1 CIS TIMOR “Jadi Inspirasi untuk Perubahan” Jadi Relawan, Jadi Inspirasi

CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cistimor@gmail.com

Edisi I Edisi LXXIV Rekonsiliasi di Timor Timur
Edisi II 2
Edisi III 3
Edisi IV   4
Edisi V 5
Edisi VI TNI dan Pengungsi "HABIS MANIS SEPAH DIBUANG" 6
Edisi VII Rekonsiliasi Hati 7
Edisi VIII 8
Edisi IX Resetlement (Pemukiman Kembali) "Antara ada dan Tiada" 9
Edisi X Kamp Noelbaki, Riwayatmu Kini..!! 10
Edisi XI   11
Edisi XII 20 Mei, Apakah Tanggal Itu Berarti...?? 12
Edisi XIII LSM di Kamp Pengungsi "Beri Ikan atau Pancing" 13
Edisi XIV Resettlement "Sampai Dimana Ceritanya...??? 14
Edisi XV Semangat Belajar "Dian yang Tak Kunjung Padam" 15
Edisi XVI Kebunku Nafas Hidupku 16
Edisi XVII Suara HAti sang "Labarik" 17
Edisi XVIII HUT RI dan Nasib Pengungsi "Merah Putih di Sudut Kamp Pengungsi" 18
Edisi XIX Pemerintah RTDL "Perahu Kecil di Tengah Badai" 19
Edisi XX 31 Agustus, Biti Bot dan Orang Lokal yang Resah 20
Edisi XXI Ketika Kita HArus Memilih. . .! ! 20
Edisi XXII Relokasi Rekonsiliasi 20
Edisi XXIII Bagaiman Dengan yang Tinggal? 20
Edisi XXIV Ketika Orang Tuapukan Menuntut Ganti Rugi 20
Edisi XXV Mencari Kambing Hitam di Hutan Wemer 20
Edisi XXVI Repatriasi : Kenapa Dibuka Lagi? 20
Edisi XXVII Kabar dari Lolukalay 20
Edisi XXVIII Registrasi Lagi 20
Edisi XXIX Didalam Data, Diluar Bongkar 20
Edisi XXX Relokasi, Sampai dimana Ceritanya? 20
Edisi XXXI Uang Jepang, Dinkes dan Kimpraswil 20
Edisi XXXII Mari Ciptakan Kedamaian 20
Edisi XXXIII Relokasi dan Pelaksanaannya 20
Edisi XXXIV Pemilu di Kamp..?? 20
Edisi XXXV Titipan Harapan dari Derok Aitos 20
Edisi XXXVI Bagaimana Setelah Lahan Didapat??? 20
Edisi XXXVII Lahan Bagi Masa Depan Keluarga 20
Edisi XXXVIII Berusaha ditengah Keterbatasan 20
Edisi XXXIX Pemukiman Lokal, Apa Kabarmu...? 20
Edisi XL Pemukiman Mandiri, Apa Sikap Kita? 20
Edisi XLI BBR Datang Lagi....!!! 20
Edisi XLII Kabar dari Pulau Sumba 20
Edisi XLIII Mereka yang Terlupakan 20
Edisi XLIV Kami Butuh Pemukiman 20
Edisi XLV Buah dari Ketekunan 20
Edisi XLVI Bukti Sebuah Kemandirian 20
Edisi XLVII Apa Dukungan Kita Bagi Mereka 20
Edisi XLVIII 20
Edisi XLIX Negosiasi Lahan 20
Edisi L 20
Edisi LI 20
Edisi LII 20
Edisi LIII 20
Edisi LIV 20
Edisi LV 20
Edisi LVI 20
Edisi LVII 20
Edisi LVIII   20
Edisi LIX   20
Edisi LX   20
Edisi LXI   20
Edisi LXII   20
Edisi LXIII   20
Edisi LXIV   20
Edisi LXV   20
Edisi LXVI   20
Edisi LXVII   20
Edisi LXVIII   20
Edisi LXIX   20
Edisi LXX   20
Edisi LXXI   20
Edisi LXXII   20
Edisi LXXIII   20
Edisi LXXIV   20
Edisi LXXV   20
Edisi LXXVI   20
Edisi LXXVII   20
Edisi LXXVIII   20
Edisi LXXIX   20
Edisi LXXX   20
Edisi LXXXI   20
Edisi LXXXII   20
Edisi LXXXIII   20
Edisi LXXXIV   20
Edisi LXXXV   20
Edisi LXXXVI   20
Edisi LXXXVII   20
Edisi LXXXVIII   20
Edisi LXXIX   20
Edisi XC   20
Edisi XCI   20
Edisi XCII   20
Edisi XCIII   20
Edisi XCIV   20
Edisi XCV   20
Edisi XCVI   20
Edisi XCVII   20
Edisi XCVIII   20
Edisi XCIX   20
Edisi C   20
. : : "Relawan Posyandu" Oesapa Bacarita : : .

Oleh : Olkes Dadi Lado

 

***

 

“19 & 20 Juli 2010, pukul 15.00 WITA. Menjadi hari yang penting bagi Kader Posyandu se-Oesapa. Pada hari2 itu, apa yang tersimpan dalam hati, yang selama ini hanya menjadi "cerita2 pojok" akan disampaikan langsung kepada semua. Aula kelurahan menjadi saksi. Impian mereka tentang oesapa yang sehat, setara & damai menjadi...... impian semua. Mari, datang dan bertindak!” . Ini bunyi pesan pada dinding akun Facebook saya. Ia diposting oleh Alfred Djami, salah seorang teman. Saya menyukai postingan ini dan sedikit berminat untuk menghadirinya.

 

Sekitar jam lima sore saya sudah memasuki halaman kantor lurah Oesapa. Belasan sepeda motor diparkir tak beraturan di halaman kantor kelurahan. Sepi tak seorangpun di sana. Suasana berbeda justeru ada di aula pertemuannya. Seorang ibu berbaju biru, sedang berbicara menggunakan mic di depan 46 orang warga yang memenuhi hampir seluruh aula pertemuan. Pak Lurah Oesapa, Ebed Jusuf, S.Pt duduk di depan tekun menyimak cerita ibu itu, sesekali ia mencatat.

 

Ibu berbaju biru itu biasa dipanggil mama Oga, seorang kader Posyandu, saya lebih suka menyebutnya relawan Posyandu. Pertemuan yang dinamakan diskusi kampung itu sudah berlangsung sejak jam empat sore. Mama Oga mewakili 51 kawannya menceritakan suka duka bekerja sebagai relawan posyandu.

 

Diskusi kampung ini dirancang secara sengaja oleh Ma Ros dan teman-temannya. Ma Ros bernama lengkap Roswita Djaro. Ia koordinator project Oesapa Setara, Oesapa Nyaman atau OSON. Ini project yang dikerjakan oleh CIS Timor, sebuah organisasi relawan di Timor Barat. Project ini bertujuan mempromosikan hidup setara di kelurahan Oesapa lewat kegiatan Posyandu. Tak bisa dipungkiri selama ini jika mendengar kata Posyandu, yang terlintas dalam kepala kebanyakan dari kita adalah Posyandu itu ya identik dengan ibu-ibu atau perempuan dan anak-anak. Kaum lelaki terutama bapak-bapak dan pemuda sangat jarang terlibat bahkan bisa dihitung dengan jari tangan.

 

Cerita mama Oga ditampilkan lewat proyektor LCD. Ceritanya dibikin sistematis menggunakan Power Point sehingga sangat membantunya. Ini kali pertama ia tampil di depan forum resmi ditingkat kelurahan. Dalam diskusi kampung ini, yang menjadi nara sumber adalah mama Oga dan kawan-kawan sesama relawan posyandu.

 

Mama Oga menceritakan keprihatinannya soal kurangnya perhatian warga dan pemerintah akan posyandu terutama kaum lelaki yang menganggap urusan posyandu adalah urusan para ibu atau urusan perempuan, Dalam hati kecil, saya ikut merasa bersalah karena saya juga termasuk dalam golongan yang kurang peduli itu.

 

Menurutnya, posyandu sebenarnya bisa menjadi alat yang tepat untuk menghadirkan keluarga yang sehat terutama anak-anak dan ibunya asalkan semua pihak mau mendukungnya. Berdasarkan data yang ada pada mereka jumlah balita gizi buruk di kelurahan Oesapa mencapai 35 orang, “Ini menurut standar yang dikeluarkan oleh WHO,” kata Mama Oga.

 

Hati saya miris mendengar informasi ini, kelurahan Oesapa adalah wilayah kota, mayoritas warganya berpendidikan baik umumnya mereka tamat SMA. Tapi mengapa begitu banyak balita yang berstatus gizi buruk? Apakah karena orang tuanya tak paham? Saya kira tidak. Ataukah karena kemiskinan? Mungkin iya mungkin tidak. Lalu apa? Pertanyaan ini terus berkecamuk dalam kepala saya.

 

Dalam ceritanya, mama Oga juga mengeluhkan semakin berkurangnya minat warga untuk mau terlibat secara sukarela mengurus posyandu di lingkungannya. Banyak yang ketika diminta menjadi kader posyandu, “Dorang tanya, ada uang ko sonde?” tuturnya. Soal ongkos pelaksanaan posyandu ini menjadi salah satu sisi yang diceritakannya. Menurutnya berdasarkan anggaran yang ada jika dibagi ke semua pos dan kader yang ada, dalam sebulan untuk operasional para kader atau relawan posyandu ini, mereka hanya dibekali dengan 16 ribu rupiah.

 

Saat ini di Keluarahan Oesapa terdapat 10 posyandu yang melayani 2.128 bayi dan balita. Jumlah relawan posyandu sebanyak 51 orang. 10 posyandu itu belum satupun yang memiliki gedung khusus. Mereka masih meminjam halaman warga atau beranda rumah warga. Begitu juga dengan fasilitas lainnya seperti kursi dan meja. Timbangan bayi[un belum dimiliki semua pos, sehingga sesama pos masih harus saling meminjam. Beruntung jadwal posyandunya tidak sama.

 

Mama Jeni Adu Ga, teman mama Oga mengatakan jangan menganggap pekerjaan mereka di posyandu hanya sebatas menimbang dan mencatat berat badan bayi dan balita. “Katong ju harus bikin laporan, trus kalo ada mama-mama yang sonde datang, katong pi dia pung rumah, tanya dia atau lihat dia jangan sampe ada sakit ko apa bagitu. Jadi kerja lumayan banyak,” katanya. Bahkan di beberapa posyandu sudah membuka layanan khusu untuk lansia dan wanita usia subur. Tak hanya itu, psoyandu sering dimanfaatkan untuk memberikan penyuluhan tentang PMS dan HIV-AIDS bagi para remaja usia subur, juga jadi ajang untuk promosi dan penyadaran kesetaraan jender.

 

Mama Oga dan kawan-kawannya berharap lewat diskusi kampung ini, akan ada laki-laki yang tertarik untuk ikut menjadi relawan psoyandu dan terutama semakin banyak orang yang peduli terhadap posyandu.

 

Hampir setengah dari peserta diskusi sore itu adalah para lelaki. Mereka bersemanhgat memberikan pendapat ketika diberi kesempatan. Macam-macam tanggapan mereka. Ada yang langsung memberikan usulan nyata untuk dilakukan penggalangan sumbangan sukarela warga. Ada juga yang menyampaikan penyesalan meraka karena selama ini kurang peduli terhadap masalah ini dan berjanji untuk menjadi relawan posyandu.

 

Tapi ada yang juga terang-terangan menyampaikan kekesalannya karena pemerintah tak memperhatikan kesejahteraan para relawan posyandu serta menyiapkan fasilitas pendukung posyandu sehingga ia mengusulkan untuk posyandu juga menjadi agenda dalam setiap rapat di tingkat kelurahan, “Karena selama ini posyandu ini sonde pernah disinggung dalam rapat di kelurahan,” kata bapak Darius Kohe, ketua RT 39.

 

Satu kesamaan dari pendapat para bapak-bapak atau suami-suami ini adalah ada tekad untuk memberikan dukungan, minimal tenaga mereka saat kegiatan psoyandu berlangsung dilingkungan mereka. Sore itu saya pulang dengan tekad yang sama, pada tanggal lima setiap bulan saya harus menyempatkan diri membawa Terra Anatha, si Malaikat Kecil kami ke posyandu.

 

-------------------------------

 

 

. : : Hak yang Hampir Terlupakan : : .

Sepotong cerita dibalik proses repatriasi mandiri akhir 2009 – akhir 2010)

 

Sejak akhir 2005 ketika program repatriasi ditutup oleh pemerintah dan badan UN (UNHCR dan IOM). Bisa dikatakan hampir tak ada eks pengungsi Timor Timur yang bermukim di Timor Barat ini berminat untuk pulang. Sejak 1999 hingga 2005, berdasarkan rekapitulasi data pemerintah lebih dari 18.600-an keluarga atau lebih dari 55 ribu jiwa pengungsi telah kembali ke tanah kelahiran mereka melalui program repatriasi.

 

Minat untuk kembali ke tanah kelahiran ini mulai menurun seiring waktu terutama sejak 2005 hingga 2009. Namun pada akhir 2009, pada bulan Desember, sekelompok kecil keluarga dari komunitas pengungsi di kamp Naibonat – Kupang meminta untuk kami memfasilitasi mencari jalan keluar bagi 5 keluarga yang hendak kembali ke Timor Leste.

 

Proses pemulangan secara sukarela dan mandiri awalnya cukup sulit bagi kami, karena secara resmi program ini sudah tidak berjalan lagi, pada sisi lain kemampuan dana kami sangat terbatas. Akan tetapi repatriasi atau pulang kembali ke daerah asal adalah hak pengungsi yang harus dipenuhi maka kami berprinsip bahwa kendala dana maupun daya tak bisa dijadikan alas an untuk tidak melayani hak para pengungsi ini. Karena itu dengan segala keterbatasan, CIS Timor berusaha untuk memfasilitasi proses pemulangan ini. Sumber dananya macam, ada yang menyumbang secara pribadi, ada juga sumbangan dari organisasi, selain itu kami juga mengajukan proposal untuk mendapatkan dukungan transportasi kepada TNI dan dukungan biaya untuk konsumsi dan perawatan kesehatan kepada pemerintah provinsi NTT. Karena proses yang panjang itu, kami baru bisa memulangkan ke-lima keluarga (12 jiwa) ini pada Juni 2010 kembali ke kampong kelahiran mereka di Dillor-Viqueque-Timor Leste.

 

Salah satu faktor yang menyebabkan kegiatan ini berhasil adalah dukungan penuh dari pihak Timor Leste terutama jaringan CIS Timor di sana yang membentuk Grupu Serviso Fila Hikas Ba Knua” atau “Working group to Repatriation”, mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang kami lakukan di Timor Barat. Mereka juga melakukan lobi kepada pemerintah Timor Leste untuk mendukung proses ini. CIS Timor dan FPPA bertanggungjawab memfasilitasi proses hingga ke perbatasan dan ”Working Group for Repatriation” bertanggungjawab memfasilitasi proses pemulangan dari perbatasan hingga ke kampung asal pengungsi.

 

Dari pengalaman, terdapat 4 (empat) alasan yang membuat warga eks tim-tim ingin kembali ke tanah kelahiran mereka antara lain :

  1. Persoalan ekonomi yang mendesak ( mereka tidak mempunyai lahan garapan yang luas untuk pemenuhan kebutuhan keluarga yang dari tahun ke tahun makin bertambah)

  2. Lahan tinggal mereka khususnya di kamp yang kini sudah mulai di ambil kembali oleh warga local pemilik lahan

  3. Makin membaiknya situasi dan kondisi di daerah timor leste ( selama ini mereka sering keluar masuk baik illegal maupun legal untuk kunjung keluarga sekaligus melihat kondisi di timor leste)

  4. Mereka rindu akan kampung halaman

Saat ini kami sedang memfasilitasi proses pemulangan 28 keluarga atau 81 jiwa dari kecamatan Kobalima-Belu ke Timor , secara umum proses fasilitasi yang menjadi tanggungjawab CIS Timor sudah final, pengungsi sudah siap diberangkatkan tetapi rencana pemulangan ke-28 keluarga ini masih tertunda karena kesulitan budget pada teman-teman di Timor Leste, terutama untuk biaya transportasi dari perbatasan ke desa asal dan bekal hidup sementara selama sebulan bagi mereka yang kembali.


Hingga saat ini ke-28 keluarga ini masih terus menanti, mereka berharap bisa merayakan natal di kampung kelahiran mereka di Timor Leste bersama keluarga besar mereka.


Sejak Desember 2009, minat pengungsi untuk kembali ke Timor Leste terus meningkat sekalipun tak drastis namun trennya terus naik, hingga jelang akhir tahun ini tercatat sudah 60 keluarga yang difasilitasi untuk pulang ke Timor Leste. Bahkan hingga minggu lalu, masih ada komunitas eks pengungsi yang meminta kami untuk membantu memfasilitasi mereka pulang ke Timor Leste, tetapi kami belum berani menindaklanjuti permintaan mereka karena masih ada 28 keluarga yang kami fasilitasi saat ini belum berhasil pulang, sebab lainnya adalah kemampuan keuangan kami yang sangat terbatas, hal yang sama juga dialami oleh kawan-kawan di Timor Leste, karena itu kami bermimpi akan ada pihak lain entah itu pemerintah Indonesia atau Timor Leste atau badan-badan UN dan Internasional yang ikut mendukung proses ini, terutama dukungan keuangan dan kebijakan.


Sehingga impian 28 keluarga eks pengungsi dan keluarga-keluarga eks pengungsi lainnya untuk merayakan natal di kampung kelahirannya dan berkumpul kembali dengan keluarga besarnya di sana bisa menjadi nyata.


Impian untuk pulang kembali ke kampung halaman memang kuat itu di wujudkan dari 28 keluarga , pada tanggal 23 desember 2010 kami memulangkan 1 keluarga 5 jiwa dari Desa Manleten Kecematan Tasifeto Timur Kabupaten Belu ke Distric Bobonaro suku Weleu, dan pada tanggal 14 Januari 2011 kami memulangkan lagi 2 kepala keluarga, 5 jiwa dari Sukabitetek desa Leontolu Kecematan Tasifeto Barat ke suku Betano, Same Manufahi. Walaupun dengan keterbatasan dana yang ada kami CIS tetap melakukan pendekatan-pendekatan jaringan untuk bisa memulangkan mereka.


Bapak Moises Pereira salah satu keluarga yang pulang, ketika di perbatasan Motaian dia mengatakan kepada saya: “terima kasih atas bantuan kaka sekalian , nanti saat saya dan keluarga tiba di Timor, saya akan kontak kaka. Dan saat ini keluarga saya di Dili akan tunggu saya di Tasitolu Dili untuk menjemput kami....!”


Kami masih tetap berjuang untuk memfasilitasi keluarga yang tersisa kembali ke kampung halaman mereka. Kabar yang menyenangkan dari Timor Leste bahwa Tim “Working Group To Repatriation” sudah menyatakan siap untuk menerima keluarga yang mau pulang pada akhir Januari 2011 ini. Suatu kabar yang menyenangkan, tetapi melalui satu proses yang panjang, tahap demi tahap sehingga impian keluarga yang pulang bisa berkumpul kembali dengan kelaurga mereka di Timor.

 

Anato Moreira (CIS Timor Volunteer)

-------------------------------

 

 

. : : Laki-laki Hebat di Bougenvil 3 : : .

 

 

 

Oleh : Alfred Djami

 

****

 

Tentang Seorang Laki-laki yang membuat saya terispirasi. Terinspirasi untuk menulis lagi...

 

***

 

 

Keluarga "setara" yang Serderhana

HARI Senin tanggal 7 Maret sekitar jam 7 pagi di Oesapa sepanjang jalan Oesapa terlihat ramai. Ramai Lalu lalang kendaraan di jalan timor raya membuat saya harus sangat berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor.


Di Kilometer 10 Oesapa, belok ke arah gang sebelah kiri. Sepanjang jalan gang ini hanya terlihat kesibukan-kesibukan kecil di halaman rumah yang ada berjejer di sepanjang jalan. Ada juga yang sepi.


Tujuan hari ini adalah berkunjung ke Posyandu Bougenvil 3 bermodal alamat yang ditulis di buku kecil. Namun tepat nya saya belum tau. Memutuskan untuk tidak malu bertanya kepada warga yang ada di pinggir jalan adalah solusi terbaik. Seorang pemuda berkutang putih, sementara mencuci motor bersedia membantu mengarahkan saya ke alamat Posyandu Bogenvil itu.


Letak-nya ada di tengah-tengah pemukiman warga, tepatnya di RT 10 / RW 04 Kelurahan Oesapa. Dari kejauhan, saya bisa langsung memastikan sudah dekat dan akan segera tiba di tujuan. Tidak salah memang, akhirnya berhasil sampe di Posyandu Bogenvil 3 dengan perasaan yang sangat baik. Terlihat ramai di sekitar halaman rumah. Tepatnya Diteras depan rumah setengah tembok, setengah dinding yang sebenarnya lumayan besar tapi terasa sempit ketika dipenuhi ibu-ibu dan anak balita mereka. Gambaran yang sering saya lihat di sebagian besar Posyandu yang pernah dikunjungi.


Segera masuk dan melemparkan senyuman selamat pagi kepada ibu-ibu yang ada di situ. Senang sekali ketika mereka membalas dengan senyuman yang hangat.
Menghampiri seorang kader yang terlihat sibuk mencatat data-data perkembangan anak di sebuah buku berukuran besar, namun di sela-sela kesibukan itu dia dengan wajah penuh senyum menyambut kedatangan saya. Ucapan selamat pagi, perkenalan dan penjelasan tujuan kedatangan langsung saya sampaikan.


"Selamat pagi... oo... mari adik… " Ungkap ibu menanggapi penjelasan saya. Wajah Kader ini tidak begitu asing di memori saya. Pernah ketemu dimana ya ???
Dari sekian banyak ibu yang hadir, ada 2 ibu yang rupanya sudah pernah bertemu, bahkan sering. Ya, mereka adalah Ibu Amy Hartini Anin yang sering di sapa mama Anin dan Ibu Ferderika Oga Djawa yang sering disapa mama Oga. Mama Anin adalah seorang tokoh perempuan di Kelurahan Oesapa yang sudah sejak lama fokus di Posyandu. Informasi-informasi tentang posyandu banyak saya dapatkan dari beliau. Mama Anin sangat ramah. Dia juga tegas.

Sedangkan mama Oga, pernah bertemu dengan saya di kegiatan Diskusi Terfokus tentang Gender di Aula Unkris beberapa waktu lalu. Mama Oga juga merupakan salah satu tokoh perempuan di Kompleks tempat dia tinggal dan di Kelurahan Oesapa. Mama Oga adalah ketua kader posyandu Bougenvil 3. Beliau sangat murah senyum :-)
Tidak ingin mengganggu jalannya proses posyandu, saya memilih untuk duduk disudut teras sambil berkenalan bahkan bercerita dengan ibu-ibu yang ada di dekat saya. Saya mencoba memulai topik pembicaraan tentang keterlibatan Laki-laki dalam dalam Posyandu. Macam-macam tanggapan yang tersampaikan…


"adoooo…. Te jang harap bapa dong mo koko ana datang posyandu”
Ada juga yang bilang…
"Bapa dong kan jam begini sibuk kerja di kantor jadi biar mama-mama sa yang datang…"
Topik Laki-laki dan Posyandu itu, membuat suasana terasa semakin ramai. Sebagian besar isi pesan dari kalimat itu adalah Laki-laki jarang ada di Posyandu.


Namun selang beberapa menit kemudian, ungkapan ibu-ibu bahwa susah berharap laki-laki mau datang ke posyandu akhirnya tidak sepenuhnya benar adanya.


Terlihat seorang Laki-laki masuk ke halaman posyandu dengan senyum lebar sambil menggendong anak langsung menjadi bukti nyata pagi itu. Bahwa ada laki-laki yang bisa di harapkan untuk membawa anak ke posyandu. Posyandu bukan hanya ruang nya Ibu-ibu.

Zhakarias Misa nama nya. Ibu-ibu di posyandu menyapa dengan panggilan Om Saka. Om Saka berjalan mendekat ke arah kami. Karena kebetulan ada ruang untuk duduk menunggu giliran disitu.
Pujian demi pujian-pun keluar dari mulut para ibu-ibu di situ tertuju pada om saka…
"ini dolo…. Ini baru bapak yang teladan…..", "om Saka memang paling rajin bawa anak ke posyandu…”"bap tua koko satu, mam tua koko satu…, harus begitu dolo…”

Mendengar kalimat terakhir, saya akhirnya tau bahwa rupanya om Saka punya 2 orang anak. Yang kakak ukuran tubuh nya lebih tinggi digendong sama om Saka, dan yang adik dengan tubuh yang kecil di gendong sama istrinya om Saka, ibu dari anak-anak itu.

Mendengar kalimat-kalimat ini, om Saka terlihat malu-malu… kedua lengan nya tetap memeluk anaknya walaupun sudah dalam posisi duduk. Anaknya terlihat sangat nyaman di pangkuan sang ayah.

Akhirnya Om Saka, ditengah senyuman nya menanggapi pujian para ibu-ibu…
"Harus begitu e…mama… kita kan basayang… :”

Ungkapan itu membuat saya jadi ingin lebih dalam bercerita dengan beliau. Dan keinginan ini segera direalisasikan setelah menunggu om Saka selesai menimbang anaknya.

Dibawah pohon jambu dekat teras rumah kami duduk bersama. Om Saka banyak bercerita disitu. Sebelumnya saya memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan ada di Posyandu pagi itu. Dengan ekspresi wajah serius beliau menyimak.

Giliran Om Saka yang bercerita. Mulai dengan perkenalan.
Om Saka tinggal di RT 04 / RW 02 Kelurahan Oesapa. Tepatnya didekat pinggir pantai Nunsui. Salah satu objek wisata di Kota Kupang. "Beruntung sekali bisa tinggal di dekat pantai yang indah" ungkap ku iri.
Kini, aktifitas prioritas om Saka sehari-hari adalah bekerja sebagai Koster di Gereja Nazaret Oesapa. Pagi ini beliau minta ijin tuk bersama istri mengartar anak ke Posyandu. "Ini Cuma satu kali dalam satu bulan… jadi tidak masalah" ungkap pria asal Soe ini tenang. Setiap bulan Om Saka sering bersama istri mengantar anak-anak mereka yang masih balita itu ke Posyadu.

Hal itu juga di benarkan oleh Ibu Oga.
"Iya, om Saka rajin datang posyandu setiap bulan" Jelas mama Ogga di sela-sela kesibukannya.

Sebelum menjadi koster, Om Saka setiap hari bekerja sebagai pemungut besi tua dan gelas bekas minuman mineral. Sempat kaget mendengar ini. Salut buat om Saka.
Om Saka dan istri, Hermina Manu dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama adalah perempuan bernama Asni Misa berumur 2,6 tahun, anak kedua laki-laki namanya Andri Misa berumur 1,5 tahun. Keduanya berkulit putih. Cantik dan Ganteng.
Hanya beberapa menit saja kami bercerita. Om saka terlihat sudah mempersiapkan diri untuk pulang mengantar istri dan anak-anaknya ke rumah dan kembali menjalankan tugas nya Gereja.

Namun karena saking penasarannya saya sempat melontarkan pertanyaan terakhir kepada laki-laki ini. Apa yang membuat beliau datang bersama istri dan anak-anak ke Posyandu, sampai-sampai rela meninggalkan tanggungjawabnya sebagai Koster di Gereja ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, beliau sempat memberi tanda dengan telapak kanan nya kepada istrinya. Tanda untuk bersabar sedikit. Istrinya mengiyakan. Beliau-pun lanjut dengan menanggapi pertanyaan saya.

"ini begini pak… kita kalo sudah menikah harus bertanggung jawab terhadap anak-anak dan istri. Dulu waktu kami mau menikah, pendeta bilang begitu waktu beta dengan maitua ikut penggembalaan di Gereja. Karena abis beta dengan istri menikah, maka kita tidak dua lagi tapi sudah satu. Ini kita angkat sumpah di Gereja waktu pemberkatan nikah. Sonde ada alasan untuk malu bawa anak ke Posyandu. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban seorang suami kepada istri dan anak, ini adalah pertanggungjawaban... atas sumpah seorang suami kepada Tuhan. Jika tidak, rejeki tato'a..." Ungkap beliau semangat dengan suara yang lumayan lantang.

Waow…salut buat Om saka. Cukup.! Tidak ada pertanyaan lagi yang melintas di kepala ini. Yang ada hanya perasaan bangga terhadap Om Saka dan bangga terhadap diri sendiri karena secara kebetulan bertemu dengan laki-laki yang menurut saya hebat.

Cerita ini belum selesai, Saya sendiri masih merasa penasaran ingin tau lebih tentang keluarga Om Saka...

 

 

 

-------------------------------

 

 

. : : P a n i k : : .

 

(Sepenggal cerita dari belakang meja Finance)

 

***

oleh: Frits Isak Lake, S. Sos

 

***

 

Siang itu tepatnya hari senin tanggal 28 Agustus 2006, di ruang finance banyak berkas yang berhamburan dan banyak pekerjaan yang menumpuk.

"Hari ini deadline laporan keuangan", teriakku dalam hati. Seharusnya laporan keuangan harus masuk ke Oxfam GB tanggal 24 setiap bulannya tetapi bulan ini saya sudah terlambat memasukkan laporan. Seminggu sebelumnya saya mengikuti kegiatan konpercab GMKI Kupang di Naioni Kec. Alak Kota Kupang dan baru pagi tadi saya balik ke kantor.

Saya masih ingat waktu pagi tadi, Winston Rondo (direktur CIS Timor) menelpon saya,
"Frits, ada dimana sekarang?", kata Winston di telepon. "Kenapa belum balik Kantor?", Lanjutnya
"Maaf Kak, Beta tadi malam sonde dapat Motor. Sekarang Beta sudah di Bemo", Jawab Saya Kepada Winston.
"Frits, Pokoknya beta sonde mau tahu, ini hari lu harus kasih masuk Laporan Keuangan", Kata Winston sambil menutup Telepon.

Ketika saya tiba di kantor, Winston sudah menunggu dengan wajah yang cemberut dan tidak mengatakan sesuatu. Saya hanya menyapa dia sambil terus masuk ke dalam ruangan finance.


Saya mulai mengerjakan laporan keuangan yang telah saya tinggalkan selama seminggu dan saya dapati ternyata masih banyak yang harus saya buat. Lembar demi lembar kwitansi dan nota-nota mulai saya susun berdasarkan urutan waktu pembelanjaan, kemudian memasukkannya dalam computer cash (Format yang ada dalam Komputer). Ada beberapa form yang belum saya buat dan belum ditanda-tangani oleh kawan-kawan yang lain. Ini membuat pekerjaan saya yang harusnya sederhana menjadi bertambah karena harus bolak-balik keluar ruangan mencari kawan-kawan untuk mengisi form yang kurang.

"Coba ini laporan, beta su cicil-cicil dari awal bulan mungkin beta sonde akan susah begini" kata saya pada Iwan Rona, teman finance yang ikut membantu saya. Ini memang salah satu kebiasaan jelek saya, sering menunda-nunda pekerjaan.

Hari makin siang waktu terus berputar seperti mengejar saya. Menyusun, menempel, mengisi form yang kurang, mencari kawan lain untuk tanda-tangan merupakan rangkaian pekerjaan yang harus saya buat hari itu dan rasa-rasanya hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Saya terus bekerja dibantu oleh Iwan, ada Iren, dan Ruslan yang ikut menempel nota-nota yang telah selesai saya susun. Mulai dari meja kerja saya pindah ke lantai karena meja kerja saya hampir tidak bisa memuat kertas-kertas yang semakin menumpuk dan berserakan. Saya butuh tempat yang lebih luas jadi terpaksa lantai ruangan jadi pilihan saya.

Di sela-sela saya mengerjakan laporan, Winston masuk ke ruang finance untuk memantau saya bekerja, "Ama, su ada yang bisa beta tanda-tangan ko?" kata Winston. "Sudah kak" Jawab saya sambil menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani.

Jam 12.30 siang, Nancy, Finance Oxfam GB menelpon saya dan menanyakan tentang perkembangan laporan keuangan.
"Siang Pak Frits, kapan saya bisa dapat laporan CIS" Kata Nanci mengawali pembicaraannya di telepon.
"Sorry kak, Laporan sudah habis dan sekarang masih ditempat Foto Copy" Jawab saya sambil berkelit untuk mengulur waktu.
"Masa sudah tanggal begini, laporan juga belum kasih masuk?". Kata Nancy agak ketus.
"Sebentar sore Laporan CIS sudah harus diantar ke sini" Lanjut Nancy dengan suara tegas.
"Ok kak, beta usahakan" Kata Saya sambil mengakhiri pembicaraan ditelepon.
Pembicaraan di telepon itu membuat saya bertambah panik!

Sekitar jam 4 sore, semua nota sudah selesai saya tempelkan dan tinggal mengentrinya dalam komputer. Saya semakin panik karena waktu tinggal sebentar lagi. Karena saking paniknya kaki saya menyentuh tombol reset pada komputer dan komputer harus direstrart dari awal.

"Komputer Bangsat", teriak saya sambil memukul monitor komputer. Bayangkan sudah banyak data yang saya entri dan saya belum sempat menyimpannya. Saya harus mulai mengerjakannya dari awal.
"Tenang...tenang...tenang..."saya berkata sendiri untuk menenangkan diri saya yang lagi panik.
Tepat jam 4.30 semua laporan sudah selesai saya kerjakan dan tinggal beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Winston. Setelah Winston selesai saya menjadi lega.

Dari peristiwa hari itu saya belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan sekecil apapun, karena saya menyadari tidak banyak yang bisa saya buat berhubungan dengan komunitas dampingan.
Pekerjaan saya hanyalah membuat laporan keuangan untuk mensuport kawan-kawan lain yang bekerja di lapangan. Tapi berbuat yang terbaik dari pekerjaan saya akan membuat segalanya menjadi indah.

***

(Posting, Kupang, 28 January 2008)

---------------------------

 

. : : Adui dan Neneknya : : .

 

Oleh : Yeany Baramata

 

***

 

Maret 2004, saya bersama Nato, sesama relawan di CIS Timor, mengunjungi kamp Sukaerlaran. Sekitar 25 kilometer dari Atambua. Kamp ini terletak dibibir pantai tak jauh dari lokasi wisata pantai Sukaerlaran. Hampir sebagian penghuni kamp ini adalah nelayan.

Saat itu kami membawa Lorosae Lian (LL). Sebuah newsletter produksi CIS berisi informasi tentang perkembangan kondisi pengungsi eks Timor Timur.

Sambil distribusi LL, kami juga berdiskusi tentang isinya dengan orang-orang yang menerimanya.

 

Saat berkeliling kamp, di deretan depan kamp, kami bertemu seorang Abo* yang berusia kurang lebih 60 tahun. Namanya saya lupa, dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Beruntung ada Nato sehingga bisa membantu saya menerjemahkannya.

 

Ibu ini tinggal bersama dengan cucu laki-laki yang umurnya delapan tahun. Ia biasa dipanggil Adui. Tubuhnya tidak seperti anak-anak seumurannya. Tidak bisa bicara. Air liurnya keluar terus menerus. Kakinya berbentuk huruf O, kalau berjalan seperti orang pincang.
Ketika melihat saya, Adui langsung tersenyum. Raut wajahnya seolah-olah tanpa beban.

 

Dia pung orang tua tinggal di mana? Kenapa ko Adui pung kondisi begini?" tanya saya beruntun karena penasaran. Lalu neneknya menjawab, yang diterjemahkan oleh Natu, bahwa orang tuanya tinggal di TL, karena beda prinsip politik akhirnya mereka berpisah.

 

"Kami ini kan orang Indonesia, dulu kami dapat makan dari orang Indonesia jadi kami ingin tetap menjadi WNI walaupun harus berpisah dengan keluarga kami itu adalah resikonya".
Adui ikut bersama neneknya karena nenek ini tinggal sendirian. Adui kena "hela" (kejang-kejang pada bayi disertai panas tinggi) waktu masih lima tahun setelah mereka tinggal di kamp Sukaerlaran.

 

Saya bingung, dalam hati timbul pertanyaan, "Kok bisa nenek setua ini merawat cucunya seorang diri dengan kondisi cucu yang cacat, bagaimana kalo seandainya nenek ini sakit?"
Saya tidak habis pikir, mengapa masih ada orang tua yang rela meninggalkan anak mereka yang cacat dan tinggal dengan seorang nenek walaupun itu adalah nenek kandungnya?.

"Nenek setiap hari kerja apa sa, pegawai negeri kah ato pensiunan?" Tanya saya lagi.
"Saya tidak ada kerja, hanya di rumah sa. Kalo untuk makan biasanya keluarga yang bantu, mereka pegawai juga nelayan". Jawabnya.

 

Saya jadi tambah bingung dengan jawaban yang saya dengar, apakah solidaritas sesama atau keluarga setinggi itu kah sehingga mereka mau membiayai kehidupan orang lain selain keluarga inti mereka, padahal kalo dilihat bahwa kondisi masyarakat kamp ini tidak jauh berbeda dengan sekelompok pemukiman kumuh yang kondisi rumahnya pas-pasan untuk tidur dan masak, makan juga tidak 3 kali sehari dengan menu yang standar (nasi/jagung, ikan atau jagung, sayur dan nasi dimasak sekalian).

 

Saya jadi terharu juga mendengar kisah ini, jika dibandingkan dengan saya mungkin saya tidak akan berani mengambil tindakan seperti ini, lebih baik berkumpul dengan keluarga daripada harus bersusah-susah di daerah lain.

 

Agar tidak terlalu kentara rasa ingin tahu ini, saya kemudian berusaha mengalihkan perbincangan dengan anak-anak yang bermain di sekitar itu. Tak lama kemudian Nato mengajak saya pergi.

 

Kami kemudian bertemu dengan koordinator kamp Sukaerlaran. Namanya Sudrajat. Tinggi, kurus. Ia berasal dari Jawa yang menikah dengan perempuan asal Maliana. ia dipilih menjadi coordinator kamp karena pensiunan TNI dan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang tua dikamp tersebut. Rumahnya tidak jauh dari rumah abo tadi.

 

Saat kami sedang bercerita dengan koordinator kamp Sukaerlaran, yang meminta dukungan alat penangkapan ikan bagi mereka, Adui juga datang dan saat saya melihat dia, senyuman yang sama saat jumpa pertama tadi kembali tersungging di bibirnya. Ia mendekat menjawab lambaian tangan saya, berdiri tak jauh di samping kanan saya.

 

Saya kembali terlibat diskusi dengan Nato dan Sudrajat. Adui menatap kami serius, seakan mengerti apa yang kami diskusikan saat itu sambil sesekali tersenyum. Tak sepotong kalimatpun keluar dari mulut mungilnya itu, hanya sunggingan senyumannya yang membawa ketenangan dalam hati saya.

 

Dalam perjalanan pulang, di atas sepeda motor Honda Win, karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh nenek Adui tadi, saya bertanya lagi ke Nato, "Nato kalo dikamp tuh, orang masih saling baku bantu ko, padahal dong pung kondisi ju lagi susah begitu?"

 

"Yah orang Timor itu begitu Yen, tolong menolong itu sudah menjadi budaya, tapi kasus nenek ini agak lain karena dia datang sendiri tanpa ada keluarga lain. Bisa saja nenek itu datang ke sini bukan karena maunya sendiri tapi keluarga yang mungkin memaksa dia untuk ikut, sehingga keluarga yang harus bertanggungjawab untuk membiayai kehidupan mereka e..e.." jawab Nato disela-sela deru mesin motor.

 

Mendengar jawaban dari Nato, saya salut dengan sikap politik mereka yang tetap setia dengan komitmen mereka untuk tetap menjadi WNI yang walaupun perhatian yang diberikan oleh negara tidak sebanding dengan apa yang mereka korbankan.

 

Cerita nenek dan adui ini ingin mengajarkan kita tentang arti sebuah komitmen hidup, walaupun harus kehilangan segalanya dan harus tinggal sendiri di negri orang dengan tiada kepastian status mereka di negri itu, tidak menjadikan mereka putus asa tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi yang ada dan berusaha berjuang sendiri untuk mendapat pengakuan terhadap komitmen mereka.

(Posting, Kupang, 29 Jamuary 2008)

 

---------------------------

 

. : : Sore itu, "Saya Reporter atau

Relawan Pendamping?" : : .

 

Oleh : Alfred W. Djami

 

***

 

Tulisan ini terinspirasi setelah saya menyelesaikan tugas wawancara di Dusun Weraihenek Desa Kabuna kabupaten Belu suatu sore pada minggu kedua Desember 2005.

 

***

 

Waktu itu sementara hujan. Lokasi ini adalah lokasi dampingan saya, sehingga informasi tentang komunitas ditempat itu sedikit banyaknya saya kuasai. Anehnya saya diberi tugas oleh Pemred (pemimpin redaksi) yang juga ketua divisi untuk melakukan wawancara untuk rubrik Liputan Utama "Lorosae Lian".

 

Point Refleksi dari tulisan ini pasti sederhana buat anda yang mempunyai banyak pengalaman, tapi buat saya, ini membingungkan. Bagaimana kita menempatkan diri sebagai orang yang merasa sudah tau tetapi diharuskan untuk mencari tau lagi.

 

Saya mengalami kesulitan dalam melakukan wawancara. Mungkin ini keluhan. dua hal yang menyebabkan hal itu terjadi adalah pertama; pertanyaan di dalam TOR mengharuskan Nara Sumber untuk terbuka akan komitmen komunitas untuk melakukan tindak lanjut bagi pemenuhan pemenuhan kebutuhan secara mandiri. Pertanyaan ini - menurut saya, yang juga sebagai relawan pendamping- adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh komunitas. Karena bisa saja sudah ada "ketergantungan" terhadap pendamping; dalam hal mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar komunitas.

 

Seperti pernah yang saya dengar ketika melakukan pendampingan kepengurusan tanah beberapa waktu lalu, seorang bapak berkata "Kami disini percaya di adik sa..." kalimat ini mungkin bukan hanya saya saja pernah dengar, relawan yang lain juga. Bagi saya; ada beberapa makna dari kalimat tersebut. Mungkin ini salah satu bukti penerimaan komunitas terhadap pendamping!. Saya tersanjung kalau memang kondisinya begitu.

 

Tetapi mungkin juga masyarakat selalu menganggap kita adalah si penghasil "solusi", sehingga masalah apapun kecil atau besar, private atau umum yang berhubungan dengan mereka, maka untuk pencarian solusinya hanya dengan menunggu si pembawa solusi untuk menyelesaikannya. Mereka tidak kreatif lagi. Tidak menjadi aktor terhadap permasalahan mereka.

 

Singkatnya, bisa saja kepercayaan diri didalam tubuh komunitas is gone ketika orang yang selama ini diharapkan banyak memberikan jawaban berubah menjadi seorang yang bertanya banyak. Ya Tuhan jangan sampai itu terjadi.

 

Kedua; Kesulitan itu ada kerena keterbatasan dalam mengkomunikasikan point-point TOR menjadi sederhana dan mudah dimengerti oleh nara sumber. Saya (reporter-red) yang tidak mampu membahasakan point pertanyaan yang ada didalam TOR menjadi sederhana dan mudah dimengerti. Jika memang begitu, mungkin hal pertama yang harus saya lakukan adalah seperti yang diungkapkan oleh Pemred saya, bahwa kita jika ada dalam posisi reporter maka tempatkanlah diri anda sebagai penonton yang mempunyai keinginan dalam menguasai ini cerita dan membagi kepada orang lain. Bukan menjadi aktor yang ditonton.

***

 

Yang masih menjadi tanda tanya besar dikepala saya adalah "Dimana posisi saya saat itu, Penonton atau yang ditonton ? Ukhhh...". Saya menjadi semakin bingung.

 

(Posting, Kupang, 29 January 2008)

---------------------------

 

. : : Kisah yang di tinggalkan : : .

 

"Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini".

 

***

 

Oleh : Theo Wetangterah

 

***

 

Jalan yang kami lewati menuju lokasi itu masih berbatu. Di kiri dan kanan jalan berdiri rumah-rumah warganya. Hanya sepuluh meter jaraknya dari ruas jalan utama, truk yang akan mengangkut barang dua keluarga yang akan pindah ke Bortetuk berhenti. Saya dan None bergegas turun dari truk dan menghampiri beberapa warga yang siang itu terpaksa bernaung di bawah terik matahari karena rumahnya, mungkin lebih tepat disebut gubuk- telah dibongkar. Tidak jauh dari tempat itu tiga orang laki-laki sementara duduk menikmati sebotol sopi dan satu jeriken lima liter yang berisikan laru putih, mereka asik bercerita dalam bahasa mereka yang tak kami mengerti.

 

Kami dipersilahkan duduk di tempat yang masih kosong, dan cerita awal dalam dua bahasapun dimulai. Saya dan None bersama dua orang laki-laki lainnya berceritra dalam bahasa Indonesia sedangkan mereka yang lain terus berceritra dalam bahasa tadi.

"Muat bebak duluan," teriak seorang laki-laki setengah baya yang berada tidak jauh dari kami sehingga membuat pandangan kami berpaling kepadanya dan cerita dalam dua bahasa itu berhenti sejenak.

 

Tanpa menunggu teriakan yang kedua kalinya, empat orang anak muda sudah berdiri disekitar tumpukan bebak itu dan langsung memindahkannya ke atas truk. Cerita dalam dua bahasa kembali berlanjut.

 

Proses memindahkan barang-barang yang berserakan dipinggiran jalan dan ceritra dalam dua bahasa terus berjalan hingga akhirnya harus berakhir karena truk yang mengangkut barang itu sudah sarat dengan barang dan orang-orang yang akan pindah. Truk siap berangkat dan itu berarti satu keluarga berkurang dari lokasi itu.

Sebelum truk itu berangkat meninggalkan lokasi itu, muncul satu truk lagi dengan fungsi yang sama. Dan berkurang lagi satu keluarga.

Derai air mata tidak dapat dibendung tatkala truk harus berangkat meninggalkan lokasi itu. Dan itu berarti mereka harus meninggalkan tempat itu, meninggalkan kenangan yang sudah terjalin tujuh tahun lamanya, kenangan yang indah dalam ikatan keluarga besar kecamatan Bobonaro.

 

Masih terbayang dalam ingatan Baltasar Guteres, koordinator kamp Sukaerkolam, kenangan masa lalu tatkala masih lengkap 70 keluarga.

Ia hanya bisa berucap, "Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini". Pandangan matanya menerawang jauh

 

Lapangan voli yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami menjadi saksi bisu bagaimana suasana waktu dulu. Atau ruas jalan ini menjadi saksi ketika mentari mulai kembali ke peraduan dan warga berkumpul disitu sambil berceritra dan memainkan lembaran kartu yang ada ditangan mereka.

 

Namun semuanya itu tinggal kenangan.

 

Berawal dari kalender yang digantung dirumah itu sudah dibalik dan muncul tulisan Nopember 2005, ditahun itu 50 keluarga harus meninggalkan kamp Sukaerkolam menuju tempat baru yang lebih menjanjikan, yang dicari dan diusahakan mereka sendiri. Di Bortetuk - Halifunan.

 

Dan kini baru setahun ia merasakan kehilangan 50 keluarga anggota komunitasnya. Saat tersisa sebelas keluarga lainnya, iapun kembali harus merelakan dua keluarga lainnya meninggalkan kamp itu ketika kalender yang ada, bertuliskan 18 Juli 2006 dan lagi-lagi ke Pemukiman mandiri Bortetuk - Halifunan.

 

"Dulu kami 70 keluarga, setelah 50 pergi tahun lalu kami tinggal 11 keluarga dan sekarang setelah dua hari yang lalu (19/07) dua KK pergi tinggal sembilan keluarga sa dan kami merasakan seperti ayam yang kehilangan induknya," ujarnya lagi dengan mata masih tetap menerawang jauh, namun kali ini terlihat sedikit berkaca karena ada gumpalan air yang berada dalam mata itu.

 

Dan kata itu terulang lagi, "Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini".

 

Hari itu 21 Juli 2006 sekitar pukul 17.00 WITA, saya berkunjung ke lokasi itu dan menemui pria kelahiran 48 tahun lalu itu. Disana ia masih berkumpul dengan keluargannya yang lain dan masih menggunakan ruas jalan itu untuk berkumpul bersama dan tradisi lama masih terus mereka jalankan yaitu berkumpul di tempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran-lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Walaupun suasananya sudah berbeda karena tidak ada lagi anak-anak muda yang bermain voli.

 

Hanya ada satu harapan yang ia ucapkan sambil matanya tetap menerawang Mudah-mudahan di tempat yang baru itu mereka bisa bertani dengan baik sehingga hidup lebih baik lagi. Dan bagi yang masih menetap disini, "Kita harus tetap berusaha".

 

Tulisan ini sudah pernah dimuat dalam Lorosae Lian.

 

Keterangan :

*** Sopi : Jenis minuman keras dari Timor . Laru putih : jenis lain minuman keras yang kadar alkoholnya lebih rendah.

 

(Posting, Kupang, 28 January 2008)

---------------------------

 

. : : Surat dari Lapangan : : .

 

Surat yang berisikan suka, duka bekerja sebagai relawan serta semangat hidup warga baru di Raknamo.

 

Oleh : Merry Djami

 

Siang menjelang sore, pada Rabu 11 Januari itu ibarat mengisyaratkan semua orang yang lelah setelah sibuk bekerja menunggu, mengangkat barang, mengatur barang, menyetir, meneriakan aba-aba, berjalan kesana kemari mengurusi segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pemindahan, memberikan penjelasan, menenangkan warga yang panik, memotret, menelfon, untuk beristirahat sejenak menunggu lanjutan kegiatan pemindahan pada esok hari, Kamis tanggal 12.

 

Pukul 11. 30 wita, kegiatan pemindahan selesai. Memang lebih awal dibandingkan dengan kemarin karena keluarga yang menunggu pindah hanya tersisa 7 (tujuh).
Tim relawan yang bertugas kini bisa bernapas lega karena punya waktu untuk berpikir hal yang lain tanpa beban.

 

Namun masalah belum selesai, kenyataannya kondisi 50 keluarga ini cukup memprihatinkan. Mereka sudah dapat rumah baru, yang kalau mau dibilang modelnya lebih baik dari rumah lama mereka waktu masih di kamp. Tapi rumah baru saja tidak menjamin mereka hidup layak karena dapur mereka relatif tidak bisa mereka andalkan dalam menjalani waktu-waktu menunggu penanganan lanjutan.

 

Sudah semestinya setiap keluarga yang mengikuti program relokasi pemerintah, memperoleh hak dan kesempatan untuk menerima jaminan hidup selama 6 (enam) bulan. Mereka akan menerima hak itu setelah beberapa minggu menempati rumah di relokasi, belum ada penentuan tanggal realisasi yang pasti dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial.

 

Clara mempunyai empat anggota keluarga, bersamanya ada Carlos Soares sang suami, Brigina Besaung tantenya, Marsel dan Marselina kedua anaknya yang masih balita.
Clara sudah mengenal saya, Ape, Sally dan Robby semenjak ia dan keluarganya masih tinggal di kamp Tuapukan.

 

Sejak memutuskan untuk mengakhiri hidup di kamp dengan pindah ke pemukiman lokal Raknamo, ia selalu mengingatkan saya dan Robby untuk tidak hanya fokus pada pendataan dan pemindahan tapi juga perlu memikirkan soal pangan. Beberapa kepala keluarga juga memberikan catatan yang sama.

 

Namun pada saat kegiatan pemindahan semua orang larut dalam hiruk pikuk kesibukan, Clara tidak demikian, ia terus getol mengingatkan kami bahkan sikapnya cenderung mengisyaratkan tuntutan. "Meri tidak bisa hanya kasih pindah kami saja, kaliang harus kasih makan kami, kalo kami oran besar bisa tahan lapar tapi anak-anak bagaimana. Kemaring ada nasi bungkus, ini hari tidak ada! Pokoknya Meri harus perhatikan kami !"
Teman-teman lain seperti Vecky, Sally dan None juga ia temui dengan tuntutan yang sama. Saat itu hari kedua ia tinggal di Raknamo.
Pada hari ketiga hal yang samapun terjadi, kini suaminya juga tidak mau kalah, turut serta menggelar tuntutan.
Hari keempat, Clara terus menunggu kalau-kalau ada motor yang biasa dipakai relawan muncul di sana.
Sikap Clara kami nilai sangat rewel dan menjengkelkan.
Berbagai penjelasan dengan suara tinggi dan permohonan untuk bersabar kami lakukan agar ia bisa diam. Jujur saya pribadi merasa sangat terganggu, seandainya kami adalah lembaga yang kaya ,......tapi saya merasa tidak berdaya menghadapinya.

 

Hari kesembilan tiba, kali ini bukan lagi Clara, bukan juga Carlos, tapi yang lain, ada Manuel, Maria, Eva, Alfonso, Dominggus, Julio dan lainnya. Mereka tidak sekeras Clara dan Carlos, mereka cukup santun menceritakan keadaan sebenarnya.

 

"Kemaring sore saya deng Adrianus minta beras di kepala dusun, kami dapat empat kilo, tapi saya hanya dapat stenga, Adrianus ambil tiga stenga, saya jengkel dengan dia," cerita Manuel pada saya dan Robby di rumah mama Maria. Waktu itu saya minta ijin menggunakan kamar kecil di rumah mama Maria, naas waktu keluar dari kamar kecil saya digigit anjing peliharaan mama Maria, terpaksa saya harus masuk untuk meringankan rasa sakit akibat gigitan itu, tidak berdarah tapi bengkak sedikit di bawah pantat kiri. Anak mama Maria sedang sakit, batuk dan kepala, sudah tiga hari hanya tidur saja.
Robby datang membawa minyak tawon dan kami berkumpul di situ. Manuel ada situ sejak mendengar saya digigit anjing.

 

Hari kesepuluh kami berada di sana, kali ini kami melihat langsung sebagian dari mereka makan kacang hutan. Proses olahnya sangat lama, harus direbus empat sampai lima kali.
Kami membawa obat parasetamol dan bintang tujuh untuk anak mama Maria, ternyata kami juga menemukan orang sakit lainnya, ada anak balita yang sangat kurus, tujuh bulan usianya dengan berat hanya enam kilogram, ada juga anak lain yang kasat mata dapat diduga menderita gisi buruk. Seorang anak laki-laki terbaring lemas, Anastasio namanya berumur tujuh tahun. "Sudah lima hari tidak mau makan," kata bapaknya dengan nada lemas.
Anastasio tidur di lantai beralas tikar lusuh dan berdebu, tubuhnya kurus sekali, rusuknya menonjol jelas, perut kempes dan kulitnya pucat.
Saya bersama Robby meminta ijin pada bapaknya untuk berdoa. Kami berdoa bersama pada siang itu.

 

(Posting, Kupang, 29 January 2008)

---------------------------

 

. : : Surat dari seorang Ayah : : .

 

Ini adalah sebuah surat dari sepasang orang tua yang berjuang bagi kesembuhan puteri semata wayang mereka yang baru berusia 3 bulan lebih, yang mengalami gangguan pada jantung dan parunya

"Setelah 6 tahun berumah tangga, kami akhirnya diperkenankan Tuhan untuk memiliki seorang anak yang terlahir pada 20 Juni 2007, setelah sebelumya istri saya; Pdt Desiana Rondo Effendy sempat mengalami keguguran sebanyak 4 kali. kami begitu gembira dan bahagia atas anugerah terindah yang kami terima.

Bayi perempuan yang cantik ini kami beri nama Liliane Gratia Imanuela Rondo, kami sangat bersukur karena penantian panjang kami diberkati Tuhan.
Gratia terlahir melalui proses bedah Cesar karena dokter Alfonsius Anapaku, Spog. mendiagnosa placenta bayi kami mulai kering padahal belum ada tanda-tanda melahirkan.

Waktu itu, jantung sang bayi tidak dapat dideteksi karena sangat lemah. setelah proses Cesar yang menegangkan, Gratia terlahir dengan panjang badan 51 cm serta berat badan 3,1 kg.

Gratia nampak sehat dan gemuk, walau tubuhnya memang terlihat agak kuning serta pucat. Ia juga minum susu dot dengan sangat lancar. Pada hari kelima, Dr Simplicia Fernandes (spesialis anak) berkomentar saat kami bawa Gratia untuk diperiksa bahwa ia menduga gratia mengalami VSD (ventrikel septhal deffect) atau kebocoran pada bilik jantung, karena 'bising' jantungnya terdengar.
Tetapi menurutnya perlu pemeriksaan lebih lanjut pada dokter ahli jantung anak di Surabaya atau Jakarta.

Kami shock dan kaget, karena Gratia nampak sehat. karena penasaran kami bawa Gratia ke ahli anak lainnya yakni: Dr Sammy Nalley dan Dr. Frans Taolin, kedua dokter ini membuat kesimpulan sama bahwa ada indikasi VSD tetapi mungkin relatif kecil dan pada sejumlah kasus dapat sembuh sendiri karena pertumbuhan dan gizi. ia kami periksa seperti biasa dan diimunisasi.

Setelah 3 bulan kami mulai melihat kondisi Gratia semakin menurun, pertumbuhan bobot badannya kecil sekali, semakin sering sesak napas, sering menangis, sulit sekali untuk minum susu, batuknya juga tidak sembuh-sembuh, denyut napasnya juga selalu terlihat memburu walaupun dalam keadaan tidur. karena situasi tidak banyak berubah maka persis seminggu setelah Gratia dibaptis, atas desakan dan rujukan Dr Simplicia, kami membawanya periksa di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta.

Pada tanggal 28 September setelah diperiksa marathon via EKG, ECHO, Rontgen dan pemeriksaan darah Dr. Poppy Roebiono, SpJp memastikan bahwa pada jantung kecil Gratia putri kami ada kebocoran sekat jantung di 3 tempat berbeda, ukurannya bervariasi hingga 9mm. Prof Bambang ahli jantung anak lainnya juga memastikan bahwa ada infeksi paru-paru karena dampak masalah pada jantung.

Dokter merekomendasi perlunya Operasi Jantung, mereka memberikan waktu 2 mnggu bagi keluarga untuk pikir-pikir. Kami menangis sedih sekali dan sangat terpukul, kami tak sangka, bayi cantik dan lucu ini ternyata menyimpan derita yang berat sekali. kami menelpon semua sahabat dan keluarga memohon dukungan Doa, kami masih berharap mujizat Tuhan Yesus terjadi, kami percaya Gratia milik Tuhan, semua cara dan maksud Tuhan pasti indah walaupun sering pahit dan tak terselami oleh kemanusiaan kami.

Saat ini sebagai keluarga kami bingung untuk memberi jawab pada dokter Poppy pada 10 oktober mendatang soal rencana Operasi jantung Gratia, kami sangat terbebani dengan besarnya biaya yang harus ditanggung untuk operasi seperti ini. sehari-hari pekerjaan saya adalah aktifis LSM pada Perkumpulan Relawan CIS TIMOR yang bekerja untuk penanganan eks pengungsi Timor-Timur di Kamp-kamp Pengungsi di Kabupaten Belu, dekat perbatasan Timor Leste.

Sedangkan istri saya Desy adalah Pendeta GMIT di jemaat kecil wilayah Airkom, 40 km dari kota Kupang. Melalui surat ini, kami mohon dukungan doa dan sekiranya memungkinkan dukungan Dana yang dapat membantu kami dalam pembiayaan operasi bayi kami Gratia.

Kami sungguh-sungguh mohon maaf atas kelancangan kami mengirim surat seperti ini. Kami percaya kami tak pernah sendirian dalam persoalan ini, Selalu ada cahaya terang diujung lorong paling gelap sekalipun.

Saat ini kami tinggal dirumah keluarga di Semper-Plumpang- Jakarta Utara. Komunikasi lebih lanjut bisa dilakukan melalui telp (021) 4409887 atau HP: 0811383960 (Winston) atau 0811382643 (Desy)".

Kami seluruh relawan di CIS Timor mengharapkan dukungan dari semua pembaca situs ini yang peduli dan mau berbagi bagi kesembuhan Gratia buah hati saudara kami Winston Rondo dan Deasy Effendy.

TTD

Relawan CIS Timor

---------------------------

 

. : : Menjelang Pagi di Atambua : : .

Renungan seorang relawan saat pagi menjelang di hari ulang tahun CIS Timor

Oleh : Olkes Dadi Lado

Jarum jam sudah menunjukan angka 12 lewat, tersisa 9 menit lagi sudah pukul satu dini hari. Pertanda sudah hampir sejam lamanya hari berganti, jumad berganti sabtu. Tanggal delapan ke sembilan.
Teman-teman sudah tertidur, tersisa saya, entah kenapa belum bisa menutup mata sejak tadi.
Hati saya gelisah. Memang ada ganjalan di hati tapi itu sangat personal dan tak layak di ceritakan di sini.
Bunyi kokok ayam jantan terdengar samar. Di luar sunyi.
Sesekali terdengar lolongan anjing di kejauhan pertanda si anjing ingin kawin.
Ditemani segelas teh panas dan sebungkus rokok LA light, saya masih terus terjaga.

Hari ini (9/9), CIS berusia tujuh tahun.
CIS Timor adalah sebuah lembaga perkumpulan relawan yang bermarkas di Timor Barat.
Pada saat yang sama tujuh tahun yang lalu, di jalan pendidikan II no 2 Kota Baru, beberapa aktivis dari GMKI cabang Kupang dan GAMKI DPD I NTT berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi dengan nama posko relawan CIS GAMKI-GMKI NTT.
Nama CIS adalah akronim dari Center for Internaly Displaced Peoples Service. Nama ini diberikan oleh ibu Stien Djalil, seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).
Berganti nama menjadi CIS Timor kemudian, saat pengurusan status legalnya pada 2004 lalu.
CIS hadir karena kepedulian akan kondisi pengungsian yang terjadi akibat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999 lalu.

Dalam kesendirian dengan iringan lagu ..Ku tak Bisa Jauh.. milik Slank dari winamp komputer, saya kembali mengingat kembali kenangan bersama CIS.

Kumpulan anak-anak muda yang umumnya adalah aktivis GMKI dan GAMKI, kebanyakan mahasiswa ada juga yang sudah selesai bahkan ada yang barusan tamat SMA, pada waktu itu hanya bergerak dengan sumber daya terbatas, mereka tergerak untuk menolong pengungsi Timor Timur dengan apa yang ada pada mereka.
Hampir pasti pada saat itu, hanya tenaga dan semangat yang menjadi modal dasar.

Pada akhir 1999, dengan difasilitasi CD Bethesda Yogyakarta dan Church World Service. Mereka diberikan pelatihan bagaimana menjadi seorang relawan yang baik dalam workshop for volunteers.
Sebutan relawan-pun disandang oleh mereka. Saat itu jumlah relawan sekitar 40-an orang.
Sejak itu CIS mulai menata dirinya
Dengan donasi kecil dari CD Bethesda, juga dari CWS bahkan ada juga dari dewan Gereja Australia, mereka mulai melakukan pelayanan.
Mulai dari sekedar menjadi teman cerita para pengungsi di kamp Noelbaki, Tuapukan, Naibonat juga kamp-kamp dalam kota Kupang seperti GOR, Koni sampai ke Batakte di Kupang Barat.
Hingga membantu tim dokter CD Bethesda melakukan pelayanan kesehatan dan PMT.
Membuka sekolah tenda dan juga taman bermain anak.
Sampai hal-hal yang menyerempet bahaya, yakni mengumpulkan informasi tentang pelanggaran HAM dari para milisi.

CIS bukan hanya terlibat dalam isu pengungsi Timor Timur semata. Pada periode pertengahan 2000, CIS juga turut membantu penanganan korban bencana banjir dan longsor di seluruh kabupaten TTS, sebagian Belu dan Kupang dengan dukungan dari CWS dan Yayasan Selamat Pagi dari Yogyakarta

Kini CIS bisa dikatakan sudah cukup mapan sebagai sebuah lembaga lokal. Sejak lepas dari US Aid pada periode 2001-2002, CIS kemudian menjadi mitra kerja Oxfam GB sejak 2003 hingga sekarang. Sudah dua funding ECHO pada 2003-2004 dan Uni Eropa, 2005 hingga sekarang.

Sejalan dengan itu, model kerja CIS pun mulai berubah. Dari sekedar sebuah kerja bakti pada awal kelahirannya, sekarang sudah mengarah pada community development.
Dari sekedar memberi informasi, mendorong pengambilan keputusan hingga memfasilitasi tindakan dan realisasi atas keputusan komunitas dampingnya.
Masih tetap pada komitmen kediriannya, hingga saat ini CIS masih memberikan perhatian utama pada isu penyelesaian masalah pengungsi di Timor Barat.

Secara kelembagaanpun CIS sudah menjadi lebih baik, mulai dari pembenahan manajemen organisasi, perumusan visi, misi hingga penetapan rencana strategis.
Pengembangan jaringan kerjapun sudah semakin luas.
Bahkan dengan pemerintah sekalipun dalam perspektif pemerintah sebagai partner dengan tetap menjaga jarak kritis, CIS menjalin suatu hubungan yang sinergis.

Perjalanan CIS hingga tahap ini, juga tak lepas dari onak dan duri. Mulai dari konflik internal antara para pendirinya tentang status CIS, masalah pendanaan operasional organisasi ketika tak ada funding hingga konflik antar person di dalamnya.
Relawan CIS-pun sesuai hukum alam, tak semuanya bertahan, ada yang pergi, ada yang pula yang datang.
Saat ini relawan CIS mendekati angka 60.
CIS pernah mengalami masa sulit selama hampir setahun lamanya.
Tanpa funding pada akhir pertengahan 2000 hingga pertengahan 2001, CIS bergerak dengan dukungan dana seadanya dari para pendiri yang masih komit, ada Early Laukoli yang memberikan rumahnya dengan rela untuk dijadikan posko, ada David Radja yang selalu setia memberikan dukungan, Emy Nomleni, Alex Yakob dan masih banyak lainnya, tak kalah penting kesetiaan relawan-relawannya. Juga dukungan dari kedua lembaga pendiri.
CIS juga pernah mendapat caci maki, hujatan, cemooh, bahkan mungkin sumpah serapah dari mitra, relawannya sendiri, juga komunitas dampingannya, mungkin juga dari orang tua relawan karena anaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk CIS.

Suka, duka, cerita sukses dan pengalaman pahit di CIS mengajarkan banyak hal buat relawan-relawannya. CIS turut membentuk diri saya.
Hampir sejam sudah saya merenung dan menulis tentang perasaan dan ingatan akan CIS selama kurun waktu tujuh tahun ini. Serasa tak cukup menuliskan semua yang pernah saya alami bersama CIS, sekalipun baru tujuh tahun kebersamaan itu.

Tujuh tahun, bukan sebuah usia yang matang, CIS masih harus bertumbuh dan terus mengembangkan dirinya.
Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak mimpi yang perlu diraih.
Ada mimpi kemandirian CIS, ada mimpi CIS untuk melayani lebih banyak orang, ada mimpi CIS juga melayani di luar Timor Barat, ada mimpi akan hadirnya sebuah keadilan dan kesetaraan gender, ada mimpi akan hadirnya sebuah komunitas yang menghargai keberagaman dan HAM dan masih banyak mimpi lainnya.
Semoga saat ini dalam tidurnya, semua relawan CIS sedang mengejar mimpi yang sama. Winston Rondo, koordinator relawan pernah mengatakan ...Sebuah mimpi akan cepat menjadi kenyataan kalau impian itu diimpikan bersama....

Alunan syair lagu "¦Bunda"¦ Melly Goeslaw dari winamp komputer terdengar menyejukan hati saya saat pagi menjelang di posko Atambua. Membantu saya mengingat masa-masa ketika CIS turut membentuk saya. Mata ini masih sulit terpejam.
Tiiit"¦..tiiit"¦.bunyi sms masuk di hp usang bermerek nokia, mengusik lamunan.
Ternyata sms dari Frits Lake, seorang relawan CIS di Kupang, ia menulis sebuah pesan pendek,
Satu alasan mengapa Allah menciptakan waktu adalah agar kita punya tempat untuk menguburkan kegagalan-kegagalan dan masa lalu dan menemukan kesempatan di masa sekarang untuk dapat lebih maju. Dirgahayu CIS Timor.
Ternyata bukan saya saja relawan CIS Timor masih terjaga menjelang pagi di hari yang spesial ini.
Hampir jam tiga subuh, suasana sekitar posko masih sepi, dengkuran-dengkuran halus teman-teman lirih terdengar.
Dalam tidur mereka, saya yakin kami semua mempunyai keinginan yang sama, keinginan akan masa depan CIS yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini dengan tetap menjaga semangat kerelawanan yang menjadi ciri dan identitas CIS itu sendiri.

Dalam hati, saya bersyukur dan memohon penyertaan dari Tuhan agar dalam pertumbuhannya CIS selalu menjadikan kasih sebagai dasar dalam setiap langkahnya.
Selamat Ulang Tahun CIS Timor

Terima kasih buat semua relawan CIS Timor dan semua orang pernah dan tetap peduli dengan CIS Timor yang tidak bisa disebutkan satu per satu
Juga buat semua komunitas dampingan yang turut membesarkan CIS Timor hingga saat ini.

---------------------------

 

. : : Tiga Perempuan Pejuang Hidup : : .

Sebuah kisah kemandirian sosok perempuan di kamp pengungsian, berjuang melawan kerasnya kehidupan tanpa kenal putus asa.

 

Oleh : Olkes Dadilado

 

Elisabeth Namok, belum genap 30 tahun. Tidak terlalu tinggi sekitar 150-an sentimeter, gemuk, berambut ikal. Oleh anak-anak asuhnya akrab dipanggil ma Elis.

 

Ini kali kedua saya bertemu dia. Pertama saat pelatihan Relawan Informasi Komunitas (RIK)di Emaus-Nenuk, akhir Nopember setahun yang lalu. Ia bersedia menjadi RIK di kamp Weraihenek hingga saat ini. Orangnya cerewet, supel, enak diajak diskusi.

 

Sekarang ini, ada sembilan anak yang di asuh, kata Elis menunjuk kumpulan anak kecil di hadapan kami. Dari kesembilan anak yang diasuhnya itu, cuman dua anak yang belum sekolah, masih kecil. Sedang tujuh lainnya sudah, dua di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), satu di SMP dan empat lainya masih di bangku Sekolah Dasar (SD).

 

Kami ada tiga orang yang urus ini anak dong....Saya, ma Eny dengan ma Ela.

 

Elis Namok, berasal dari Dafala-Wedomu. Eny Mooy dari Rote, sedangkan Ela atau Angelina Bui adalah sepupu Elis. Ketiganya sama-sama bekerja di Dili dan mengungsi ke Atambua setelah konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur pada 1999 lalu.

 

Impian dan hasil kerja keras kami selama di Dili, hilang tak berbekas saat kerusuhan pasca jajak pendapat 1999 di Timor Timur.

 

Kami lari datang hanya bawa pakaian satu lemari, VCD (Video Compact Disc player), dengan sepeda motor supra fit satu, ujarnya.

 

Bulan Oktober 1999 itu baru kami mulai tinggal di kamp Weraihenek, ungkap Elis.
Sejak itulah,
Elis, Eny dan Ela memulai usaha kios kecil mereka.


Modal awalnya itu 250 ribu sa, Kata Elis. Dari waktu ke waktu, modal awal 250 ribu rupiah ditambah sedikit pengalaman dan ilmu wira usaha Elis dan Eny, usaha mereka kian berkembang. Kini telah mempunyai dua kios kecil di Weraihenek dan di samping stadion Haliwen. Setiap harinya, mendapatkan penghasilan kotor sebesar 50 ribu rupiah per kios. HAsilnya untuk lanjutkan usaha dan biayai anak yang kami asuh.

Dari tahun 1999 hingga kini sudah sembilan anak yang berada dalam asuhan mereka. Semuanya masih mempunyai pertalian saudara dengan tiga perempuan tangguh ini.
Kami ini maunya bukan hanya anak saudara saja yang kami tolong tapi anak orang lain juga, kata Elis.

 

Masalahnya orang belum percaya kita e"¦orang kira kita mau rampas dong pung anak, jadi ya kami mulai dulu dengan saudara pung anak, timpal Eny menjelaskan. Padahal menurut Elis, tujuan mereka murni ingin membantu anak-anak untuk bisa bersekolah.

 

Kami paling bisa bantu itu sampai SMA, itu juga kalo banyak orang mungkin agak berat. Paling tamat SMP-lah, ujar Elis.

 

Rasanya tidak tega kalo lihat ada anak yang putus sekolah, sambung Eny. Kami bilang ke orang tua mereka, kalo kesulitan biaya sekolah anak, mari ko kita duduk sama-sama pikir jalan keluarnya, lagi kata Elis.

 

Oleh karena itu, mereka hanya mau menampung dan mengasuh anak-anak yang sudah mendapat persetujuan dari para orang tua. Syarat utamanya sangat sederhana, Yang penting itu anak mau sekolah, ujar Eny.

 

Kalo tidak mau sekolah, kami tolak, tegas Elis. Orang tua kandung anak-anak ini, semuanya masih lengkap. Ada yang pi jadi TKI di Malaysia sana. Yang lain, orang tuanya di Kupang, jelas Elis. Itu ada satu dari Baumata sana (279 km dari Atambua). Elsa tu, sekarang dia su kelas dua SMA, celetuk Eny, sambil menunjuk seorang gadis remaja yang tersenyum malu, duduk di sebelah kanan tak jauh dari Elis dan Eny.

 

Hubungan antara anak-anak ini dengan orang tua kandung mereka tetap terjalin, lewat kunjungan langsung maupun surat.


Selain membantu membiayai kebutuhan hidup dan sekolah anak-anak seperti biaya buku-buku hingga uang jajan dan transport,
Elis, Eny dan Ela juga mendorong minat belajar anak sebisa mungkin. Terbukti dari tujuh anak yang sudah bersekolah, tiga yang prestasinya di sekolah bagus. Elsa Haumeni, saat ujian kenaikan kelas yang baru lewat, mendapat rangking dua. Yanto, kakak pertama, Melda, Maxi dan Idus juga selalu dalam sepuluh besar terbaik dikelasnya di SMP N I. Begitu juga dengan Melda di SD Katholik I, saat naik ke kelas enam belum lama ini mendapat juara II mengungguli teman-temannya yang kebanyakan anak keluarga mampu.

 

Tak banyak yang diharapkan ketiga perempuan tangguh ini selain harapan akan masa depan yang baik bagi kesembilan anak asuhan mereka.

 

Kami hanya bantu kasi sekolah sa, soal masa depan, ada di dong pung tangan sendiri e dan hanya harap supaya suatu saat, apapun yang dong pilih entah sekolah lanjut ka atau buka usaha, jangan bikin malu kami sebagai orang tua ini,

 

Saat ini, keluarga besar ini sedang menanti waktu yang tepat untuk pindah ke lokasi baru, ke tanah mereka sendiri yang dibeli secara bersama dengan 82 keluarga lainnya di dusun Haliwen desa Kabuna. Elisabeth Namok termasuk salah satu yang mewakili kelompok perempuan dalam negosiasi lahan mandiri belum lama ini.

 

Elsa dan adik-adiknya termasuk anak-anak yang beruntung dibanding jutaan anak lain di Republik Tercinta ini yang kurang beruntung hingga ulang tahun ke 61 negeri ini, kehilangan kasih sayang orang tua akibat konflik, bencana alam bahkan menjadi korban perdagangan anak. Setidaknya, menurut saya, Elsa dan kedelapan adiknya masih bisa menikmati hak-hak mereka sebagai seorang anak manusia.

 

 

 

---------------------------

 

 

 

Copyright ©2011 CIS Timor. All rights reserved | designed by : @le