DESA Mutis, Desa Nenas, di Kecamatan Fatumnasi dan Desa Pene Utara, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS adalah desa-desa yang diintervensi Proyek WE For JET, CIS Timor yang didukung Oxfam. Awal Mei 2025 lalu, fasilitator desa Proyek WE For JET yang ada di desa-desa tersebut dihubungi secara terpisah untuk mendengarkan cerita mereka tentang praktek baik Proyek WE for JET.
Desa-desa tersebut hidup dengan budaya patriarki (mengutamakan laki-laki) yang kental bertahun-tahun mengkontruksi perilaku laki-laki yang meminggirkan perempuan sehingga dalam keluarga perempuan dibebankan mengurus urusan rumah tangga (domestik), pembatasan aktivitas di ruang publik, keputusan-keputusan penting menyangkut hidup dalam keluarga diputuskan laki-laki.
Tanggung jawab dalam rumah dibebankan kepada perempuan dan mengkonstruksikan kerja-kerja dalam rumah tangga adalah kerja perempuan dan bukan pekerjaan laki-laki, perempuan tidak pernah diundang mengikuti pertemuan di tingkat desa, anak perempuan yang mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di perguruan tinggi sangat sedikit bisa diditung dengan jari tangan. Orang muda juga tidak pernah dianggap karena itu semua urusan kehidupan dipercayakan kepada orang tua dalam hal ini bapak-bapak.
Program WE For JET CIS Timor telah berhasil mengubah cara pandang hingga perilaku yang sangat hegemoni maskulinitas menjadi cara pandang dan perilaku yang inklusif mengutamakan kesetaraan gender. Sehingga bukan hal yang aneh lagi jika ada suami yang bangun dini hari menjerang air, menyeduh (memutar) kopi, mencuci, memasak, mengambil dan mengumpulkan kayu bakar. Selain itu, sudah ada kesempatan untuk perempuan berpartisipasi di ruang publik mengikuti berbagai rapat-rapat, pertemuan untuk mengambil keputusan di tingkat desa, musyawarah desa, menjadi majelis di gereja, pengurus BPD dan BUMDES.
Perubahan luar biasa lainnya yakni suara orang muda sudah didengar dan orang muda juga mendapat tempat dalam pertemuan-pertemuan di forum musyawarah desa, dimana sebelumnya tidak pernah karena semua hal dianggap adalah urusan orang tua.
Masyarakat juga mau menerima biogas karena memberi manfaat yang besar bagi kehidupan perempuan yakni mengurangi kerusakan hutan, merawat hutan, mengurangi beban kerja perempuan, memberi manfaat bagi Kesehatan pernapasan perempuan, efisien dalam waktu, tidak perlu duduk menjaga tungku sebagaimana tungku tradisional selama ini jika memasak harus menjaga tungku untuk memastikan nyala api stabil.
“Lewat Perilaku”
Salah satu fasilitator Desa Mutis, Kecamatan Fatmunasi, Kabupaten TTS We For JET, CIS Timor Bapak Oktovianus Dominggus Tasuin mensosialisasikan nilai-nilai adil gender kepada masyarakat dengan cara yang unik. Bapak Oktovianus Dominggus Tasuin mensosialisikan melalui perilaku hidupnya tidak lewat kampanye narasi. Ia menunjukkan perilaku hidup bagaimana mnegerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik memasak, menyapu, mencuci, mencari kayu bakar dan mengumpulkan kayu bakar serta mengasuh anak.
Jadi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan dan tidak berbayar dilakukan setiap hari karena sejak kecil memang ia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan tersebut karena ia menumpang dengan orang karena bapaknya meninggal dunia saat ia masih kecil.
Ia tidak berani menyampaikan kepada laki-laki untuk berubah dan melakukan pekerjaan pekerjaan rumah tangga karena ia kuatir tidak semua orang siap dan bisa menerima.
Dalam kehidupan bertetangga ia melihat sudah mulai ada perubahan dimana bapak-bapak sudah mulai melakukan pekerjaan domestik. Bapak-bapak bangun dini hari menjerang air, membuat kopi untuk diminum seisi rumah.
Dia berpesan agar semua laki-laki mau melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik untuk mengurangi beban perempuan sehingga terwujud masyarakat yang adil dan setara.
“ PKK sudah didengar suaranya”
Mama Merteda Emi Banu, adalah Ketua Tim Penggerak PKK Desa Mutis, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS. Desa Mutis adalah desa pemekaran dari Desa Nenas.
Secara struktur PKK ada dalam organisasi desa tetapi tidak berfungsi karena tidak ada alokasi anggaran dari dana desa membiayai PKK. Selama ini PKK hanya difungsikan untuk mengurus konsumsi jika ada kegiatan di desa. PKK tidak pernah mendapat kesempatan untuk bersuara, berpendapat.
Situasi berubah saat Proyek WE For JET, Cis Timor masuk Desa Mutis. PKK dan para perempuan diundang duduk mengikuti rapat-rapat dan memberikan kesempatan untuk berbicara. Selain itu, sejak tahun 2024 lalu hingga tahun 2025, sudah dianggarkan dari dana desa untuk kegiatan PKK. Rencananya Tahun 2026 dari dana desa akan dianggarkan untuk biogas.
Menurutnya, kehadiran perempuan mengikuti musrenbangdes sekitar 30 persen. Usulan kegiatan perempuan dan PKK yang disetujui yakni hanya benang. “Saya kawal benar-benar, saya minta agar dana itu tidak dipotong lagi,” katanya.
Sekarang ini tuturnya lagi dikembangkan biogas di rumah-rumah warga dalam kapasitas kecil menggunakan tong. Anggaran biogas diusulkan dalam musrenbangdes tahun 2025 tetapi bapak desa mengatakan anggaran tidak mencukup jadi ditunda ke tahun depan. Di Desa Mutis bahan pembuatan biogas tersedia karena banyak keluarga yang memelihara ternak sapi.
Dia menjelaskan mengetahui biogas dari CIS Timor melalui proyek We For JET. Warga tertarik dan mempraktekannya. Ternyata biogas ini untuk menjawab energi terbarukan di desa. “Kami dilatih mengolah kotoran sapi. Kami belajar tentang energi terbarukan,” ujar ibu tiga anak ini dua perempuan dan satu laki-laki.
Biogas ini sangat membantu perempuan untuk lebih muda dalam memasak. Selama ini Perempuan mengambil kayu itu jauh di kebun. “Kami berharap ke depan semua bisa menggunakan biogas ini supaya lebih mempermudah kerja-kerja kami sebagai perempuan,” harapanya.
Dengan penggunaan biogas akan memberi banyak manfaat bagi perempuan yakni mengurangi paparan asap yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan, khususnya pada ibu-ibu yang selama ini di dapur, menghemat waktu karena tidak perlu lagi ke kebun mengumpulkan kayu bakar. Waktu itu bisa dipakai untuk kegiatan produktif lainnya seperti menenun,
Dalam proyek We For JET ini diajarkan nilai-nilai adil gender, mendorong kepemimpinan perempuan di desa, perempuan terlibat dalam berbagai pertemuan di desa, di gereja. Dan sudah ada kemajuan yakni menjadi majelis gereja dan ada dalam struktur PKK. Selain itu, ada perubahan perilaku pada laki-laki. Mereka juga sudah mulai mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dalam rumah tangga menjaga anak, menyapu rumah dan memasak.
Pernah ada kekerasan dalam rumah tangga dimana pelakunya masuk penjara. Ternyata itu memberi efek jera tidak saja pada pelaku tetapi juga pada laki-laki lainnya sehingga tidak lagi terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga.
“Dorong Perubahan”
Ajira Jumardin, warga asli Desa Mutis, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS. Ajira bergabung dengan Proyek We for JET CIS Timor yang didukung Oxfam dua tahun lalu dan menjadi fasilitator Desa Mutis.
Ajira menuturkan di Desa Mutis, para perempuan tidak mendapat kesempatan untuk berpatisipasi di ruang publik, perempuan dikontruksikan untuk mengurus urusan domestik, dalam rumah tangga, memasak, mencuci, mengurus anak. Setelah masuk program We For JET perempuan dilibatkan dalam berbagai pertemuan di desa, gereja dan juga ada pembentukan kelompok perempuan dari beberapa Dinas Pertanian.
Dengan adanya Proyek We For JET dalam melibatkan perempuan, potensi-potensi dalam diri perempuan di Desa Mutis muncul ke permukaan dan itu sebagai modal mendorong perubahan di desa. Pelibatan perempuan untuk mendorong perubahan-perubahan di desa adalah strategi yang baik karena pendekatan-pendekatan yang dilakukan perempuan berbeda dengan yang dilakukan laki-laki selama ini.
Budaya yang mengutamakan laki-laki menyumbang bagi meminggirkan perempuan karena selama ini budaya patriarkhi mengkontruksikan perempuan mengurus urusan dalam rumah sehingga perempuan terbelakang dan perempuan juga menerima itu sebagai nasib perempuan.
Menghadapi kendala di desa mendorong perempuan untuk perubahan ia memakai strategi pendekatan menggunakan bahasa yang dipakai mereka setiap hari sehingga mereka cepat mengerti. Ketika mereka sudah terlibat, mereka merasakan manfaatnya. Mereka menjadi rindu untuk bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sehingga sering mereka bertanya kapan lagi diadakan kegiatan.
Dia mengungkapkan pengalamannya sebelum bergabung di Proyek We For JET dan menjadi fasilitator desa setiap hari kerjanya di rumah saja mengurus anak, memasak, menyapu, mencuci. Kalau tugas mengurus rumah selesai ke kebun membantu suami bekerja di kebun. Sampai proyek We For JET masuk dan ikut terlibat barulah ia menyadari ada potensi dalam dirinya dan dia mampu. Setelah itu ia mendorong para perempuan untuk terlibat dan para perempuan sudah ikut dalam musyawarah desa. Karena sebelumnya diundang mereka tidak mau terlibat karena mereka menganggap itu tugas dan tanggung jawab laki-laki
Ia berpesan untuk orang muda perempuan agar memanfaatkan kesempatan yang ada untuk belajar sehingga siap menggantikan para senior dan perempuan juga bisa berubah hidupnya.
“Pelibatan Perempuan”
Mama Weni Triana Lapenanga, warga Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS adalah fasilitator Desa Cis Timor. Desa Nenas berhawa sejuk dengan jumlah penduduk 400 KK. Mama Weni memotret kesenjangan gender, ketimpangan relasi perempuan dan laki-laki yang menimpa dirinya dan perempuan lainnya di Pedalaman Timor.
Wakil Ketua salah satu Majelis Jemaat GMIT di Desa Nenas ini melihat pada budaya patriaRkhi yang mengistimewakan laki-laki dimana selama ini perempuanlah yang diberi tanggungjawab mengurus rumah tangga sementara laki-laki tidak mempunyai tanggung jawab dan lebih memfokuskan pada peran-perannya di ruang publik.
Setelah terlibat dalam Proyek We for JET CIS Timor yang didukung Oxfam, mengikuti pelatihan tentang nilai-nilai adil gender baru ia paham tentang kerja-kerja dalam rumah tangga adalah peran-peran gender yang bisa dipertukarkan. Artinya bisa dikerjakan perempuan dan bisa juga dikerjakan oleh laki-laki karena itu hanya bentukan manusia bukan sesuatu yng kodrati dari Tuhan. Karena bentukan manusia dan lingkungan dimana seseorang berada maka bisa berubah dari waktu ke waktu. Artinya memasak, mencuci, mengambil air, kayu bakar, mengasuh anak, menggendong anak, membawa anak ke posyandu, menenun itu bisa dilakukan mama-mama tetapi juga dilakukan bapak-bapak. Bapak-bapak tidak akan berkurang anggota tubuhnya karena mengerjakan pekerjaan dalam rumah.
Jadi nilai adil gender itu ujarnya laki-laki dan perempuan setara tidak ada perbedaan yang membedakan hanya jenis kelamin. Jadi pekerjaan domestik bisa dikerjakan laki-laki, perempuan juga bisa aktif di ruang publik, mengikuti berbagai pertemuan di desa dan berbagai pelatihan untuk mengembangkan dirinya, perempuan juga bisa jadi pemimpin.
Akibat budaya patriarkhi yang mengistimewakan laki-laki berdampak pada ketidakadilan gender dimana terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Salah paham sedikit suami memukul istri. Dicontohkannya, suami pulang dari kebun, istri juga kebetulan lelah bekerja dalam rumah. Istri menolak membuatkan kopi yang sebenarnya bisa dibuat suami. Suami tersinggung dan memukul istri. Selama ini ada anggapan yang salah kalau laki-laki bekerja di luar rumah lebih berat disbanding pekerjaan istri dalam rumah. Padahal sama juga perempuan bekerja dalam rumah dari semua orang dalam rumah belum bangun tidur di pagi hari sampai semua anggota di rumah sudah terlelap tidur malam hari perempuan masih bekerja. Yang membedakan karena laki-laki kerja di luar rumah dan perempuan di dalam rumah.
Sejak 2023-2024 CIS Timor memperkenalkan GEDSI kepada warga Desa Nenas, tokoh perempuan, tokoh laki-laki, trans gender, disabilitas diundang untuk mengikuti pelatihan. Dengan adanya pelatihan-pelatihan mulai terlihat perubahan. Karena konteks Desa Nenas yang masih kuat dengan adat, maka dalam narasi adat, jubir juga penting punya perspektif GEDSI.
Anggota PKK, Desa Nenas ini menjelaskan pentingnya meredusir perspektif gender dan inklusi sosial dalam narasi adat dan jubir (juru bicara dalam proses perkawinan sehingga proses peminangan ramah perempuan dan selanjutnya relasi-relasi dalam perkawinan itu setara, menghindari adanya KDRT.
Nilai-nilai adil gender, inklusi sosial yang didapatkannya dari CIS Timor yang disupport Oxfam dibagikan kepada warga atau jemaat melalui khotbah saat memimpin ibadat rumah tangga atau di gereja Jadi nilai-nilai adil gender tidak hanya di ruang kelas pelatihan Cis Timor dan Oxfam tetapi harus disharing agar banyak warga masyrakat memahaminya sehingga ada perubahan pandangan pada perempuan untuk menolak diskriminasi dan juga laki-laki untuk tidak melakukan ketiakdilan gender kepada perempuan.
Membagikan pengetahuan dan perpektif gedsi dilakukannya melalui ibadah rumah tangga adalah strategi yang baik karena dalam ibadah rumah tangga jemaat akan datang. Strategi lainnya yakni saat ngobrol santai sesama perempuan, saling curhat masalah perempuan itu juga dipakai mensosialisasikan nilai-nilai adil gender. Strategi itu lebih mengena karena masuk dengan cara kehidupan perempuan di desa.
Pendekatan-pendekatan melalui ibadah rumah tangga ternyata memberi hasil yang baik kaena beberapa laki-laki sudah mulai berubah perilakunya terhadap para istri. Mereka sudah mulai membantu para istri mencuci piring, memasak. “Ada perubahan, Saya bersyukur pada Tuhan,” ucapnya.
Melalui proyek ini juga penting untuk mendorong kepemimpinan perempuan. Misalnya dalam pemilihan RT atau RW. Masih ada anggapan pilih laki-laki karena dia lebih gesit. Saat ini sudah mulai ada pemahaman bahwa perempuan juga bisa menjadi RT atau RW. Sebelumnya, kata dia, pelibatan perempuan dalam musdes masih sebatas mengurus konsumsi saja. Sekarang sudah berubah. Sudah ada pelibatan perempuan. Perempuan diberi undangan untuk terlibat menyuarakan kebutuhan perempuan dan warga masyarakat.
Ia berharap pelatihan-pelatihan seperti ini intens oleh fasilitator CIS Timor sehingga laki-laki benar-benar mau berubah, karena selama ini budaya mengutamakan mereka jadi tidak dengan mudah dan cepat mereka berubah. Butuh suatu tindakan yang besar
“Dapat Kesempatan”
Pandangan perempuan tidak perlu sekolah tinggi pada akhirnya juga akan mengurus dapur masih terjadi di Desa Nenas. Hal itu disampaikan Yesi Nifu Eki (27), fasilitator Desa CIS Timor, We for JET.
Saat ditemui di kediaman Mama Weni Lapenanga yang sejuk sebagaimana hawa di Desa Nenas awal Mey lalu guru sekolah minggu ini menceritakan kondisi orang muda di desanya. Orang muda, khususnya perempuan waktu lalu masih berusia menempuh Pendidikan SMP atau SMA mereka sudah dinikahkan. Anak perempuan tidak diberikan pilihan lain untuk mengembangkan dirinya dan masa depan dengan melanjutkan studi ke jenjang S1 atau mencari kerja. “Jadi mereka berhenti tamat SMP dan SMA, terus menikah,” ungkap mama dari satu orang anak ini.
Menurut ibu yang anaknya masih mengikuti PAUD ini setelah menjadi fasilitator desa Program We For JET, CIS Timor didukung Oxfam, barulah ia dan para perempuan memahami perempuan mempunyai hak menentukan masa depannya.
Pemahaman itu disampaikan kepada orang muda di desanya. “Kami sudah memahami bahwa perempuan punya masa depan. Perempuan juga bisa jadi ini, bisa juga jadi itu. Kami menyampaikan kepada orang-orang muda, khususnya perempuan, setelah sekolah mereka juga harus memiliki pilihan untuk masa depan,” ungkapnya.
Melalui program ini mereka menyampaikan kepada orangtua dan orang-orang muda, bahwa mereka mempunyai pilihan, masa depan. Perempuan tidak harus menikah setelah menamatkan SMP, SMA bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Saat ini, orangtua sudah banyak yang berubah pola pikir dan cara pandangnya.
Para orangtua dalam keterbatasannya sudah mulai memikirkan agar anak-anaknya bisa melanjutkan ke universitas untuk kuliah sehingga bisa mengejar cita-citanya. Karena di Desa Nenas, anak-anak yang menamatkan S1 bisa hitung dengan jari tangan. Bahkan guru-guru SMP yang mengajar di Nenas mereka semua berasal dari luar Nenas.
Kepada orangtua dan orang muda disampaikan agar membuka cara pandang mereka, anak perempuan harus sekolah setinggi-tingginya supaya mereka mempunyai pekerjaan, mereka mempunyai cara pandang yang lebih kritis daripada orang tua yang sudah tua, yang mindset (pola pikir) mereka terbatas. Pandangan-pandangan memotivasi anak-anak disampaikan dalam diskusi, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan CIS Timor, di sekolah minggu bahwa mereka berhak dan mempunyai cita-cita.
Kendala yang dihadapinya dalam memperjuangkan agar perempuan harus sekolah tinggi yakni mengubah mindset yang berurat akar. Pola berpikir mereka sudah terkonstruksi dalam waktu yang cukup lama bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena tidak memberikan manfaat. Untuk apa anak-anak perempuan kuliah. Kuliahpun belum tentu dapat kerja. Pandangan mereka kuliah itu hanya membuang biaya sehingga sia-sia saja. Akhirnya tertanam dalam pikiran anak-anak setelah menamatkan sekolah SMP, SMA akan menikah. Bahkan kebanyakan di sini anak-anak di bawah usia 17 banyak yang sudah dinikahkan.
Keterlibatan anak muda perempuan di desa masih sangat terbatas karena selama ini sudah terbangun kebiasaan semuanya mengandalkan orang tua. Orang tua yang mengambil keputusan, orang muda hanya ikut saja.
Saat CIS Timor masuk dengan proyek We for JET banyak orang muda dilibatkan baik laki-laki dan perempuan. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya orang mudah pemilik masa depan dan masa kini. Sementara orang tua sudah sulit diubah. Mereka terlibat juga dalam kegiatan-kegiatan gereja dan kepanitiaan. Dalam musrenbangdes 10 orang muda perempuan dilibatkan. Waktu itu tidak ada agenda menyampaikan usul saran hanya agenda melaporkan hasil pembangunan fisik, penetapan pengurus BUMDES dengan perencanaan untuk penyusunan anggaran yang baru.
Untuk menyerap dana desa maka perlu dibentuk kelompok perempuan dengan mendorong pemberdayaan ekonomi membuat usaha kuliner, catering. Selama ini anggaran desa untuk perempuan ada pada pos anggaran PKK.
Kedepan usulan dari kelompok perempuan yakni penggunaan biogas. Karena biogas memberikan banyak manfaat untuk perempuan sebagai sumber energi alternatif untuk masak, penerangan, mengurangi beban kerja perempuan, menghemat biaya. Biogas dapat mengurangi beban kerja perempuan yang sering berhubungan dengan pengadaan bahan bakar untuk memasak, lebih efisien karena menghemat waktu dan tenaga. Selain itu, dengan biogas mengurangi bahan bakar yang bisa dialihkan ke kebutuhan lain dan mengurangi risiko polusi udara dalam dapur akibat pembakaran bahan bakar tradisional yang seringkali berdampak buruk bagi kesehatan perempuan. Biogas juga mengurangi kerusakan hutan dengan tidak lagi menebang pohon untuk kayu bakar.
Beberapa saat lalu pernah dipraktekkan di kantor desa pembuatan biogas yang disaksikan para perempuan, tokoh adat, tokoh agama sehingga mereka tahu kalau biogas sangat membantu perempuan dalam menyelesaikan pekerjaan di dapur.
Ia berharap kedepan penggunaan biogas tidak sebatas dipraktekkan di kantor desa tetapi bisa dipraktekan di rumah-rumah. Karena pembuatan bioagas ini tidak sulit diambil dari bahan-bahan yang ada di lingkungan rumah, kotoran hewan tetapi memberikan manfaat yang besar bagi perempuan.
Selama ini ia hanya mendengarkan biogas. Tetapi setelah CIS Timor dengan proyek We for Jet menjelaskannya sehingga ia mengerti manfaat, bahan yang dipakai untuk biogas. Kalau memakai tungku tradisional mengambil kayu dari hutan dan bisa merusak hutan. Kalau musim hujan kayu basah asap. Asap kalau dihirup menimbulkan penyakit, gangguan pernapasan. Menggunakan biogas dia lebih higeinis terus nyala apinya stabil seperti kompor. Menggunakan kayu api, harus dikipas terus, harus dijaga supaya api tidak padam. Menjaga supaya api tetap menyala membuang waktu yang sebenarnya bisa untuk mengerjakan hal lain.
Menyinggung ketersediaan sumberdaya untuk biogas, ia mengatakan di setiap rumah ada kandang sapi. Tergantung dari pemiliknya apakah ada kemauan untuk menggunakan biogas atau tidak. Jika ia berniat maka yang sudah berpengalaman bisa membantu yang penting orang tersebut menyiapkan semua bahan dan peralatan.
Lebih lanjut ia mengungkapkan yang jadi permasalahan perempuan di Nenas yakni kekerasan terhadap perempuan dengan berbagai faktor penyebab, terbatasnya ruang bagi perempuan untuk berekspresi. Di sini ruang perempuan berekspresi hanya di gereja sementara laki-laki keaktifannya di gereja sangat kecil.
Ia berharap ada pelatihan penguatan kapasitas bagi para perempuan bagaimana merespon kasus-kasus kekerasan yang menimpa perempuan sehingga tidak diselesaikan secara adat dan juga bagaimana supaya ada kesadaran dari laki-laki, para suami untuk tidak melakukan KDRT.
“Perempuan jadi Kepala Desa”
Desa Pene Utara, dihuni 101 Kepala Keluarga (KK) dimana pemenuhan kebutuhan air warga sehari-hari diambil dari kali yang berada tidak jauh dari rumah warga termasuk rumah Bapak Daniel Batmalo (59), fasilitator WE For JET yang dihubungi secara terpisah. Untuk penerangan warga sangat terbantu dengan penerangan tenaga surya karena listrik belum masuk sampai di desa tersebut.
Selain dilimpahi berkat alam yang sejuk Pene Utara kaya dengan asam, kelapa, kopra, jagung, padi, nenas. Komoditi ini juga menjadi penopang ekonomi keluarga di sana.
Opa dari dua orang cucu ini adalah seorang bapak yang giat dalam kegiatan gereja sebagai majelis gereja (presbiter) dan kegiatan-kegiatan di desa. Hal itu menjadi modal baginya dalam menggerakan perubahan di desa termasuk mendorong keterlibatan perempuan di ruang publik. Meski tidak mudah tetapi ia telah melakukannya dan terlihat ada perubahan-perubahan di Desa Pene Utara.
Dia mengaku sebelum CIS Timor masuk ke Desa Pene Utara, ia sudah mengurus BUMDES yang dilatih Wahana Visi Indonesia. WVI jua melatih tentang JET dan kesetaraan gender. Karena itu, saat ini ayah dari anak pertama yang menjadi sarjana matematika lulusan Universitas Nusa Cendana, anak kedua lulusan salah satu SMK dan anak ketiga sementara menempuh Pendidikan di SMK Kristen Niki-Niki ini termasuk salah satu fasilitator WE FOR JET di Desa Pene Utara yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan CIS TIMOR.
Pemilik hobby bernyanyi ini mengemukakan kehadiran berbagai lembaga di Desa Pene Utara membawa perubahan berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan dalam desa begitu juga dengan peran mereka masing-masing. “Kami merasa bahwa kehadiran lembaga-lembaga ini sesungguhnya membawa suatu perubahan yang sangat penting terkait dengan bagaimana peran laki-laki dan peran perempuan,” ujarnya sambal menguyah sirih pinangnya.
Budaya di Pene Utara katanya sudah tidak sesuai lagi dengan konteks zaman. Biasanya dalam pertemuan-pertemuan, baik di bidang pemerintah, bidang kerohanian, kemasyarakatan dan adat, yang tampil di depan itu bapak-bapak atau yang laki-laki. Sementara perempuan dianggap tidak mampu, tidak bisa, karena itu perempuan dinomorduakan dalam berbagai urusan di Desa Pene Utara.
Situasi menjadi berubah setelah ada pelatihan dari Cis Timor sebagai fasilitator di desa. Ia mensosialisasikan kepada masyarakat desa supaya masyarakat mengetahui sesungguhnya perempuan memiliki peran yang snagat penting dalam kehidupan baik di pemerintahan, msayarakat, gereja dan budaya atau adat istiadat. Bukan saja laki-laki yang berperan dan bisa melaksanakan berbagai hal tetapi perempuan juga bisa jika mendapatkan kesempatan.
Sejak tahun 2022 – 2023, sebagai fasilitator mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang gender, dimana peran gender yang bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan baik dari dalam rumah mengurus rumah tangga sampai di luar rumah mengurus banyak orang. Materi-materi yang didapatkannya saat pelatihan tersebut tidak menjadi konsumsi sendiri dan menjadi milik dirinya sendiri tetapi disosialisaiskan sampai ke akar rumput yakni masyarakat di lapisan terbawah.
Selain mensosialisasikan kepada masyarakat sampai lapisan paling bawah sebagai fasilitator ia juga terlibat dalam musyawarah desa dan menyuarakannya sehingga dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan di tingkat desa yang berpihak pada perempuan dan mendorong adanya regulasi yang tepat. Bagaimana membuat peraturan desa (perdes) yang melindungi perempuan. Berharap kedepan semua ini bisa diakomodir dan terlaksana.
Sosialisasi pentingnya kesetaraan gender disampaikan dalam berbagai forum di masyarakat sehingga mulai terlihat ada perubahan. Keterlibatan bapak-napak, laki-laki dalam mengurangi beban para istri, membantu para istri dalam kerja-kerja domestik seperti mengambil kayu bakar untuk memasak, mengambil air bersih untuk memasak, mandi, mencuci, mencuci pakaian, mencuci piring, membantu istri memasak. Bahkan membawa bayi ke posyandu. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini, sebelumnya tidak pernah dilakukan laki-laki di Desa Pene Utara. Ini adalah suatu perubahan yang luar biasa, jadi tidak sekedar bicara tetapi ada bukti nyata.
Menurut Bpk Danial, fasilitator di desa harus menjadi orang nomor satu dalam panutan atau memberikan contoh kepada masyarakat. Antara apa yang dibicarakan harus jatuh sama dengan apa yang dikerjakan. Jangan hanya cukup pada bersuara saja, tetapi tidak bisa melaksanakan. “Nah! bagaimana masyarakat ini mau belajar? Kami yang harus melakukannya lebih dulu, memberi contoh,” tegasnya.
Di Desa Pene Utara fasilitator desa berjumlah empat orang yakni dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Mereka bersepakat bapak-bapak yang terlibat dalam JET ini harus menjadi panutan dan pendahulu. “Kami laksanakan lebih dulu. Jadi kami membantu mama-mama untuk bisa menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam rumah tangga supaya mama-mama jangan kesulitan,” ungkapnya.
Dia menegaskan dari apa yang didapatkan saat pelatihan, dipahaminya yang membedakan laki-laki dan perempuan sesuatu yang kodrati yakni seks. Kodrati itu pemberian Tuhan tidak bisa diubah karena waktu, tempat, keadaan. Kodrati itu organ reproduksi yang berbeda, jenis kelamin yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Sementara peran-peran gender, pembagian kerja dalam rumah tangga bisa dilakukan semua orang baik laki-laki maupun perempaun. Peran gender itu bisa dipertukarkan dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain. “Jadi kami membantu mama-mama yang ada di rumah, kami kerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin selama ini hanya dilakukan oleh perempuan saja,” katanya.
Sedangkan di masyarakat, ia melihat ada perubahan pada perempuan. Banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan desa. Saat diberi kesempatan untuk bersuara, perempuan berani bersuara menyampaikan pendapat mereka, ide mereka kepada pemerintah desa.
Sejak tahun 2022 ujarnya perempuan-perempuan di Pene Utara direkrut untuk menjai Tim Perumus RPJMDES, RKPDES. Hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya di Desa Pene Utara. Begitupun di bidang budaya juga disepakati bersama pemerintah desa, akan melibatkan perempuan dalam kegiatan-kegiatan adat.
Selama ini hanya ada pemerintah, tokoh adat. Tetapi saat ini sudah ditambah satu lagi yakni tokoh perempuan. Tokoh perempuan harus mendapat penghargaan karena dari perempuanlah terlahir semua bangsa manusia, baik itu laki-laki dan perempuan.
Sejak tahun 2022, 2023, 2024 sampai 2025 kegiatan -kegiatan telah melibatkan perempuan. Biasanya kegiatan pertama hanya laki-laki, kegiatan selanjutnya melibatkan perempuan.
Merereka dilatih secara khusus untuk bisa mengenal siapa diri mereka sesungguhnya. Bukan saja tugas mereka di rumah tangga menyediakan makanan atau melahirkan anak. Tetapi perempuan juga ada dalam peran-peran kemasyarakatan. Jadi banyak perempuan yang semangat dan terlibat. Bahkan ada yang menawarkan diri agar kegiatan selanjutnya mereka diikusertakan.
Selanjutnya laki-laki kelahiran 15 Desember 1966 ini mengatakan di Pene Utara ada satu program namanya SKOPER (sekolah perempuan) dari DP3A dimana program ini masuk melalui gereja. Materi-materi yang diajarkan di SKOPER, sama seperti yang diajarkan CIS Timor yakni materi konsep gender. Para fasilitator diminta terlibat sebagai pengajar di SKOPER. “Termasuk saya sendiri diminta ibu pendeta membantu dua jemaat. Dua jemaat bagaimana memperdalam materi-materi yang ada kepada peserta. Memang ada tutor di sana yang disiapkan oleh gereja. Tetapi mereka meminta supaya kalau bisa fasilitator-fasilitator We For JET, CIS TIMOR membantu tutor yang ada memperdalam pemahaman kaitan dengan materi yang mereka ajarkan sekarang. Semua materi yang disampaikan sama persis dengan materi pada pelatihan We For JET. “Kami merasa bersyukur, peran kami ini tidak sia-sia. Tidak sia-sia bukan sekedar hanya mendapatkan ilmu terus diam di desa. Tetapi kami dilibatkan dalam banyak hal. Termasuk SKOPER sekarang ini sangat mengenal kami,” ucapnya.
Dirinya mendapatkan kesempatan mengajar di Jemaat GMIT, Emanuel Tomnanu, Jemaat MBSR Penetunan. Di dua jemaat tersebut dijadwalkan satu minggu dua kali mengajar yakni hari selasa dan kamis. Hari kamis membantu tutor di jemaat memperdalam materi yang diberikan.
Di desa ia dipercayakan masyarakat desa sebagai juru bicara (jubir) saat peminangan anak. Dengan nilai yang didapatkannya tentang kesetaraan gender, nilai tersebut ditransformasikan saat menjadi jubir untuk memberi penghargaan atau nilai pada perempuan di desa.
Saat pertemuan di Desa Pene Utara masyarakat menyepakati beberapa orang menjadi jubir termasuk dirinya. Jadi kalau ada proses peminangan dalam rangkaian perkawinan ia dan beberapa orang yang akan menjadi jubir.
Tugas jubir menyampaikan niat hati keluarga kepada keluarga yang satu. Jadi jubir bukan saja sekedar menyampaikan laki-laki dan perempuan akan menikah tetapi juga memberi kesadaran bahwa sangat penting peran seorang perempuan. Peran seorang perempuan di dalam kehidupan rumah tangga. Pada momentum peminangan tersebut jubir mentransformasikan nilai-nilai adil gender kepada keluarga dan undangan yang hadir.
Meski natoni dalam bahasa daerah saat menjadi jubir tetapi nilai-nilai adil gender diselipkan di dalamnya. Karena forum-forum tersebut sangat strategis untuk sosialisiasi nilai-nilai adil gender.
“Dua tantangan”
Menyinggung tantangan apa saja yang ditemuinya sebagai fasilitator We for JET, Daniel mengakui memang setiap kegiatan itu tidak semuanya berjalan mulus. Apalagi ini menyangkut hal baru di desa. Mendobrak budaya yang mengutamakan laki-laki sudah berlangsung sangat lama dan berurat akar dalam masyarakat bukan perkara mudah. Menyadarkan masyarakat tentang budaya yang mengutamakan laki-laki dimana semua hal diurus laki-laki, laki-laki yang harus berada di depan sebagai sebuah tantangan tersendiri.
Strategi untuk membuka wawasan dan sudut pandang mereka dengan memilah antara perempuan dan laki-laki dalam pelatihan. Pertama yang mengikuti kegiatan hanya kelompok laki-laki. Pada saat itu membentuk kesadaran mereka perbedaan laki-laki dan perempuan hanya pada jenis kelamin sesuatu yang kodrati, memperkenalkan konsep gender. Dengan strategi seperti itu terbangun kesadaran pada laki-laki bahwa bukan mereka saja yang harus diutamakan dalam kehidupan, perempuan juga perlu mendapat kesempatan yang sama.
Tantangan kedua datangnya dari perempuan. Karena telah menjadi kebiasaan ada juga perempuan yang mapan dan nyaman dengan situasinya saat ini sehingga menolak perubahan.
Ada anggapan pada mereka bahwa selama ini yang dipilih dan dipercayakan menjadi pemimpin di gereja seperti majelis gereja, mengikuti rapat di desa adalah bapak mereka. Mereka merasa tak pantas dan tak mampu melakukan hal tersebut dan enggan hadir pada kegiatan-kegiatan desa meski diundang. Jadi mereka tetap masih mengutamakan laki-laki dalam pengambilan keputusan. Hal tersebut bisa dimaklumi karena sudah menjadi kebiasaan.
Dua hal tersebut yang menjadi tantangan. Tantangan dari laki-laki yang masih status quo (keadaan yang ada) dengan pandangannya mengutamakan laki-laki dalam peran-peran di masyarakat dan menomorduakan perempuan dan juga tantangan dari perempuan sendiri yang merasa tidak mempunyai kemampuan karena selama ini laki-laki yang dipercayakan masyarakat. Tantangan dari para perempuan yakni perempuan belum mau menerima perubahan yang sebenarnya akan memberikan keadilan bagi dirinya dalam peran-peran domestik maupun publik.
Dua tantangan tersebut mendorong pihaknya bekerja ektra. Strategi yang dilakukan masuk melalui SKOPER. Di SKOPER dibangun kepercayaan diri mereka sehingga para perempuan bisa percaya diri dan sadar mereka mempunyai kemampuan dalam diri sehingga bisa berperan tidak saja dalam rumah tangga tetapi juga di masyarakat.
Strategi mengatasi tantangan tersebut pertama yakni melibatkan perempuan melalui SKOPER. Keterlibatan para fasilitator We for JET sebagai pengajar di SKOPER merupakan hadiah sehingga mereka bisa mengintervensi lebih besar dan banyak lagi untuk kemajuan perempuan di Desa Pene Utara.
Yang kedua, setiap kegiatan di desa mereka mengusulkan perempuan diundang 75% dari kaum laki-laki. “Hal ini sudah kami komunikasikan dengan pemerintah desa. Jadi undangan kami usahakan supaya perempuan itu lebih banyak. Nah ini kan secara halus, artinya diberi surat undangan. Karena ada surat undangan, jelas dia akan hadir,” ungkapnya sembari menambahkan pada tahun 2024 dan 2025 ada perubahan dimana keterlibatan perempuan mulai nampak.
Menjawab apakah ada keterlibatan perempuan dalam struktur-struktur desa, gereja, atau kelompok-kelompok lainnya di desa? ia menjelaskan saat pemilihan Majelis Jemaat di gereja periode 2023-2028, dirinya menjadi ketua panitia. Di dua jemaat perempuan yang direkrut dalam posisi presbiter, dalam hal ini penatua, diaken jumlah perempuan itu lebih banyak dari laki-laki. Perempuan juga harus diberi kesempatan menjadi presbiter, penatua dan diaken. “Karena jauh sebelumnya kami sosialisasi. Sebagai ketua panitia kami sosialisasi supaya jangan sampai semua presbiter laki-laki. Kalau ada mama-mama, nona-nona yang bisa kita pilih sebagai majelis jemaat dalam peran sebagai penatua dan diaken sebaiknya kita libatkan. Hasilnya dua jemaat yang ada di Pene Utara, banyak perempuan yang terlibat dalam posisi kemajelisan,” paparnya.
Kalau untuk struktur desa, menurutnya, memang untuk sementara kaur, dusun, semua laki-laki. Tetapi di dalam tim perumus RPJMD, ada perempuan yang dilibatkan. “Ada perempuan yang kami libatkan sebagai tim perumus RPJMD. Untuk bisa mengatur program-program yang dijalankan 2024-2025 sekarang,” ungkapnya.
Daniel mengemukakan perlu dilihat ke belakang untuk mengevaluasi. Waktu sebelum program masuk seperti apa kondisi perempuan di Pene Utara dan sesudah program ini masuk seperti apa. Sebelumnya perempuan tidak percaya diri saat berbicara di depan banyak orang tetapi setelah program ini masuk, perempuan semakin percaya diri, banyak perempuan, mama-mama terlibat dalam berbagai kegiatan di desa, meski tidak 100 persen semua perempuan terlibat. “Itu adalah perubahan yang sekarang kami alami. Walaupun memang tidak 100%, tetapi tadi saya sampaikan masih ada kendala-kendala, hambatan-hambatan. Tetapi sedikit demi sedikit ada perubahan sekarang,” tuturnya.
Perubahan-perubahan tersebut terlihat dalam keterlibatan perempuan di desa, gereja, urusan adat, bidang Pendidikan. Beberapa perempuan terlibat menjadi anggota Komite SDGs Pene Utara. Potensi-potensi dalam diri perempuan akan keluar jika mereka mendapatkan kesempatan.
Harapannya sebagai fasilitator melalui program We for JET membuat kegiatan yang berkelanjutan, bekerjasama dengan semua pihak, lembaga-lembaga yang ada di desa dengan melibatkan perempuan supaya mereka bisa menjadi pemimpin seperti wakil ketua majelis jemaat, kepala desa, tidak hanya fokus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik keperawatan seperti mengurus anak, memasak, mencuci dan urusan rumah tangga lainnya. Kedepan bisa saja perempuan menjadi Kepala Desa Pene Utara.
Untuk mencapai hal tersebut pintu masuknya melalui SKOPER. Di SKOPER, para perempuan mendapatkan pendidikan sehingga mereka mengenail diri mereka dan potensi-potensi dalam diri mereka. “Kami masuk melalui SKOPER. Kita didik mereka dulu, supaya mereka tahu siapa mereka sebenarnya. Supaya mereka tidak pasif. Itu mimpi kami,” katanya.
Dia berharap para perempuan Desa Pene Utara terlibat dalam Badan Permusywaratan Desa (BPD). Dalam pertemuan musrenbangdes para perempuan mengusulkan agar bisa menyerap dana yang masuk di desa untuk mendukung pemberdayan dan kesejahteraan perempuan maka dibentuk kelompok perempuan.
Menindaklanjuti usulan tersebut telah dibentuk dua kelompok perempuan di jemaat yakni Jemaat Betlehem dan Jemaat Ebenhaezar. Sementara dari desa ada kelompok yang disupport dari dana PKK membuat dapur hijau.
Selain itu, dianggarakan dana mendukung kegiatan tenun ikat, kuliner, pengelolaan berbagai keripik pisang. Ada juga pengeloaan anggur dari nenas dan pisang.
Dari dana desa dialokasikan anggaran dengan pos pemberdayaan masyarakat mendukung usaha tenun ikat, pengelolaan aneka keripik pisang dan anggur pisang dan nenas serta kelompok ternak ayam super organik. Sedangkan pos dana PKK membiayai dapur hijau.
Menurut dia, selama ini hanya anggapan laki-laki saja perempuan tidak mampu. Tetapi ketika mereka mendapatkan ruang dan kesempatan mereka menjadi percaya diri, aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan di desa.
Kemampuan mereka muncul ke permukaan karena mendapatkan kesempatan. Meski mereka bicara dalam bahasa Indonesia yang tidak sempurna tetapi mereka berani menyampaikannya. “Ternyata kami punya istri-istri, kami punya mama-mama desa mampu. Tapi karena selama ini kami menomorduakan mereka. Ketika mereka ngomong di forum mampu. Ternyata mereka berani. Bisa bersuara. Walaupun memang bahasa Indonesia jatuh bangun,” ungkapnya dengan bangga mengakhiri percakapannya.(*)



