Suasana penuh semangat memenuhi balai pertemuan ketika puluhan perempuan dari tiga desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) berkumpul untuk mengikuti Pengukuhan Sekolah Perempuan (SEKOPER) pada 6 November 2025. Kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi pemberdayaan perempuan di wilayah ini, yang selama ini dikenal menghadapi tantangan besar dalam isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, dan pembacaan Surat Keputusan (SK) pengukuhan fasilitator dan anggota Sekolah Perempuan dari masing-masing desa. Melalui SK tersebut, SEKOPER kini resmi berdiri secara legal, siap menjadi ruang belajar dan perubahan bagi perempuan di desa.
Komitmen Bersama untuk Perubahan
Dalam sambutannya, Buce Ga, Manajer Program We Nexus dari Yayasan CIS Timor, menyampaikan rasa bangga karena akhirnya Sekolah Perempuan di tiga desa tersebut dapat dikukuhkan setelah sempat mengalami penundaan. Ia menegaskan bahwa kehadiran tiga SEKOPER baru ini menjadikan total Sekolah Perempuan di TTS mencapai 49 sekolah, sebuah pencapaian yang luar biasa.
Buce juga menekankan bahwa proses pembelajaran di SEKOPER merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen. Dengan target 48 kali pertemuan hingga April 2026, ia mengajak para fasilitator dan peserta untuk dapat berkomitmen mengikuti seluruh pertemuan sehingga target wisuda pada November 2026 dapat tercapai.
Buce juga menambahkan bahwa meskipun pendampingan dari Yayasan CIS Timor hanya berlangsung hingga April 2026, fasilitator desa yang telah dilatih akan tetap menjadi motor penggerak. “Sekolah ini milik mama-mama sendiri. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan dari luar. Yang ada adalah kemauan untuk berubah dan menjadi lebih berdaya,” ungkap Buce.
Perempuan Berdaya untuk Menghadapi Tantangan Sosial
Sementara itu, Ardi Benu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten TTS, menyoroti pentingnya kehadiran Sekolah Perempuan. Ia mengungkapkan bahwa TTS masih berada di posisi kedua tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, salah satu penyebab tingginya angka kekerasan adalah budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi sulit untuk bersuara. Banyak perempuan tidak menyadari bahwa mereka mengalami kekerasan, sehingga program pendidikan seperti SEKOPER sangat penting untuk membuka pemahaman baru pada mereka.
“Sekolah Perempuan bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menumbuhkan perubahan perilaku. Ujiannya bukan di ruang kelas, tetapi ketika mama-mama pulang dan menerapkan apa yang dipelajari dalam keluarga dan komunitas,” ujarnya.
Ardi menegaskan bahwa pemerintah sedang merancang Peraturan Daerah tentang Pemberdayaan Perempuan, yang kelak menjadi payung hukum bagi keberlanjutan program seperti SEKOPER.
Harapan dari Pemerintah Kecamatan
Dominggus Eduar Boimau, Camat Kolbano, dalam sambutannya turut memberikan dukungan penuh terhadap keberadaan SEKOPER. Ia menegaskan bahwa perempuan yang memilih untuk bergabung dalam sekolah ini bukan datang untuk ‘mencari kepintaran’, tetapi untuk menambah pemahaman, membuka wawasan, dan mempersiapkan perubahan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Dominggus mengingatkan pentingnya komitmen dan konsistensi untuk mengikuti SEKOPER. “Kalau hari ini 25 orang mendaftar, jangan nanti saat wisuda tinggal 10 orang. Ilmu yang didapat harus dibawa pulang, dibagikan, dan digunakan untuk memberdayakan sesame,” ungkapnya.
Langkah Baru, Harapan Baru
Pengukuhan Sekolah Perempuan di tiga desa ini bukan sekadar seremoni, ia merupakan simbol dari harapan baru, tempat perempuan dapat belajar, bertanya, berbagi pengalaman, dan menemukan kembali suara mereka.
Dengan dukungan CIS Timor, Dinas P3A, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan fasilitator desa, SEKOPER menjadi ruang yang memungkinkan perempuan untuk memahami hak-hak dasar mereka, membangun keberanian mereka untuk bersuara, memperkuat peran mereka dalam pembangunan desa dan ekonomi keluarga, serta menciptakan lingkungan yang aman serta setara. Pengukuhan SEKOPER ini menandai dimulainya perjalanan panjang perempuan-perempuan TTS menuju Perdamaian Berkelanjutan.



