timor mendapatkan materi dari narasumber tentang keadilan dan kesetaraan gender. Selanjutnya ada kegiatan lanjutan di desa yang difasilitasi Ibu Tini dan fasilitator kabupaten. “Saya menyampaikan terima kasih untuk CIS Timor atas kesempatan ini,” katanya.
Menindaklanjuti kegiatan sebelumnya ada banyak kegiatan di desa yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Saat itu, materi tentang kesetaraan gender dimana laki-laki mengikuti pertemuan sendiri terlebih dahulu, selanjutnya perempuan sendiri. Dilanjutkan dengan pertemuan yang menggabungkan laki-laki dan perempuan.
Dari nilai-nilai adil gender yang didapatkan terutama para peserta ada perubahan pada cara pandang dan perilaku terhadap perempuan. Paling tidak kasus KDRT yang biasanya dilaporkan ke polisi cukup tinggi sudah mulai berkurang, relasi-relasi laki-laki dan perempuan yang lebih adil dan setara dalam keluarga dan masyarakat, mendorong kepemimpinan perempuan dan memberi kesempatan terhadap perempuan ikut merencanakan dan mengambil keputusan dalam forum musyawarah desa.
Dalam diskusi-disksui ditemukan ada ketimpangan relasi selama ini dimana beban kerja perempuan lebih besar kepada perempuan. Perempuan bekerja lebih lama 18 jam laki-laki hanya delapan jam sampai 12 jam.
Hal lain lagi yang didapatkan dari program CIS Timor yakni pengetahuan dan ketrampilan merakit tungku hemat energi. Tungku hemat energi ini memberi manfaat yang besar bagi perempuan dari segi penghematan waktu dalam memasak, pengehamatan bahan bakar kayu api, dari segi kesehatan dan waktu. Tidak perlu duduk menjaga masakan agar nyala api tetap hidup karena kayunya harus setiap saat dimasukan dalam tungku seperti tungku trandisional serta terbebas dari paparan asap yang menganggu pernapasan.
Masyarakat antusias menerima informasi ini. Saat pelatihan merakit tungku hemat energi semua bekerja sama-sama, perempuan juga mengangkat pasir. Untuk mendorong masyarakat agar menggunakan tungku hemat energi telah dibuat lomba perakitan tungku hemat energi.
Ia bersyukur karena Pemerintah esa mendukung pelatihan. Dari pelatihan dengan 25 peserta, desa mendukung dari dana desa yang sudah dicairkan. Awal Juni rencananya akan dibuat lagi pelatihan dengan 20 peserta.
Pada Proyek We for JET juga memperkenalkan Energi Terbarukan dengan biogas dari kotoran hewan. Sebagaimana tungku hemat energi biogas ini juga memberikan banyak dampak positif bagi perempuan. Penggunaannya akan membantu mengurangi beban kerja, perempuan, meningkatkan kesehatan dan memberikan peluang ekonomi. Mengurangi beban kerja, mempermudah memasak dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk mengumpulkan kayu bakar. Perempuan memiliki banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain seperti mengurus keluarga, mengembangkan ekonomi, menenun, beternak. Dampak kesehatannya biogas mengurangi paparan asap dari kayu bakar yang dapat menyebabkan masalah Kesehatan pernapasan.
Harus jujur diakui dengan program CIS Timor ada perubahan di desanya. Laki-laki sudah mau mengurus pekerjaan rumah tangga yang selama ini dibebankan kepada perempuan menyapu rumah, memasak nasi, mencuci. Saat ini sebagai pribadi ia telah mengambil alih pekerjaan menyapu rumah, menanak nasi jika istri lagi bepergian. “Terima kasih untuk CIS Timor atas pengetahuan, perspektif dan ketrampilan yang kami dapat. Kami berharap CIS Timor tetap mendampingi sampai semua masyarakat menyadari pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempaun untuk menciptakan masyarakat yang setara, rukun dan damai,” harapnya.(*)



