1 CIS TIMOR “Jadi Inspirasi untuk Perubahan” Jadi Relawan, Jadi Inspirasi

CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cistimor@gmail.com

Edisi I Edisi LXXIV Rekonsiliasi di Timor Timur
Edisi II 2
Edisi III 3
Edisi IV   4
Edisi V 5
Edisi VI TNI dan Pengungsi "HABIS MANIS SEPAH DIBUANG" 6
Edisi VII Rekonsiliasi Hati 7
Edisi VIII 8
Edisi IX Resetlement (Pemukiman Kembali) "Antara ada dan Tiada" 9
Edisi X Kamp Noelbaki, Riwayatmu Kini..!! 10
Edisi XI   11
Edisi XII 20 Mei, Apakah Tanggal Itu Berarti...?? 12
Edisi XIII LSM di Kamp Pengungsi "Beri Ikan atau Pancing" 13
Edisi XIV Resettlement "Sampai Dimana Ceritanya...??? 14
Edisi XV Semangat Belajar "Dian yang Tak Kunjung Padam" 15
Edisi XVI Kebunku Nafas Hidupku 16
Edisi XVII Suara HAti sang "Labarik" 17
Edisi XVIII HUT RI dan Nasib Pengungsi "Merah Putih di Sudut Kamp Pengungsi" 18
Edisi XIX Pemerintah RTDL "Perahu Kecil di Tengah Badai" 19
Edisi XX 31 Agustus, Biti Bot dan Orang Lokal yang Resah 20
Edisi XXI Ketika Kita HArus Memilih. . .! ! 20
Edisi XXII Relokasi Rekonsiliasi 20
Edisi XXIII Bagaiman Dengan yang Tinggal? 20
Edisi XXIV Ketika Orang Tuapukan Menuntut Ganti Rugi 20
Edisi XXV Mencari Kambing Hitam di Hutan Wemer 20
Edisi XXVI Repatriasi : Kenapa Dibuka Lagi? 20
Edisi XXVII Kabar dari Lolukalay 20
Edisi XXVIII Registrasi Lagi 20
Edisi XXIX Didalam Data, Diluar Bongkar 20
Edisi XXX Relokasi, Sampai dimana Ceritanya? 20
Edisi XXXI Uang Jepang, Dinkes dan Kimpraswil 20
Edisi XXXII Mari Ciptakan Kedamaian 20
Edisi XXXIII Relokasi dan Pelaksanaannya 20
Edisi XXXIV Pemilu di Kamp..?? 20
Edisi XXXV Titipan Harapan dari Derok Aitos 20
Edisi XXXVI Bagaimana Setelah Lahan Didapat??? 20
Edisi XXXVII Lahan Bagi Masa Depan Keluarga 20
Edisi XXXVIII Berusaha ditengah Keterbatasan 20
Edisi XXXIX Pemukiman Lokal, Apa Kabarmu...? 20
Edisi XL Pemukiman Mandiri, Apa Sikap Kita? 20
Edisi XLI BBR Datang Lagi....!!! 20
Edisi XLII Kabar dari Pulau Sumba 20
Edisi XLIII Mereka yang Terlupakan 20
Edisi XLIV Kami Butuh Pemukiman 20
Edisi XLV Buah dari Ketekunan 20
Edisi XLVI Bukti Sebuah Kemandirian 20
Edisi XLVII Apa Dukungan Kita Bagi Mereka 20
Edisi XLVIII 20
Edisi XLIX Negosiasi Lahan 20
Edisi L 20
Edisi LI 20
Edisi LII 20
Edisi LIII 20
Edisi LIV 20
Edisi LV 20
Edisi LVI 20
Edisi LVII 20
Edisi LVIII   20
Edisi LIX   20
Edisi LX   20
Edisi LXI   20
Edisi LXII   20
Edisi LXIII   20
Edisi LXIV   20
Edisi LXV   20
Edisi LXVI   20
Edisi LXVII   20
Edisi LXVIII   20
Edisi LXIX   20
Edisi LXX   20
Edisi LXXI   20
Edisi LXXII   20
Edisi LXXIII   20
Edisi LXXIV   20
Edisi LXXV   20
Edisi LXXVI   20
Edisi LXXVII   20
Edisi LXXVIII   20
Edisi LXXIX   20
Edisi LXXX   20
Edisi LXXXI   20
Edisi LXXXII   20
Edisi LXXXIII   20
Edisi LXXXIV   20
Edisi LXXXV   20
Edisi LXXXVI   20
Edisi LXXXVII   20
Edisi LXXXVIII   20
Edisi LXXIX   20
Edisi XC   20
Edisi XCI   20
Edisi XCII   20
Edisi XCIII   20
Edisi XCIV   20
Edisi XCV   20
Edisi XCVI   20
Edisi XCVII   20
Edisi XCVIII   20
Edisi XCIX   20
Edisi C   20
. : : P a n i k : : .

(Sepenggal cerita dari belakang meja Finance)


***

 

oleh : Frits Isak Lake, S. Sos

 

***


Siang itu tepatnya hari senin tanggal 28 Agustus 2006, di ruang finance banyak berkas yang berhamburan dan banyak pekerjaan yang menumpuk.

 

"Hari ini deadline laporan keuangan", teriakku dalam hati. Seharusnya laporan keuangan harus masuk ke Oxfam GB tanggal 24 setiap bulannya tetapi bulan ini saya sudah terlambat memasukkan laporan. Seminggu sebelumnya saya mengikuti kegiatan konpercab GMKI Kupang di Naioni Kec. Alak Kota Kupang dan baru pagi tadi saya balik ke kantor.

 

Saya masih ingat waktu pagi tadi, Winston Rondo (direktur CIS Timor) menelpon saya,
"Frits, ada dimana sekarang?", kata Winston di telepon. "Kenapa belum balik Kantor?", Lanjutnya
"Maaf Kak, Beta tadi malam sonde dapat Motor. Sekarang Beta sudah di Bemo", Jawab Saya Kepada Winston.


"Frits, Pokoknya beta sonde mau tahu, ini hari lu harus kasih masuk Laporan Keuangan", Kata Winston sambil menutup Telepon.

Ketika saya tiba di kantor, Winston sudah menunggu dengan wajah yang cemberut dan tidak mengatakan sesuatu. Saya hanya menyapa dia sambil terus masuk ke dalam ruangan finance.


Saya mulai mengerjakan laporan keuangan yang telah saya tinggalkan selama seminggu dan saya dapati ternyata masih banyak yang harus saya buat. Lembar demi lembar kwitansi dan nota-nota mulai saya susun berdasarkan urutan waktu pembelanjaan, kemudian memasukkannya dalam computer cash (Format yang ada dalam Komputer). Ada beberapa form yang belum saya buat dan belum ditanda-tangani oleh kawan-kawan yang lain. Ini membuat pekerjaan saya yang harusnya sederhana menjadi bertambah karena harus bolak-balik keluar ruangan mencari kawan-kawan untuk mengisi form yang kurang.

 

"Coba ini laporan, beta su cicil-cicil dari awal bulan mungkin beta sonde akan susah begini" kata saya pada Iwan Rona, teman finance yang ikut membantu saya. Ini memang salah satu kebiasaan jelek saya, sering menunda-nunda pekerjaan.

 

Hari makin siang waktu terus berputar seperti mengejar saya. Menyusun, menempel, mengisi form yang kurang, mencari kawan lain untuk tanda-tangan merupakan rangkaian pekerjaan yang harus saya buat hari itu dan rasa-rasanya hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Saya terus bekerja dibantu oleh Iwan, ada Iren, dan Ruslan yang ikut menempel nota-nota yang telah selesai saya susun. Mulai dari meja kerja saya pindah ke lantai karena meja kerja saya hampir tidak bisa memuat kertas-kertas yang semakin menumpuk dan berserakan. Saya butuh tempat yang lebih luas jadi terpaksa lantai ruangan jadi pilihan saya.

 

Di sela-sela saya mengerjakan laporan, Winston masuk ke ruang finance untuk memantau saya bekerja, "Ama, su ada yang bisa beta tanda-tangan ko?" kata Winston. "Sudah kak" Jawab saya sambil menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani.

 

Jam 12.30 siang, Nancy, Finance Oxfam GB menelpon saya dan menanyakan tentang perkembangan laporan keuangan.


"Siang Pak Frits, kapan saya bisa dapat laporan CIS” Kata Nanci mengawali pembicaraannya di telepon.

"Sorry kak, Laporan sudah habis dan sekarang masih ditempat Foto Copy" Jawab saya sambil berkelit untuk mengulur waktu.

"Masa sudah tanggal begini, laporan juga belum kasih masuk?". Kata Nancy agak ketus.
"Sebentar sore Laporan CIS sudah harus diantar ke sini" Lanjut Nancy dengan suara tegas.
"Ok kak, beta usahakan” Kata Saya sambil mengakhiri pembicaraan ditelepon.
Pembicaraan di telepon itu membuat saya bertambah panik!

 

Sekitar jam 4 sore, semua nota sudah selesai saya tempelkan dan tinggal mengentrinya dalam komputer. Saya semakin panik karena waktu tinggal sebentar lagi. Karena saking paniknya kaki saya menyentuh tombol reset pada komputer dan komputer harus direstrart dari awal.

 

"Komputer Bangsat", teriak saya sambil memukul monitor komputer. Bayangkan sudah banyak data yang saya entri dan saya belum sempat menyimpannya. Saya harus mulai mengerjakannya dari awal.


"Tenang...tenang...tenang..."saya berkata sendiri untuk menenangkan diri saya yang lagi panik.
Tepat jam 4.30 semua laporan sudah selesai saya kerjakan dan tinggal beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Winston. Setelah Winston selesai saya menjadi lega.

 

Dari peristiwa hari itu saya belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan sekecil apapun, karena saya menyadari tidak banyak yang bisa saya buat berhubungan dengan komunitas dampingan. Pekerjaan saya hanyalah membuat laporan keuangan untuk mensuport kawan-kawan lain yang bekerja di lapangan. Tapi berbuat yang terbaik dari pekerjaan saya akan membuat segalanya menjadi indah.

 

***

 

(Posting, Kupang, 28 January 2008)

 

***

 


 

-----------------------------------

 

 

 

. : : Adui dan Neneknya : : .

Oleh : Yeany Baramata

 

***

 

Maret 2004, saya bersama Nato, sesama relawan di CIS Timor, mengunjungi kamp Sukaerlaran. Sekitar 25 kilometer dari Atambua. Kamp ini terletak dibibir pantai tak jauh dari lokasi wisata pantai Sukaerlaran. Hampir sebagian penghuni kamp ini adalah nelayan.

 

Saat itu kami membawa Lorosae Lian (LL). Sebuah newsletter produksi CIS berisi informasi tentang perkembangan kondisi pengungsi eks Timor Timur.


Sambil distribusi LL, kami juga berdiskusi tentang isinya dengan orang-orang yang menerimanya.

 

Saat berkeliling kamp, di deretan depan kamp, kami bertemu seorang Abo* yang berusia kurang lebih 60 tahun. Namanya saya lupa, dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Beruntung ada Nato sehingga bisa membantu saya menerjemahkannya.


Ibu ini tinggal bersama dengan cucu laki-laki yang umurnya delapan tahun. Ia biasa dipanggil Adui. Tubuhnya tidak seperti anak-anak seumurannya. Tidak bisa bicara. Air liurnya keluar terus menerus. Kakinya berbentuk huruf O, kalau berjalan seperti orang pincang.


Ketika melihat saya, Adui langsung tersenyum. Raut wajahnya seolah-olah tanpa beban.

"Dia pung orang tua tinggal di mana? Kenapa ko Adui pung kondisi begini?" tanya saya beruntun karena penasaran. Lalu neneknya menjawab, yang diterjemahkan oleh Natu, bahwa orang tuanya tinggal di TL, karena beda prinsip politik akhirnya mereka berpisah.


"Kami ini kan orang Indonesia, dulu kami dapat makan dari orang Indonesia jadi kami ingin tetap menjadi WNI walaupun harus berpisah dengan keluarga kami itu adalah resikonya".


Adui ikut bersama neneknya karena nenek ini tinggal sendirian. Adui kena "hela" (kejang-kejang pada bayi disertai panas tinggi) waktu masih lima tahun setelah mereka tinggal di kamp Sukaerlaran.

 

Saya bingung, dalam hati timbul pertanyaan, "Kok bisa nenek setua ini merawat cucunya seorang diri dengan kondisi cucu yang cacat, bagaimana kalo seandainya nenek ini sakit?"
Saya tidak habis pikir, mengapa masih ada orang tua yang rela meninggalkan anak mereka yang cacat dan tinggal dengan seorang nenek walaupun itu adalah nenek kandungnya?.

 

"Nenek setiap hari kerja apa sa, pegawai negeri kah ato pensiunan?" Tanya saya lagi.
"Saya tidak ada kerja, hanya di rumah sa. Kalo untuk makan biasanya keluarga yang bantu, mereka pegawai juga nelayan". Jawabnya.

 

Saya jadi tambah bingung dengan jawaban yang saya dengar, apakah solidaritas sesama atau keluarga setinggi itu kah sehingga mereka mau membiayai kehidupan orang lain selain keluarga inti mereka, padahal kalo dilihat bahwa kondisi masyarakat kamp ini tidak jauh berbeda dengan sekelompok pemukiman kumuh yang kondisi rumahnya pas-pasan untuk tidur dan masak, makan juga tidak 3 kali sehari dengan menu yang standar (nasi/jagung, ikan atau jagung, sayur dan nasi dimasak sekalian).

 

Saya jadi terharu juga mendengar kisah ini, jika dibandingkan dengan saya mungkin saya tidak akan berani mengambil tindakan seperti ini, lebih baik berkumpul dengan keluarga daripada harus bersusah-susah di daerah lain.

 

Agar tidak terlalu kentara rasa ingin tahu ini, saya kemudian berusaha mengalihkan perbincangan dengan anak-anak yang bermain di sekitar itu. Tak lama kemudian Nato mengajak saya pergi.

 

Kami kemudian bertemu dengan koordinator kamp Sukaerlaran. Namanya Sudrajat. Tinggi, kurus. Ia berasal dari Jawa yang menikah dengan perempuan asal Maliana. ia dipilih menjadi coordinator kamp karena pensiunan TNI dan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang tua dikamp tersebut. Rumahnya tidak jauh dari rumah abo tadi.

 

Saat kami sedang bercerita dengan koordinator kamp Sukaerlaran, yang meminta dukungan alat penangkapan ikan bagi mereka, Adui juga datang dan saat saya melihat dia, senyuman yang sama saat jumpa pertama tadi kembali tersungging di bibirnya. Ia mendekat menjawab lambaian tangan saya, berdiri tak jauh di samping kanan saya.


Saya kembali terlibat diskusi dengan Nato dan Sudrajat. Adui menatap kami serius, seakan mengerti apa yang kami diskusikan saat itu sambil sesekali tersenyum. Tak sepotong kalimatpun keluar dari mulut mungilnya itu, hanya sunggingan senyumannya yang membawa ketenangan dalam hati saya.

 

Dalam perjalanan pulang, di atas sepeda motor Honda Win, karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh nenek Adui tadi, saya bertanya lagi ke Nato, "Nato kalo dikamp tuh, orang masih saling baku bantu ko, padahal dong pung kondisi ju lagi susah begitu?"

"Yah orang Timor itu begitu Yen, tolong menolong itu sudah menjadi budaya, tapi kasus nenek ini agak lain karena dia datang sendiri tanpa ada keluarga lain. Bisa saja nenek itu datang ke sini bukan karena maunya sendiri tapi keluarga yang mungkin memaksa dia untuk ikut, sehingga keluarga yang harus bertanggungjawab untuk membiayai kehidupan mereka e..e.." jawab Nato disela-sela deru mesin motor.

 

Mendengar jawaban dari Nato, saya salut dengan sikap politik mereka yang tetap setia dengan komitmen mereka untuk tetap menjadi WNI yang walaupun perhatian yang diberikan oleh negara tidak sebanding dengan apa yang mereka korbankan.


Cerita nenek dan adui ini ingin mengajarkan kita tentang arti sebuah komitmen hidup, walaupun harus kehilangan segalanya dan harus tinggal sendiri di negri orang dengan tiada kepastian status mereka di negri itu, tidak menjadikan mereka putus asa tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi yang ada dan berusaha berjuang sendiri untuk mendapat pengakuan terhadap komitmen mereka.

 

(Posting, Kupang, 29 January 2008)

 

***

 

 

-----------------------------------

 

 

 

. : : Sore itu, "Saya Reporter atau Relawan Pendamping?" : : .

Oleh : Alfred W. Djami

 

***

 

Tulisan ini terinspirasi setelah saya menyelesaikan tugas wawancara di Dusun Weraihenek Desa Kabuna kabupaten Belu suatu sore pada minggu kedua Desember 2005.

 

***

 

Waktu itu sementara hujan. Lokasi ini adalah lokasi dampingan saya, sehingga informasi tentang komunitas ditempat itu sedikit banyaknya saya kuasai. Anehnya saya diberi tugas oleh Pemred (pemimpin redaksi) yang juga ketua divisi untuk melakukan wawancara untuk rubrik Liputan Utama "Lorosae Lian".

 

Point Refleksi dari tulisan ini pasti sederhana buat anda yang mempunyai banyak pengalaman, tapi buat saya, ini membingungkan. Bagaimana kita menempatkan diri sebagai orang yang merasa sudah tau tetapi diharuskan untuk mencari tau lagi.

 

Saya mengalami kesulitan dalam melakukan wawancara. Mungkin ini keluhan. dua hal yang menyebabkan hal itu terjadi adalah pertama; pertanyaan di dalam TOR mengharuskan Nara Sumber untuk terbuka akan komitmen komunitas untuk melakukan tindak lanjut bagi pemenuhan pemenuhan kebutuhan secara mandiri. Pertanyaan ini - menurut saya, yang juga sebagai relawan pendamping- adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh komunitas. Karena bisa saja sudah ada "ketergantungan" terhadap pendamping; dalam hal mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar komunitas.

 

Seperti pernah yang saya dengar ketika melakukan pendampingan kepengurusan tanah beberapa waktu lalu, seorang bapak berkata "Kami disini percaya di adik sa..." kalimat ini mungkin bukan hanya saya saja pernah dengar, relawan yang lain juga. Bagi saya; ada beberapa makna dari kalimat tersebut. Mungkin ini salah satu bukti penerimaan komunitas terhadap pendamping!. Saya tersanjung kalau memang kondisinya begitu.

 

Tetapi mungkin juga masyarakat selalu menganggap kita adalah si penghasil "solusi", sehingga masalah apapun kecil atau besar, private atau umum yang berhubungan dengan mereka, maka untuk pencarian solusinya hanya dengan menunggu si pembawa solusi untuk menyelesaikannya. Mereka tidak kreatif lagi. Tidak menjadi aktor terhadap permasalahan mereka.

 

Singkatnya, bisa saja kepercayaan diri didalam tubuh komunitas is gone ketika orang yang selama ini diharapkan banyak memberikan jawaban berubah menjadi seorang yang bertanya banyak. Ya Tuhan jangan sampai itu terjadi.

 

Kedua; Kesulitan itu ada kerena keterbatasan dalam mengkomunikasikan point-point TOR menjadi sederhana dan mudah dimengerti oleh nara sumber. Saya (reporter-red) yang tidak mampu membahasakan point pertanyaan yang ada didalam TOR menjadi sederhana dan mudah dimengerti. Jika memang begitu, mungkin hal pertama yang harus saya lakukan adalah seperti yang diungkapkan oleh Pemred saya, bahwa kita jika ada dalam posisi reporter maka tempatkanlah diri anda sebagai penonton yang mempunyai keinginan dalam menguasai ini cerita dan membagi kepada orang lain. Bukan menjadi aktor yang ditonton.

 

***

 

Yang masih menjadi tanda tanya besar dikepala saya adalah "Dimana posisi saya saat itu, Penonton atau yang ditonton ? Ukhhh...". Saya menjadi semakin bingung.

 

(Posting, Kupang, 29 January 2008)

 

***

-----------------------------------

 

 

 

. : : Kisah yang di tinggalkan : : .

Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini".

 

***

 

Oleh : Theo Wetangterah

 

***

 

Jalan yang kami lewati menuju lokasi itu masih berbatu. Di kiri dan kanan jalan berdiri rumah-rumah warganya. Hanya sepuluh meter jaraknya dari ruas jalan utama, truk yang akan mengangkut barang dua keluarga yang akan pindah ke Bortetuk berhenti. Saya dan None bergegas turun dari truk dan menghampiri beberapa warga yang siang itu terpaksa bernaung di bawah terik matahari karena rumahnya, mungkin lebih tepat disebut gubuk- telah dibongkar. Tidak jauh dari tempat itu tiga orang laki-laki sementara duduk menikmati sebotol sopi dan satu jeriken lima liter yang berisikan laru putih, mereka asik bercerita dalam bahasa mereka yang tak kami mengerti.

 

Kami dipersilahkan duduk di tempat yang masih kosong, dan cerita awal dalam dua bahasapun dimulai. Saya dan None bersama dua orang laki-laki lainnya berceritra dalam bahasa Indonesia sedangkan mereka yang lain terus berceritra dalam bahasa tadi.

 

"Muat bebak duluan," teriak seorang laki-laki setengah baya yang berada tidak jauh dari kami sehingga membuat pandangan kami berpaling kepadanya dan cerita dalam dua bahasa itu berhenti sejenak.

 

Tanpa menunggu teriakan yang kedua kalinya, empat orang anak muda sudah berdiri disekitar tumpukan bebak itu dan langsung memindahkannya ke atas truk. Cerita dalam dua bahasa kembali berlanjut.

 

Proses memindahkan barang-barang yang berserakan dipinggiran jalan dan ceritra dalam dua bahasa terus berjalan hingga akhirnya harus berakhir karena truk yang mengangkut barang itu sudah sarat dengan barang dan orang-orang yang akan pindah. Truk siap berangkat dan itu berarti satu keluarga berkurang dari lokasi itu.

 

Sebelum truk itu berangkat meninggalkan lokasi itu, muncul satu truk lagi dengan fungsi yang sama. Dan berkurang lagi satu keluarga.

 

Derai air mata tidak dapat dibendung tatkala truk harus berangkat meninggalkan lokasi itu. Dan itu berarti mereka harus meninggalkan tempat itu, meninggalkan kenangan yang sudah terjalin tujuh tahun lamanya, kenangan yang indah dalam ikatan keluarga besar kecamatan Bobonaro.

 

Masih terbayang dalam ingatan Baltasar Guteres, koordinator kamp Sukaerkolam, kenangan masa lalu tatkala masih lengkap 70 keluarga.

 

Ia hanya bisa berucap, "Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini". Pandangan matanya menerawang jauh.

Lapangan voli yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami menjadi saksi bisu bagaimana suasana waktu dulu. Atau ruas jalan ini menjadi saksi ketika mentari mulai kembali ke peraduan dan warga berkumpul disitu sambil berceritra dan memainkan lembaran kartu yang ada ditangan mereka.

 

Namun semuanya itu tinggal kenangan.

Berawal dari kalender yang digantung dirumah itu sudah dibalik dan muncul tulisan Nopember 2005, ditahun itu 50 keluarga harus meninggalkan kamp Sukaerkolam menuju tempat baru yang lebih menjanjikan, yang dicari dan diusahakan mereka sendiri. Di Bortetuk - Halifunan.

 

Dan kini baru setahun ia merasakan kehilangan 50 keluarga anggota komunitasnya. Saat tersisa sebelas keluarga lainnya, iapun kembali harus merelakan dua keluarga lainnya meninggalkan kamp itu ketika kalender yang ada, bertuliskan 18 Juli 2006 dan lagi-lagi ke Pemukiman mandiri Bortetuk - Halifunan.

 

"Dulu kami 70 keluarga, setelah 50 pergi tahun lalu kami tinggal 11 keluarga dan sekarang setelah dua hari yang lalu (19/07) dua KK pergi tinggal sembilan keluarga sa dan kami merasakan seperti ayam yang kehilangan induknya," ujarnya lagi dengan mata masih tetap menerawang jauh, namun kali ini terlihat sedikit berkaca karena ada gumpalan air yang berada dalam mata itu.

 

Dan kata itu terulang lagi, "Dulunya kalau jam begini, disini ramai karena anak-anak muda ada main voli dan semua keluarga berkumpul disini".

 

Hari itu 21 Juli 2006 sekitar pukul 17.00 WITA, saya berkunjung ke lokasi itu dan menemui pria kelahiran 48 tahun lalu itu. Disana ia masih berkumpul dengan keluargannya yang lain dan masih menggunakan ruas jalan itu untuk berkumpul bersama dan tradisi lama masih terus mereka jalankan yaitu berkumpul di tempat itu sambil berceritra dan memainkan lembaran-lembaran kartu yang ada ditangan mereka. Walaupun suasananya sudah berbeda karena tidak ada lagi anak-anak muda yang bermain voli.

 

Hanya ada satu harapan yang ia ucapkan sambil matanya tetap menerawang Mudah-mudahan di tempat yang baru itu mereka bisa bertani dengan baik sehingga hidup lebih baik lagi. Dan bagi yang masih menetap disini, "Kita harus tetap berusaha".

 

Tulisan ini sudah pernah dimuat dalam Lorosae Lian

 

Keterangan :

*** Sopi : Jenis minuman keras dari Timor . Laru putih : jenis lain minuman keras yang kadar alkoholnya lebih rendah.

 

(Posting, Kupang, 28 January 2008)

 

***

 

-----------------------------------

 

 

 

. : : Surat dari Lapangan : : .

Surat yang berisikan suka, duka bekerja sebagai relawan serta semangat hidup warga baru di Raknamo.

 

Oleh : Merry Djami

 

Siang menjelang sore, pada Rabu 11 Januari itu ibarat mengisyaratkan semua orang yang lelah setelah sibuk bekerja menunggu, mengangkat barang, mengatur barang, menyetir, meneriakan aba-aba, berjalan kesana kemari mengurusi segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pemindahan, memberikan penjelasan, menenangkan warga yang panik, memotret, menelfon, untuk beristirahat sejenak menunggu lanjutan kegiatan pemindahan pada esok hari, Kamis tanggal 12.

 

Pukul 11. 30 wita, kegiatan pemindahan selesai. Memang lebih awal dibandingkan dengan kemarin karena keluarga yang menunggu pindah hanya tersisa 7 (tujuh).


Tim relawan yang bertugas kini bisa bernapas lega karena punya waktu untuk berpikir hal yang lain tanpa beban.

 

Namun masalah belum selesai, kenyataannya kondisi 50 keluarga ini cukup memprihatinkan. Mereka sudah dapat rumah baru, yang kalau mau dibilang modelnya lebih baik dari rumah lama mereka waktu masih di kamp. Tapi rumah baru saja tidak menjamin mereka hidup layak karena dapur mereka relatif tidak bisa mereka andalkan dalam menjalani waktu-waktu menunggu penanganan lanjutan.

 

Sudah semestinya setiap keluarga yang mengikuti program relokasi pemerintah, memperoleh hak dan kesempatan untuk menerima jaminan hidup selama 6 (enam) bulan. Mereka akan menerima hak itu setelah beberapa minggu menempati rumah di relokasi, belum ada penentuan tanggal realisasi yang pasti dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial.

 

Clara mempunyai empat anggota keluarga, bersamanya ada Carlos Soares sang suami, Brigina Besaung tantenya, Marsel dan Marselina kedua anaknya yang masih balita.


Clara sudah mengenal saya, Ape, Sally dan Robby semenjak ia dan keluarganya masih tinggal di kamp Tuapukan.

 

Sejak memutuskan untuk mengakhiri hidup di kamp dengan pindah ke pemukiman lokal Raknamo, ia selalu mengingatkan saya dan Robby untuk tidak hanya fokus pada pendataan dan pemindahan tapi juga perlu memikirkan soal pangan. Beberapa kepala keluarga juga memberikan catatan yang sama.

 

Namun pada saat kegiatan pemindahan semua orang larut dalam hiruk pikuk kesibukan, Clara tidak demikian, ia terus getol mengingatkan kami bahkan sikapnya cenderung mengisyaratkan tuntutan. "Meri tidak bisa hanya kasih pindah kami saja, kaliang harus kasih makan kami, kalo kami oran besar bisa tahan lapar tapi anak-anak bagaimana. Kemaring ada nasi bungkus, ini hari tidak ada! Pokoknya Meri harus perhatikan kami !"
Teman-teman lain seperti Vecky, Sally dan None juga ia temui dengan tuntutan yang sama. Saat itu hari kedua ia tinggal di Raknamo.

 

Pada hari ketiga hal yang samapun terjadi, kini suaminya juga tidak mau kalah, turut serta menggelar tuntutan.

 

Hari keempat, Clara terus menunggu kalau-kalau ada motor yang biasa dipakai relawan muncul di sana.
Sikap Clara kami nilai sangat rewel dan menjengkelkan.
Berbagai penjelasan dengan suara tinggi dan permohonan untuk bersabar kami lakukan agar ia bisa diam. Jujur saya pribadi merasa sangat terganggu, seandainya kami adalah lembaga yang kaya ,......tapi saya merasa tidak berdaya menghadapinya.

 

Hari kesembilan tiba, kali ini bukan lagi Clara, bukan juga Carlos, tapi yang lain, ada Manuel, Maria, Eva, Alfonso, Dominggus, Julio dan lainnya. Mereka tidak sekeras Clara dan Carlos, mereka cukup santun menceritakan keadaan sebenarnya.

 

"Kemaring sore saya deng Adrianus minta beras di kepala dusun, kami dapat empat kilo, tapi saya hanya dapat stenga, Adrianus ambil tiga stenga, saya jengkel dengan dia," cerita Manuel pada saya dan Robby di rumah mama Maria. Waktu itu saya minta ijin menggunakan kamar kecil di rumah mama Maria, naas waktu keluar dari kamar kecil saya digigit anjing peliharaan mama Maria, terpaksa saya harus masuk untuk meringankan rasa sakit akibat gigitan itu, tidak berdarah tapi bengkak sedikit di bawah pantat kiri. Anak mama Maria sedang sakit, batuk dan kepala, sudah tiga hari hanya tidur saja.

 

Robby datang membawa minyak tawon dan kami berkumpul di situ. Manuel ada situ sejak mendengar saya digigit anjing.

 

Hari kesepuluh kami berada di sana, kali ini kami melihat langsung sebagian dari mereka makan kacang hutan. Proses olahnya sangat lama, harus direbus empat sampai lima kali.


Kami membawa obat parasetamol dan bintang tujuh untuk anak mama Maria, ternyata kami juga menemukan orang sakit lainnya, ada anak balita yang sangat kurus, tujuh bulan usianya dengan berat hanya enam kilogram, ada juga anak lain yang kasat mata dapat diduga menderita gisi buruk. Seorang anak laki-laki terbaring lemas, Anastasio namanya berumur tujuh tahun. "Sudah lima hari tidak mau makan," kata bapaknya dengan nada lemas.


Anastasio tidur di lantai beralas tikar lusuh dan berdebu, tubuhnya kurus sekali, rusuknya menonjol jelas, perut kempes dan kulitnya pucat.


Saya bersama Robby meminta ijin pada bapaknya untuk berdoa. Kami berdoa bersama pada siang itu.

 

(Posting, Kupang, 29 January 2008)

 

***

 

Copyright ©2011 CIS Timor