SEKOLAH LAPANG IKLIM OPERASIONAL INKLUSI “Sekolah Lapang Iklim Untuk Membangun Ketangguhan Petani Desa Di Kecamatan Fatuleu Barat” (PAR IV CORRECT)

Tuakau, Fatuleu Barat – Dalam upaya meningkatkan kapasitas petani menghadapi tantangan perubahan iklim, kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional Inklusi resmi dibuka di Desa Tuakau, Kecamatan Fatuleu Barat. Kegiatan ini mengusung tema “Sekolah Lapang Iklim untuk Membangun Ketangguhan Petani” dan menjadi wadah pembelajaran bagi masyarakat dalam memahami serta beradaptasi dengan perubahan kondisi iklim yang kian memengaruhi sektor pertanian.

Pembukaan kegiatan dihadiri oleh berbagai pihak strategis, di antaranya perwakilan Dinas Pertanian dna Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, Camat Fatuleu Barat, BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, BPBD Kabupaten Kupang, CIS Timor, Catholic Relief Services (CRS), pemerintah desa, kelompok tani, serta masyarakat Desa Tuakau. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan dan penguatan kapasitas petani di level desa.

Para peserta dari Desa Tuakau, Naitae, dan Nuataus mengikuti sesi pembelajaran awal mengenai pengenalan unsur cuaca dan iklim oleh Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang
Para peserta dari Desa Tuakau, Naitae, dan Nuataus mengikuti sesi pembelajaran awal mengenai pengenalan unsur cuaca dan iklim oleh Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang

“Ilmu dan pengetahuan yang ditanam hari ini akan tumbuh bersama tanaman yang memberikan panen berlipat bagi masyarakat yang mampu membaca langit dan mengelola bumi.”

Sebagai simbol resminya dimulai kegiatan, para tamu undangan bersama masyarakat melakukan penanaman jagung secara simbolis. Momen ini menjadi lambang harapan agar setiap pengetahuan yang diserap selama SLI dapat tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi ketangguhan pertanian masyarakat.

 

 

Penanaman jagung secara simbolis oleh para tamu undangan sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan SLI di Desa Tuakau.

10 Pertemuan, Ribuan Manfaat

Masyarakat dari tiga Desa Tuakau, Naitae, dan Nuataus berperan aktif sebagai peserta Sekolah Lapang Iklim. Mereka mengikuti proses pembelajaran intensif selama 10 pertemuan, masing-masing diadakan setiap dasarian (10 hari sekali). Program ini dirancang secara menyeluruh agar petani tidak hanya memahami iklim secara teori, tetapi mampu menerapkannya langsung di lahan mereka.

Materi Pembelajaran SLI:

  • Pengenalan unsur cuaca dan iklim serta dinamikanya
  • Pemanfaatan informasi prakiraan musim dari BMKG
  • Strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di lahan pertanian
  • Pengelolaan risiko bencana dan kesiapsiagaan petani
  • Teknik budidaya pertanian yang efektif, efisien, dan berkelanjutan
  • Pengelolaan pascapanen berbasis informasi iklim
Perwakilan dari BMKG, Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Camat Fatuleu Barat dan CRS bersama peserta Sekolah Lapang Iklim.

Belajar dari Lapangan, Bukan Hanya dari Kelas

Melalui metode learning by doing, para peserta tidak hanya menerima materi dari narasumber, tetapi juga diajak berdiskusi, berbagi pengalaman, dan secara kolektif mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam kegiatan pertanian sehari-hari. Pendekatan partisipatif ini menjadi kekuatan utama SLI dalam menghasilkan pemahaman yang mengakar dan mudah diterapkan.

Petani peserta SLI melakukan praktik lapangan untuk memahami strategi adaptasi pertanian menghadapi perubahan iklim.

Dengan meningkatnya literasi iklim di kalangan petani, informasi prakiraan cuaca dan musim dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan mulai dari penentuan waktu tanam, pemilihan komoditas yang tepat, pengelolaan irigasi, hingga perencanaan pasca panen. Semua ini bermuara pada satu tujuan yakni meminimalkan kerugian dan memaksimalkan hasil dari setiap jengkal lahan pertanian.

Sesi diskusi kelompok antara peserta dan narasumber dalam berbagi pengalaman serta mengidentifikasi tantangan pertanian.

Sekolah Lapang Iklim Operasional Inklusi di Desa Tuakau merupakan bagian dari program PAR IV–CORRECT yang diinisiasi oleh CIS Timor bersama Catholic Relief Services (CRS). Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan oleh petani di Nusa Tenggara Timur.

Peserta didik SLI sedang menerima penyampaian materi dari Fasilitator Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang

Melalui kegiatan ini , 30 peserta SLI dari 3 desa, (Tuakau, Nuataus, Naitae) akan menjadi orang -orang kunci di desa yang yang akan terkoneksi langsung dengan BMKG dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang dalam penyebaran informasi tentang iklim dan kegiatan usaha tani yang adaptif,berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan perubahan iklim di masa depan sebagai sebuah transformasi dari ketergantungan menuju kemandirian yang sesungguhnya.

Diskusi Persiapan Pertemuan SLI Kedua dan Induksi GESI bersama Dinas Pertanian Kabupaten Kupang beserta Tim Kerja Penyuluh Pertanian dan Tim BMKG Stasiun Klimatologi Kupang

Penulis (Alyn Woli & Alain Verson)

Share your love
Avatar photo
Alain Oematan
Articles: 41