





CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cistimor@gmail.com










![]()
| Edisi I | Edisi LXXIV Rekonsiliasi di Timor Timur | |
| Edisi II | ||
| Edisi III | ||
| Edisi IV | ||
| Edisi V | ||
| Edisi VI | TNI dan Pengungsi "HABIS MANIS SEPAH DIBUANG" | |
| Edisi VII | Rekonsiliasi Hati | |
| Edisi VIII | ||
| Edisi IX | Resetlement (Pemukiman Kembali) "Antara ada dan Tiada" | |
| Edisi X | Kamp Noelbaki, Riwayatmu Kini..!! | |
| Edisi XI | ||
| Edisi XII | 20 Mei, Apakah Tanggal Itu Berarti...?? | |
| Edisi XIII | LSM di Kamp Pengungsi "Beri Ikan atau Pancing" | |
| Edisi XIV | Resettlement "Sampai Dimana Ceritanya...??? | |
| Edisi XV | Semangat Belajar "Dian yang Tak Kunjung Padam" | |
| Edisi XVI | Kebunku Nafas Hidupku | |
| Edisi XVII | Suara HAti sang "Labarik" | |
| Edisi XVIII | HUT RI dan Nasib Pengungsi "Merah Putih di Sudut Kamp Pengungsi" | |
| Edisi XIX | Pemerintah RTDL "Perahu Kecil di Tengah Badai" | |
| Edisi XX | 31 Agustus, Biti Bot dan Orang Lokal yang Resah | |
| Edisi XXI | Ketika Kita HArus Memilih. . .! ! | |
| Edisi XXII | Relokasi Rekonsiliasi | |
| Edisi XXIII | Bagaiman Dengan yang Tinggal? | |
| Edisi XXIV | Ketika Orang Tuapukan Menuntut Ganti Rugi | |
| Edisi XXV | Mencari Kambing Hitam di Hutan Wemer | |
| Edisi XXVI | Repatriasi : Kenapa Dibuka Lagi? | |
| Edisi XXVII | Kabar dari Lolukalay | |
| Edisi XXVIII | Registrasi Lagi | |
| Edisi XXIX | Didalam Data, Diluar Bongkar | |
| Edisi XXX | Relokasi, Sampai dimana Ceritanya? | |
| Edisi XXXI | Uang Jepang, Dinkes dan Kimpraswil | |
| Edisi XXXII | Mari Ciptakan Kedamaian | |
| Edisi XXXIII | Relokasi dan Pelaksanaannya | |
| Edisi XXXIV | Pemilu di Kamp..?? | |
| Edisi XXXV | Titipan Harapan dari Derok Aitos | |
| Edisi XXXVI | Bagaimana Setelah Lahan Didapat??? | |
| Edisi XXXVII | Lahan Bagi Masa Depan Keluarga | |
| Edisi XXXVIII | Berusaha ditengah Keterbatasan | |
| Edisi XXXIX | Pemukiman Lokal, Apa Kabarmu...? | |
| Edisi XL | Pemukiman Mandiri, Apa Sikap Kita? | |
| Edisi XLI | BBR Datang Lagi....!!! | |
| Edisi XLII | Kabar dari Pulau Sumba | |
| Edisi XLIII | Mereka yang Terlupakan | |
| Edisi XLIV | Kami Butuh Pemukiman | |
| Edisi XLV | Buah dari Ketekunan | |
| Edisi XLVI | Bukti Sebuah Kemandirian | |
| Edisi XLVII | Apa Dukungan Kita Bagi Mereka | |
| Edisi XLVIII | ||
| Edisi XLIX | Negosiasi Lahan | |
| Edisi L | ||
| Edisi LI | ||
| Edisi LII | ||
| Edisi LIII | ||
| Edisi LIV | ||
| Edisi LV | ||
| Edisi LVI | ||
| Edisi LVII | ||
| Edisi LVIII | ||
| Edisi LIX | ||
| Edisi LX | ||
| Edisi LXI | ||
| Edisi LXII | ||
| Edisi LXIII | ||
| Edisi LXIV | ||
| Edisi LXV | ||
| Edisi LXVI | ||
| Edisi LXVII | ||
| Edisi LXVIII | ||
| Edisi LXIX | ||
| Edisi LXX | ||
| Edisi LXXI | ||
| Edisi LXXII | ||
| Edisi LXXIII | ||
| Edisi LXXIV | ||
| Edisi LXXV | ||
| Edisi LXXVI | ||
| Edisi LXXVII | ||
| Edisi LXXVIII | ||
| Edisi LXXIX | ||
| Edisi LXXX | ||
| Edisi LXXXI | ||
| Edisi LXXXII | ||
| Edisi LXXXIII | ||
| Edisi LXXXIV | ||
| Edisi LXXXV | ||
| Edisi LXXXVI | ||
| Edisi LXXXVII | ||
| Edisi LXXXVIII | ||
| Edisi LXXIX | ||
| Edisi XC | ||
| Edisi XCI | ||
| Edisi XCII | ||
| Edisi XCIII | ||
| Edisi XCIV | ||
| Edisi XCV | ||
| Edisi XCVI | ||
| Edisi XCVII | ||
| Edisi XCVIII | ||
| Edisi XCIX | ||
| Edisi C |
. : : 5 KK Beli lahan garapan : : .
Oleh : Yulius Boni Geti (Staf Rumah Perempuan Kupang)
***
I. PEREMPUAN PENGUNGSI TIMOR TIMUR DI TIMOR BARAT
A. Latar Belakang
Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu Propinsi yang menerima atau yang menangani pengungsi Timor Timur akibat dari jajak pendapat 4 September 1999 yang di tawarkan oleh presiden BJ Habibie, untuk memberikan kesempatan kepada rakyat Timor Timur menentukan masa depan politik wilayah tersebut yaitu dengan dua opsi (integrasi atau merdeka). Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa penduduk Timor Timur yang mengikuti jajak pendapat sebanyak 446.953 jiwa yang di langsungkan tanggal 30 Agustus 1999, sebanyak 21,15% suara memilih untuk tetap bergabung (integrasi) dengan Negara Indonesia sebagai Negara induk dan sebanyak 78,5% memilih untuk memisahkan diri (merdeka).
Nasib para pengungsi sampai pada detik ini masih banyak yang belum tau harus ke mana karena masih terrkonsentrasi di kamp-kamp termasuk di desa Tuapukan, sesuai informasi yang di dapat dari kepala desa Tuapukan bahwa 73 KK suadah ke lokasi baru yang sudah di berikan oleh pemerintah yaitu di lokasi GRIA PERMAI desa Tuapukan dan dalm waktu dua minggu kedepan akan di bentuk RT, namun masih ada sekitar 200 lebih rumah atau sekitar 200 KK yang masih menggantungkan nasibnya di kamp desa Tuapukan, mereka memilih harus tinggal di kamp karena belum menpunyai tanah untuk pindah dan ada juga yang sudah mempunyai tanah namun mereka belum bisa keluar dengan alasan fasilitas di tempat baru belum memadai seperti air dan listrik.
Pengungsi yang masih terkonsentrasi di kamp desa Tuapukan masih sangat memprihatinkan, tempat tinggal yang didiami pun beratap daun dan dinding seadanya sehingga kenyamanan pun terganggu. Perempuan pengungsi yang terkonsentrasi di kamp Tuapukan sebagai tulang punggung perekonomian keluarga di mana kaum perempuan rata-rata mencari nafkah untuk menafkahi keluarga mereka, di mana mereka sehari-harinya menjual sayur dan menggarap tanah penduduk lokal. Hasil garapan akan di bagi dua dengan pemilik tanah (penduduk lokal)
Kondisi ini membuat kehidupan pengungsi yang berada di kamp acap kali terjadi kekerasan dalam rumah tangga terutama di alami oleh kaum perempuan atau para istri di kamp oleh para suami, dan juga para pengungsi sering mendapat kecaman dari warga lokal, semua ini terjadi karena himpitan ekonomi.
B. Keterlibatan Perempuam Pengungsi di Kamp
Sejak berada di kamp pengungsi, keterlibatan perempuan pengungsi dalam pengambilan keputusan baik di kalangan pengungsi atau pun di pemerintahan, ada yang sudah menjadi kader posyandu dan ada juga yang menjadi koordinator kamp. Namun dalam pertemuan tertentu perempuan tidak di libatkan karena itu bukan porsinya mereka.
Perempuan janda pengungsi di kamp desa Tuapukan pekerjaannya sehari-hari sama seperti perempuan lainnya di mana mereka menjual ikan, sayur-sayuran serta ada juga pekerjaannya sebagai tukang tenun, semua hanyalah semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Perempuan pengungsi di kamp Tuapukan juga sebagiannya tidak bersekolah sehingga tidak bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti perempuan lain untuk mendapat kedudukan sebagai koordinator atau pun sebagai kader posyandu di wilayah tersebut.
Sekalipun mereka mendapat kesempatan seperti kader posyandu, koordinator kamp namun tugas utama mereka sebagai perempuan yang menafkahi keluarga tidak pernah mereka lupakan, karena itu merupakan tugas wajib yang harus di jalankan, seperti menggarap tanah penduduk lokal dan hasilnya di bagi dua, menjual sayur dan sayur itu di beli dari warga lokal dari oesao dan di jual ke kupang dan ada juga warga membuka usaha kios kecil-kecilan dalam rumah mereka sendiri, memelihara ternak seperti ayam, babi, kambing untuk di jual guna memenuhi kebutuhan dan sekolah anak.
C. Pendidikan
Sesuai penuturan seorang ibu (Domingos Soares) bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah kabupaten Kupang dimana mulai dari SD s/d SMA bebas biaya sekolah (gratis) sangat membantu anak-anak dari pengungsi dalam mengenyam pendidikan, karena para orang tua (pengungsi) tidak perlu lagi berpikir tentang biaya SPP yang nanti akan di bayar oleh orang tua (pengungsi).
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga tidak lagi seperti dulu dimana anak pengungsi harus sekolah sore karena keterbatasan ruangan belajar dan juga kendala di bahasa. Sekarang anak warga lokal dan warga baru (pengungsi) mendapat kesempatan yang sama yakni KBM di sekolah pada pagi hari. Berkat kerja keras mereka juga, sekarang sudah ada anak pegungsi di kamp yang melajutkan ke Perguruan Tinggi di kota Kupang .
D. Pelayanan Kesehatan
Sesuai informasi dari ibu Margaridha Pereira warga kamp Tuapukan yang sekarang sudah pindah ke lokasi baru ( GRIA PERMAI) desa Tuapukan, bahwa dalam pelayanan kesehatan ibu bidan setempat selalu siap siaga untuk melayani masyarakat termasuk pengungsi yang ada di Tuapukan.
Lain lagi penuturan seorang ibu (Domingos Soares), pemerintah menghimbau dan ada pertemuan dengan pemerintah pusat bahwa pelayanan KB gratis namun kenyataan di lapangan berbeda, ketika masyarakat (pangungsi kamp) mendatangi Rumah sakit tapi tida yang gratis, masih pungut biaya.
Lajut ibu (Soares)lagi bahwa pengungsi yang ada di kamp desa Tuapukan semuanya belum memilki JAMKESMAS sehingga kesulitan ke rumah sakit, karena tidak mempunyai biaya untuk membiayai pengobatan di rumah sakit, padahal sudah dua kali di data (tahun 2005 dan 2007) untuk mendaptkan JAMKESMAS namun sampai sekarang belum ada satu pun juga warga di kamp desaTuapukan mendapatkan itu. Ada ibu hamil yang harus di larikan ke rumah sakit namun karena biayanya mahal dan tidak mempunyai JAMKESMAS sehingga harus batal ke Rumah sakit.
E. Layanan Hukum
Sekarang sudah ada gugus tugas yang di bentuk oleh Rumah Perempuan Kupang di daerah desa Tuapukan termasuk kamp pengungsi. Sehingga kasus KDRT selalu ada dampingan dari gugus tugas dalam penyelasaian kasus dengan cara pendekatan dan penyelesaian yang melibatkan Tokoh adat, aparat desa setempat dan mengutamakan penyelsaian secara adat, sehingga sebelum sampai yang berwajib harus di selesaikan secara adat.dan pihak korban harus menanggung semua biaya konsumsi sela proses adat berlangsung.
F. Layanan Administrasi Kependudukan
Sampai saat ini warga baru (pengungsi) di kamp Tuapukan belum ada penetapan RT/RW. Pihak desa dalam mengatur warga yang ada dalam kamp membentuk koordinator dan tokoh adat yang di mana koordinatornya juga ada yang dari pihak perempuan namun tokoh adat dari pihak laki-laki.
Namun pengungsi yang sudah pindah ke lokasi baru dalam hal ini lokasi GRIA PERMAI sebanyak 73 rumah dalam waktu dekat akan membentuk RT sehingga dalam pengurusan bantuan dan sebagainya di ambil alih oleh ketua RT/RW bukan lagi di bawa kendali koordinator.
G. Perekonomian di kamp pengungsi Tuapukan
Seperti yang telah di kekemukakan diatas bahwa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari para pengungsi yang ada di kamp mereka ada yang berjualan sayur, menggarap tanah warga lokal, tenun dan ada juga yang memelihara ternak (babi,ayam kambing dll).
Namun di kamp juga sudah pernah ada salah satu LSM yang dating dan meminta supaya para pengungsi yang ada di kamp membentuk kelompok dengan tujuan mendirikan koperasi namun sampai sekarang tidak pernah datang lagi untuk mereliasasikan itu, supaya memberikan daya awal usaha .
H. Fasilitas di Kamp
Fasilitas di kamp sedikit memadai sehingga masih ada pengungsi yang ingin menetap dikamp sekalipun sudah ada tanah dan rumah di lokasi yang karena di lokasi yang baru sangat kesulitan air, sehingga di harapkan pemerintah atau ada lembaga sosial yang mau menggali sumur di lokasi yang baru. Pengungsi tidak bisa membuat sumur karena tidak ada biaya untuk menggali sumur.
Di kamp juga sangat sulit untuk memulai atau mencoba menanam sayur-sayuran di kamp karena tidak mempunyai lahan yang cukup sehingga harus keluar untuk mencari di warga lokal. MCK juga yang terbatas di kamp. Sekian, Semoga bermanfaat
----------------------------------------------------
II. PEREMPUAN DI KAMP, NASIBMU KINI
Oleh : Tri Sukirman – staf Rumah Perempuan - Kupang
Pendahuluan
Masalah pengungsian yang berasal dari bekas propinsi Timor-Timur merupakan dampak dari adanya jajak pendapat Timor Timur pada tanggal 4 September 1999 silam. Permasalahan ini ternyata membawa dampak kemanusiaan yang berkepanjangan, meskipun pada masa-masa awal terjadinya pengungsian banyak bantuan baik itu dari pemerintah, lembaga-lembaga international, lembaga-lembaga lokal maupun lembaga keagamaan yang berdatangan untuk membantu meringankan persoalan ini. Namun hal itu tidak menjadikan permasalahan kemanusiaan di kamp pengungsian menjadi hilang.
Masalah kemiskinan yang pada akhirnya berdampak pada masalah kesejahteraan dan kesehatan para warga eks-Timtim ini, di sisi lain membuat mereka menjadi lebih sensitif terhadap konflik, baik itu dengan warga lokal ataupun dengan pemerintah. Masalah yang menjadi latar belakangnya pun bermacam-macam, baik itu yang disebabkan karena masalah lahan, mata pencaharian, jaminan kesejahteraan ataupun masalah penggunaan fasilitas umum.
Seiring berjalannya waktu, berbagai bantuan yang ditujukan kepada masyarakat di pegungsian ini mulai dikurangi atau bahkan dihentikan sama sekali oleh berbagai lembaga yang semula menaruh perhatian terhadap mereka. Hal ini di satu sisi dinilai baik untuk menciptakan kemandirian namun disisi lainnya justru sebaliknya, karena berbagai bantuan yang sebelumnya ada justru menciptakan ketergantungan dan belum membangun kemapanan dalam kehidupan masyarakat di pengungsian.
Dinamika Kehidupan Perempuan di Kamp
Dalam keadaan seperti ini, kaum perempuan yang tinggal di kamp-kamp pengungsian kemudian dapat dikatakan menjadi korban di atas korban. Di satu sisi, seperti yang lainnya, mereka menjadi korban atas peristiwa jajak pendapat sehingga harus hidup mengungsi dari tanah kelahirannya, dan di sisi lain, karena sulitnya hidup di daerah pengungsian sehingga mereka kemudian menjadi lebih rentan terhadap kekerasan, baik itu yang dilakukan oleh suami, saudara, ataupun orang tua (KDRT), maupun yang dilakukan oleh sesama pengungsi lainnya atau oleh warga lokal yang tinggal di sekitar kamp pengungsian.
Di samping rentan terhadap masalah kekerasan, seperti halnya dalam masyarakat patriakhal lainnya, di dalam lingkungan kamp, posisi perempuan juga tidak diuntungkan dalam hal pengambilan keputusan. Itulah sebabnya tidak jarang kaum perempuan di kamp (khususnya janda) yang mengalami hal-hal yang bersifat diskriminatif. Mereka dituntut harus menerima apa yang telah ditentukan oleh para pemegang keputusan, dalam hal ini adalah koordinator kamp. Dalam beberapa pertemuan dengan ibu-ibu dari warga lokal dan warga baru berkaitan dengan diskusi tentang penyelesaian kasus KDRT, tampak jelas adanya perbedaan tanggapan yang menyolok di antara ibu-ibu dari warga lokal (etnis Timor, Rote dan Sabu) dan warga baru dalam hal keterlibatan mereka pada mekanisme penyelesaian kasus yang pernah mereka alami. Apabila pada ibu-ibu dari warga lokal, mereka cenderung menempatkan diri mereka sebagai inisiator dan pihak yang terlibat langsung dalam pertemuan-pertemuan untuk penyelesaian masalah, sedangkan ibu-ibu dari warga baru cenderung untuk menempatkan diri mereka sebagai “tokoh di balik layar” yang tidak terlalu menonjol. “kita lihat saja apa yang nanti jadi hasil keputusan, baru kita lihat lagi apa yang kita bisa buat …”, demikian pendapat ibu Margarida de Pereira, dari Tuapukan mengenai hal ini.
Kenyataan ini menunjukan bahwa perasaan inferior dari para perempuan di kamp terhadap kekuasaan kaum laki-laki (superior) membuat mereka menjadi masyarakat kelas dua di tengah sulitnya kehidupan di kamp.
Meskipun berada dalam keadaan yang tidak diuntungkan, namun peran kaum perempuan di kamp justru tidak menjadi minim. Di samping kapasitas mereka sebagai ibu-ibu rumah tangga, mereka juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan usaha meningkatkan ekonomi keluarga, antara lain melalui kegiatan perdagangan. Selain itu, upaya-upaya untuk membangun hubungan baik dengan masyarakat lokal juga pada umumnya dilakukan oleh para perempuan dari kamp. Dalam realitas seperti ini, kaum perempuan kemudian memiliki posisi yang strategis, sebagai pembawa perubahan dalam situasi yang memprihatinkan di kamp.
Di tengah sulitnya kehidupan di kamp membuat warga baru, khususnya kaum perempuan, yang rindu untuk kembali ke Timor Leste. Hal ini menjadi semakin kuat karena adanya dukungan baik itu dari pihak keluarga maupun dari pihak pemerintah dan lembaga-lembaga PBB berupa jaminan keamanan dan kesejahteraan selama masa perjalanan. Meskipun demikian, ada pula yang memilih untuk tetap tinggal di kamp pengungsian karena beberapa faktor, antara lain karena alasan sudah merasa nyaman dengan penerimaan masyarakat lokal, tersedianya lahan usaha, kekuatiran untuk memulai kehidupan baru di Timor Leste, masih trauma dengan situasi pasca referendum dan lain sebagainya.
Penutup
Kesulitan hidup, dan perlakuan diskrimintatif sebagai dampak dari konstruksi budaya dan sosial, yang di alami oleh para perempuan di kamp-kamp pengungsian, di satu sisi membuat peran mereka menjadi terbatas, namun di sisi lainnya, hal itu membuat mereka menjadi lebih kuat dan kreatif dalam menghadapinya.
Oleh karena itu, perlu adanya pendampingan dan penguatan kapasitas terhadap kaum perempuan di kamp, terutama dalam kelompok-kelompok yang telah terbentuk, sehingga diharapkan, melalui kelompok-kelompok tersebut, para perempuan ini dapat belajar untuk mengeluarkan aspirasi dan harapan mereka serta melalui kelompok-kelompok ini, mereka juga berani untuk menyuarakan hati nurani mereka. Melalui cara inilah, keberadaan mereka menjadi lebih diperhitungkan oleh masyarakat pada umumnya dan kaum laki-laki yang hidup di kamp pada khususnya.
----------------------------------------------------
III. KAMP DAN WARGA BARU
Oleh : Selfanus Falau – Relawan CIS
***
Sebuah awal perjalanan mengenal dan bagaimana belajar dikamp bersama warga baru.
Ketika saya memilih bersahabat dengan kamp dalam benak saya itu apakah mereka mau terima saya dan berbagi cerita tentang kehidupan kamp atau tidak karena saya bukan siapa-siapa bagi mereka, namun semua dugaan saya salah. Karena ketika saya kamp dan menemui orang-orang (warga baru) yang ada dikamp mulai dari bapak-bapak, mama-mama, pemuda dan anak kecil semuanya sangat senang karena mereka mendapat satu orang teman.
Dalam perjalanan belajar bersama di kamp selama dua bulan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.
Kamp adalah sebuah tempat tinggal sementara bagi siapa saja yang terkena bencana atau menjadi korban bencana akibat ulah manusia atau karena bencana alam. Setelah beberapa tahun kemudian, ketika mendapat mengakuan dari pemerintah setempat perubahan status penghuni kamp dari pengungsi ke warga baru.
Dari perubahan nama dari pengungsi ke warga baru atau sebutan apapun status mereka dari pemerintah dan siapa saja, tetap tidak bisa menyelesaikan persoalan kemanusiaan kalau masih ada yang hidup dikamp-kamp.
Pada peristiwa 9 september 1999 atau 11 tahun yang lalu wilayah timor barat (kota Kupang sampai kabupaten belu) terlihat kamp pengungsi timor-timur dimana-mana mulai dari fasilitas pemerintah sampai tenda-tenda darurat yang dibangun sebagai tempat penampungan bagi warga timor-timur yang memilih Indonesia pada jajak pendapat timor-timur. Dalam perjalanan ketika pertama kali datang ke timor barat mereka dikenal dengan orang yang jahat, malas, tidak mau kompromi, dan sebaginya. Semuanya itu karena status dan keadaan waktu mereka keluar dari timor timur yang membuat mereka jadi seperti itu. tapi ternyata sebaliknya mereka juga punya cinta, kasih saying, harapan dan keluarga.
Seiring waktu demi waktu hidup di kamp dengan penantian yang tak pasti, mereka mulai bekerja bagaimana untuk bisa dapat bertahan hidup, dengan meminjam lahan warga lokal. Pada tahun 2004 semua jenis bantuan dihentikan dan status mereka dari pengungsi ke warga baru, tidak melihat apakah semuanya sudah punya tempat tinggal yang layak atau tidak. Sampai saat ini masih banyak warga baru atau eks pengungsi atau apapun sebutan istilah yang bisa dipakai untuk menyebutkan mereka, masih banyak sekali yang hidup di tempat pengungsian dengan harapan yang tak pasti. Hidup dikamp semuanya pada kekurangan, mulai dari akses pada pelayanan kesehatan (POSYANDU), tempat tidur, air bersih, kamar mandi dan yang lainnya.
Walaupun demikian kamp merupakan pilihan terakhir bagi yang belum mendapatkan tempat tinggal layak dan tidak mampu untuk memiliki tanah sendiri karena tuntutan kebutuhan ekonomi, sehingga bagi mereka yang masih berada dalam kamp-kamp, kamp adaqlah pilihan tepat untuk tempat tinggal mereka. Dari kamp mereka mulai menata hidup baru, saling berbagi susah senang antara sesama warga baru dan warga baru warga lokal. Secara perlahan mereka mulai bekerja dilahan warga lokal untuk memenuhi kebutuhan hari-hari dan kebutuhan anak sekolah. bekerja pada lahan warga lokal dengan status sewa lahan, bagi hasil ataupun buruh tani bagi mereka yang terpenting adalah bisa bertahan hidup. Dari hasil olahan lahan pinjaman ada yang sudah memiliki lahan sendiri, tetapi ada yang belum punya lahan karena hasil kerjanya untuk makan dan biaya pendidikan anak dan bahkan ada yang hanya untuk kehidupan hari-hari saja.
Dari cerita di atas tentang kamp sesuai dengan pengamatan selama bersahabat dengan kamp, maukah kita membantu mereka untuk keluar dari persoalan itu. Ternyata warga baru atau sering kita dengar dengan sebutan eks pengungsi yang berada di kamp Naibonat saja masih 207 Rumah Tangga, belum termasuk yang berada di kamp Tuapukan dan Noelbaki bahkan yang ada di wilayah kabupaten Belu. Walaupun status mereka sudah dirubah dari pengungsi menjadi warga baru atau sebutan lain sesuai dengan kemauan kita, tetapi kenapa masih ada yang hidup dikamp-kamp pengungsian?
----------------------------------------------------
III. KISAH BERSAHABAT DENGAN KAMP
Yosepus Feo – relawan CIS
Saya dengan teman-teman (Slash, Gembel, Dance, terkadang di bantu Vasko, seorang teman mahasiswa asal kamp Tuapukan) sering berkunjung ke kamp dengan motor Win. Karena saya belum lincah bawa motor terkadang saya dibonceng oleh Dance dan kadang juga di bonceng oleh Slesh, dan pernah sekalinya dibonceng oleh om Mae, seorang teman CIS yang menjadi sahabat petani di desa Merdeka dekat kamp Tuapukan.
Di kamp Naibonat, Saya bertemu Bapa Siku, seorang laki-laki tokoh masyarakat eks pengungsi asalah kabupaten Baucao. Ia bercerita tentang kehidupan di kamp sekarang yang sudah jauh lebih baik dari segi interaksi dengan warga lokal.
Saya juga bercerita sangat akrab dengan istri bapa Siku, saya menyapanya mama, dan merasa tidak enak untuk menyakan namanya karena beliau terkesan sangat ramah dan dekat dengan saya. Mama ini banyak berkisah tentang kegiatannya mengurus pesta- pesta di kamp. Dia bilang: orang Timor itu biar hidup susah tapi tetap suka berpesta! Ia mengatakannnya sambil tertawa.
Setelah bercerita dengan kedua suami istri ini, saya berkenalan dengan Siska, anak perempuannya Bapa Siku yang baru pulang kuliah. Bapa Siku punya 4 orang anak. Siska sendiri adalah anak ke-3. Menurut Siska : setiap hari ia harus berangkat kuliah dari rumahnya di kamp Naibonat ke kampus Undana di Penfui. Ia sangat senang karena transportasi sangat lancer walaupun sering lelah karena harus pulang pergi setiap hari.
Hari itu saya bertemu dengan sahabat lama bernama Edy Parada. Edy adalah seorang pemuda eks pengungsi yang sangat aktif memperjuangkan hak pengungsi khususnya terkait pendidikan untuk anak-anak dan pemuda. Ia rajin menulis di beberapa koran lokal. Dari Edy saya mendapatkan gambaran tentang kehidupan orang muda di kamp, yang boleh dikatakan masih belum terarah. Mereka banyak terlibat kawin muda, malas sekolah padahal orang tua mampu, miras, suka berkelahi, judi, suka pesta, dan tidak berminat dengan kegiatan-kegiatan gereja atau social lainnya.
Edy lalau memperkenalkan saya dengan Ebith, seorang mahaswa teknik, warga negara TL (WNTL) yang kuliah di Kupang. Ebith menjabat sebagai Ketua IMAUTIL (Ikatan Mahaswa Timor Lorosae). Organisasi ini tidak membedakan antara mahasiwa WNTL dan Mahaswa eks pengungsi. Cerita mereka sangat memperkaya saya. Ternyata benar kehidupan di kamp memang sangat normal, seperti kehidupan komunitas masyarakat pada umumnya.
Pada kunjungan kedua kami ke Naibonat, saya bertemu bapa Felipo. Ia adalah seorang tentara di yang bertugas di Yonif 744 Naibonat. Bapa Filipo bercerita tentang kehidupan masyarakat di kamp naibonat kaitannya dengan perjudian (taji ayam, kupon putih, dan bingo) di seputaran kamp yang sangat marak sejak pengungsi ada. Menurut dia, masyarakat eks pengungsi kebanyakan menganggap judi sebagai kegiatan wajar yang mereka sebut hoby penghilang stress.
Di sana saya juga bertemu dengan adik-adik semester saya dan teman sewaktu masih kuliah namanya Atino, Karlos, Joni dan Sikita . Kami bercerita banyak tentang kenangan kampus ketika kami sering bersama. Kebanyakan dari mereka sudah mendapat pekerjaan seperti pegawai bank, PNS, koperasi, diler, dan lain-lain yang lebih bersentuhan ilmu yang kami tekuni sewaktu kuliah, (waduh dalam hati saya juga mau ke sana hanya belum kesampaian rencana ku “ha…ha…ha..”), saya juga mendengar banyak cerita tentang teman-teman lain yang sudah lama tidak saya temui. Teman-teman ini sudah kembali dan bekerja di Timor Leste.
Di siang hari kami biasanya memilih untuk duduk di samping rumahnya bapa Siku kebetulan ada satu rumah kosong yang sudah ditinggal pergi oleh penghuninya ke lokasi baru, dan menyaksikan secara dekat perjuangan para sahabat-sahabat kita di kamp di bawah terik metahari yang begitu membakar kulit untuk mengambil air yang terletak di kompleks asrama tentara walau pun terkadang ada omelan dari penghuni sarama tentara yang di hadiahkan untuk mereka tetapi mereka tetap memilih untuk mengambil air di tempat itu, maklum sumber air (sumur bor) yang mereka gunakan selama ini lagi bermasalah pada mesin, sehingga mereka memilih untuk ambil di sumur tersebut. Ada juga beberapa sumur yang masih di gunakan untuk mengambil air bersih tetapi lebih jauh dari tempat mereka tinggal.
Untuk peternakan kelihatanya memang agak sulit karena temptnya begitu sempit untuk memelihara ternak itu pun tidak membuat mereka pasrah, banyak ayam-ayam jagoan maupun ayam betina tangguh bersama anak-anaknya yang masih terlihat tegar di setiap rumah dan sekitarnya, ada juga babi, bebek, kambing yang juga di pelihara di sekitar rumah! Hanya sapi dan kuda yang sama sekali tidak terlihat di sekitar kamp.
Akses kesehatan juga baik sudah tersedia puskesmas naibonat dan rumah sakit umum naibonat (Kabupaten Kupang) yang bisa di akses oleh semua orang gratis hanya menunjukan KTP kabupaten Kupang dan JAMKESMAS Saya juga sempat mengakses dan mendapat kartu pelayanan hanya dengan membayar Rp.1.000.- itu juga karena KTP kota kupang kalau tidak gratis juga!!!.
Akses terhadap sarana pendidikan juga baik karena ada beberapa PAUD, TK, SD, SLTP, dan SLTA kalau untuk perguruan tinggi semuanya berakses ke perguruan-perguruan tinggi di kota kupang dengan cara ada yang memilih untuk tinggal di Naibonat karena jaraknya cuman 27 km dengan akses transportasinya juga lancar dan ada juga yang memilih untuk tinggal di kos-kosan mau pun dengan keluarga di kota Kupang, sedangkan untuk PAUD, TK, SD, SLTP,SLTA mereka memanfaatkan yang berada tidak jauh dari kamp sehingga akses ke sana juga lancar bahkan menurut informasi yang kami peroleh siswa/I di beberapa sekolah di naibonat jumlah siswa/i warga baru lebih banyak dari jumlah siswa warga lokal.
Akses terhadap rumah ibadat juga mudah karena kapela mereka sudah punya sendiri dan mayoritasnya adalah umat katolik sehingga memudahkan untuk semua, dan informasi terbaru adalah kapela itu di bangun dengan begitu mudah karena terlalu banyak bantuan yang berdatangan dari semua orang jadi sulit di sebutkan satu per satu bahkan hari minggu kemarin mereka baru dapat bantuan berupa semen dan keramik untuk finising bangunan.
Kamp Tuapukan.
Kamp Tuapukan terletak di desa Tuapukan kecamatan Kupang Timur, jarak tempuhnya kira-kira 20 km dari kota kupang (posko Cis Timor). Untuk sampai di sana kami membutuhkan waktu paling sedikit 30 menit menggunakan Honda win dengan kecepatan rata-rata 45 km/jam, hal yang sering saya lakukan pertama-tama di sana adalah mengecek mama Olan di rumah, beberapa minggu kemarin mama Olan memang sulit di temukan di rumah karena ada sibuk di sawah tapi sudah habis kesibukannya dan sudah seminggu terakhir selalu di rumah.
Saya bertemu mama Olan dan bercerita tentang perkembangan kehidupan di kamp akhir-akhir ini dan pergumulan kehidupan mama Olan, mama Olan ini seorang janda yang suaminya di bunuh secara tragis oleh fretelin pada tahun 2004 punya 4 orang anak 3 perempuan dan 1 laki-laki, tidak sampai di situ saja nasip naas kembali menimpanya pada tahun 2000 dengan meninggalnya putri pertamanya secara tiba-tiba di RDTL yang jasad dan kuburnya sampai detik ini belum sempat di lihat oleh mata kepalanya sendiri, pada tahun yang sama juga putri bungsunya sonya menderita sakit dan harus rawat nginap di RSUD kupang, dengan kondisi keuangan yang sangat minim untung di tolong oleh om Haris kalau tidak mama Olan sendiri tidak tau mau buat apa lagi karena uang yang di kantonginya sudah habis. Ini adalah cerita singkat masa lalu mama Olan.
Kalau untuk sekarang mama Olan sudah mulai pulih dari berbagai persoalan sudah beberapa tahun terakhir mempunyai makanan sendiri dari usaha sendiri pula dengan cara bertani baik lahan kering mau pun lahan basah (sawah) dengan cara membantu para pemilik lahan untuk mengolah hasilnya baru di bagikan, mama ini juga menceritakan tentang situasi kamp tuapukan dan juga setiap persolan yang sering di hadapi di kamp baik itu masalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan dan lainnya!.
Masalah sosial antara “sesama warga baru” memang akhir-akhir ini terdapat banyak kesenjangan di akibatkan bantuan karena ada yang mengklaim ada bantuan-bantuan tertentu yang di sebagai bantuan untuk kecamatan atau komunitas adat tertentu walau pun bantuan tersebut di tujukan untuk semua orang atau kepala keluarga yang masih bertahan di kamp, kalau hubungan sosial dengan “masyarakat lokal” juga pada akhir-akhir ini mulai terdapat kesenjangan di akibatkan oleh klaim tanah masyarakat lokal terhadap lokasi kamp, karena menurut informasi yang di peroleh sejak mereka di turunkan tahun 1999, tanah itu dikatakan milik pemerintah (keluarga cendana), Masalah budaya masing-masing daerah (kecamatan,raja) masih tetap mempertahankan budayanya masing-masing.
Pendidikan semua orang berakses baik ke sekolah-sekolah terdekat yang ada di sekitar kamp tuapukan sehingga tidak ada kesulitan bahkan ada kemajuan luar biasa yakni pengembangan pendidikan yakni pembangunan perpustakaan kamp yang belum selesai baru tahapan penyelesaian walau pun terdapat beberapa ketersinggungan karena perpustakaan itu di klaim oleh satu komunitas sebagai perpustakaan pada komunitasnya. (kecamatan lacluta, desa dilor, kabupaten vique-que), Kalau untuk masalah kesehatan warga baru di kamp tidak terlalu mengalami kesulitan karena ada RSU kabupaten kupang yang bisa di jangkau, puskesmas yang juga bisa di gunakan, dan juga polindes, yang bermasalah hanya pada kesadaran warga baru untuk memanfaatkan karena masih banyak orang yang masih memilih perawatan secara tradisional di lingkungan kamp.
Selain bertemu mama Olan saya juga bertemu dengan Mama Ina, Mama Ina sendiri itu seorang ibu rumah tangga dengan di kurania 5 orang anak yang masih berusia sekolah dengan suaminya bapak Antonio dengan pekerjaan sebagai Guru SD dengan penghasilan yang pas-pasan itu mama Ina dan bapa Antonio menyekolahkan anak-anak dan yang sulung (Atino) sudah duduk di bangku SMA sekarang, selain mengharapkan gaji suami, mama Ina dan bapak Antonio juga bertani di sekitar kamp dengan cara meminta lahan masyarakat lokal untuk mengolahnya dengan menanam jagung dan ubi pada musim hujan dan siram sayur-sayuran pada musim panas.
Saya juga bertemu dengan bapak Marselinu Lopes bapak ini agak seram, beliau koordinator kamp desa dilor, kecamatan laclilo, kabupaten vique-que di tuapukan dan kami bercerita tentang perpustkaan yang di bangun parsis di depan rumahnya dan untuk sementara waktu dalam proses penyelesaian proses pembangunan gedung maka rumah bapak Marselinu Lopes digunakan sebagai perpustakaan sementara, percakapan kami seputaran kehidupan di kamp kususnya kamp yang beliau koordinir kalau untuk kehadiran perpustakaan di kamp itu ada karena ada satu komunitas kemanusian dari jakarta bernama posko jenggala yang mendengar bahwa di beberapa titik di NTT masih terdapat beberapa kamp penggungsian eks timor-timur maka datanglah mereka untuk melakukan survey apa yang bisa di bantu di sana pada akhirnya dari posko jenggala mengambil keputusan untuk membantu beberapa hal yakni air bersih (1 sumur), pengobatan gratis (2 kali jalan), bantuan beras dengan jagung (5 kg/kk/jenis), dan perpustakaan. Dari beberapa bantuan yang di peroleh sudah di rasakan oleh masyarakat dan yang sementara berjalan untuk di nikmati adalah perputakaan buku-bukunya sudah ada mulai dari bacaan anak-anak PAUD sampai buku untuk Mahasiswa, yang dalam proses adalah permainan anak-anak PAUD dan TK. Kalau untuk kehidupan masyarakat kamp di bawah kepemimpinannya masih sangat tertinggal karena pernah mengalami bencana kebakaran di kamp mereka pada tahun 2006 sehingga mereka mulai hidup baru lagi sehingga bisa di pastikan bahwa kehidupan masyarakat di kamp yang di pimpinnya masih sangat tertinggal.
Dalam perjalanan itu saya juga beruntung karena bertemu sahabat lama namanya AJOI SUARES, Ajoi ini teman kuliah dulu sudah hampir dua tahun kami putus komunikasi (pikir ku pasti sudah pulang TIM-TIM) dan kami bercerita seputar kehidupan pemuda di kamp tuapukan, dan ternyata banyak hal yang saya peroleh dari dia tentang kehidupan pemuda/I di sana dari ada yang kuliah, dan sekolah bagi yang orang tuanya mampu, ada pula yang beraktifitas sebagai ojek bagi yang punya motor, bagi yang tidak punya motor memilih untuk calo di terminal noelbaki atau konjak, dan meramaikan lingkungan kamp pada malam hari dengan bernyanyi kalau untuk perempuan mereka memilih untuk membantu mama dan sebagainya.
Saya juga bertemu dengan seorang adik laki-laki bernama (Antonio) yang begitu hebatnya mengurus dapur dan adik-adiknya yang masih kecil, sedangkan Neneknya menjual siri pinang di pinggir jalan sedangkan Ayah dan Ibunya sedang mengurus sawah, antonio ini begitu cakapnya bercerita tentang kehidupannya dan kawan-kawannya di kamp, caranya mengatur waktu untuk belajar dan mengurus adik-adiknya karena ayah dan Ibunya harus ke sawah untuk mengurus sawah.
----------------------------------------------------
III. AKU DAN WARGA BARU
Denis Masneno – Relawan CIS
Jumat, 23 Juli 2010 kira-kira pukul 09.00 Witeng. Saya, Slash dan Sepus beranjak dari Posko CIS menuju Kamp Naibonat. Kami tiba 20 menit kemudian. Kami menjumpai sejumlah masyarakat camp yang sedang bergotong-royong membuat panggung dan lopo kecil untuk acara pentas seni budaya yang akan diadakan pada esok hari.
Awalnya saya begitu takut, gugup dan malu. Maklum, ini pertama kalinya saya bertemu dengan mereka yang kata orang adalah pengungsi itu jahat, egois, apatis...
Seperti berada dalam mimpi. Karena biasanya saya dan teman-teman hanya berceritra soal pengungsi tapi pada akhirnya pada saat itu saya sementara berada di tengah-tengah mereka.
Tanpa paksaan atau dorongan dan mau tidak mau saya harus berkomunikasi dengan mereka. Apa yang terjadi saat itu, ternyata apa yang pernah di katakan orang tentang mereka, tidak saya temui. Mereka yang di sebut pengungsi itu ramah, sopan, dan baik hati. Rasa gugup, takut dan malu perlahan-lahan berlalu dari benak saya...
Teriknya matahari tidak membuat mereka lari dari pekerjaan itu,.banyak senda gurau dan tawa yang seakan-akan mengiringi jalannya pekerjaan itu.
Waktu semakin berjalan dan terlihat matahari sudah condong ke barat, saatnya aku dan teman-teman harus pulang ke Posko cis di walikota.
Kami pun pamit untuk pulang, dalam perjalanan pulang saya merasa bahagia, karna bisa berkumpul dengan mereka dan membuat ku untuk selalu ada bersama mereka. Pada keesokan harinya saya masih kembali ke Naibonat untuk mengikuti acara pentas budaya itu,di sana terdapat ratusan orang dari semua kabupaten di Timor Leste dan masing –masing Kabupaten mununjukan budaya mereka baik itu tari-tarian maupun kesenian lainnya.
Rasa takut dan gugup ku tiba-tiba saja hilang di saat saya di panggil untuk duduk bersama dengan sejumlah Tokoh Masyarakat yang ada pada waktu itu,ada juga beerapa orang tua termasuk Ketua Panitia pentas budaya itu..Dia adalah salah seorang sosok yang sangat di segani di Camp Naibonat yaitu Bapak Ximenes Suares.
Tak lama kemudian kami mulai berkenalan satu dengan yang lain.dari perkenalan itu saya seakan-akan sudah lebih akrab lagi dengan mereka..mereka juga sangat senang waktu itu karena kami adalah orang baru yang ikut serta dalam kegiatan itu.dalam percakapan kami ada begitu banyak hal yang mereka sampaikan mulai dari tujuan didakan pentas budaya dan kehidupan 10 Tahun lalu sejak paska kerusuhan di Timor Leste dan mengungsi ke Kupang ,sampai sekarang dengan kehidupan yang mereka alami saat ini..
Seorang tokoh masyarakat yang ada pada saat itu biasa di sapa dengan sebutan Pa Barto,Dia mengatakan bahwa”kehidupan meraka di Kamp saat ini sangat beda jauh dengan yang dulu.ada yang sudah punya lahan untuk pindah,ada yang sudah punya rumah,sudah bercocok tanam walaupun itu lahan pinjaman..sudah bisa makan dalam sehari itu 3 kali..sudah ada kios-kios kecil dalam seputaran kamp, yang notabebenya sekarang mereka tidak begitu lagi mengharapkan bantuan dari pemerintah..ia juga menambahkan kalau mereka di kamp saling peduli satu dengan yang lain, dan sangat mensyukuri apa yang sudah terjadi karna ini bukanlah yang kami mau tapi adalah sebuah pilihan.
Mendengar apa yang di katakan ,aku terpaku sedih dan hampir tak bisa berkedip lagi,aku juga dapat membayangkan begitu hebatnya mereka bertahan hidup dalam sebuah gubuk kecil yang walaupun itu dianggap sebagai tempat yang seharusnyan tidak layak untuk dihuni..kami yang ada duduk di kelompok itu semuanya diam dan mendengar. ada yang dengar sambil mengangguk kepala ada juga yang dengar sambil tersenyum simpul .
Sedangkan Pa Ximenes sendiri mengatakan kalau kehidupan mereka yang dulu dengan yang sekarang sudah membaik karena dengan adaanya kesibukan masing-masing,sudah tidak ada lagi konflik antara warga Kamp dengan Warga Local..saat itu juga karna saya sangat asyik untuk mendengar,ada sejumlah acara yang kami lewatkan. setelah Percakapan kami selesai kami beramai-ramai menuju teng yang ada persis di depan panggung untuk menonton pentas tersebut..terlihat di samping kiri, kanan muka dan belakang di sekeliling panggung itu ratusan warga yang ada di kamp dengan suara gemuruh meneriakan setiap tarian yang ada.teriakan itu terdengar jelas seakan-akan membakar semangat mereka untuk tidak menyerah dengan kehidupan yang mereka alami,kegembiraan mereka saat itu juga seolah-olah menghilangkan semua beban hidup yang mereka pikul..Pada waktu itu saya benar-benar berada dalam situasi mereka yang sangat ramai.. semua warga kamp tidak saya kenal saat itu tapi dengan kehadiran saya selama sebulan perlahan-lahan sangat membantu untuk berkenalan dengan mereka….
Tak sampai di sini saja, di kamp Tuapukan juga saya hampir menemui hal yang sama seperti di Naibonat banyak hal yang mereka sampaikan soal kehidupan mereka sehari-hari, banyak waktu terkadang mereka habiskan di sawah mulai dari pagi hingga malam.
.mendengar apa yang di sampaikan Mama Olan tadi,saya sepertinya terhipnotis untuk ada bersama mereka di sawah . tanpa rasa malu lagi saya langsung menawarkan diri untuk ikut ke sawah.Mama Olan seperti berat hati untuk saya harus ikut ke sana tapi apa kata saya terhadap Mama Olan? Ini adalah pekerjaan saya, dengan senyuman manis menghiasi kriput yang ada di wajah Mama Olan dia mengatakan ‘kamu boleh ikut ‘.
Pagi-pagi benar 12 Juli 2010 saya sudah berada di Tuapukan menjemput Mama Olan untuk ke sawah,jarak sawah dengan kamp sekitar 1 km.setelah kami tiba di sana,betapa terkejutnya saya melihat banyak Pemuda-pemudi,Bapak-bapak dan sejumlah Ibu-ibu sudah berada di sana.ada yang menanam, mencangkul dan membersihkan petak-petak sawah yang siap untuk di tanam.
Lahan yang mereka gunakan itu adalah milik warga local yang mana pada mulanya adalah hutan belukar kemudian di olah menjadi sawah.
Tanpa berpikir panjang saya dan sejumlah ibu-ibu yang datang belakangan langsung mengambil anakan padi yang sudah di cabut siap untuk di tanam.luas sawah yang mau di tanam itu seluas 1 hektar.petak demi petak kami lewati. Banyak crita dongeng dan canda tawa menghiasi suasana saat itu.gosip ibu-ibu soal kehidupan mereka terdengar jelas di telinga ku hal ini yang membuat rasa lelah hilang walaupun panasnya sangsurya begitu membakar kulit.tanpa terasa hari pun sudah sore pekerjaan kami juga belum selesai.Ibu-ibu memutuskan untuk di lanjutkan pada keesokannya.tapi pada saat itu juga saya ijin untuk tidak hadir karna keesokannya Cis Timor ada visioning selama 2 hari.saat berpisah untuk pulang semua yang ada di sana minitip salam untuk keluarga besar Cis Timor.
----------------------------------------------------
III. MEMBUAT DENAH KAMP NAIBONAT
Wilson “gembel” Atalo – Relawan CIS
Salah satu tujuan saya dalam kelas belajar “ Sahabat Kamp” adalah membuat peta kamp. Saya telah memulainya dari kamp Naibonat.
Saya ingin membuat peta kamp untuk membantu orang-orang mengenal kamp dari selembar kertas. Dan saya memiliki kemampuan menggambar yang cukup baik untuk membuatnya.
Ketika saya berkunjung pertama kali ke kamp Naibonat, saya merasa kamp ini sangat luas dan padat. Sebuah peta tentu akan membantu untuk memberi gambaran awal tentang kondisi umum kamp. Manurut informasi yang saya perolah dalam kunjungan ini, ada 208 rumah tangga eks pengungsi Tim-tim yang masih tinggal di kamp Naibonat. Kebanyakan warga kamp naibonat berasal dari Baucao, Viqueque, Aileu, Manatuto, Lospalos dan sebagian kecil dari Dili.
Saya membutuhkan waktu seharian untuk mengelilingi kamp sambil membuat sketsa. Waktu itu saya ditemani seorang teman asal kamp Tuapukan bernama Vasco Soares. Ketika berkeliling, banyak orang-orang yang bertanya apa yang sedang saya lakukan. Saya menjelaskan bahwa saya ingin membuat peta kamp dan mereka juga membantu memberikan informasi umum yang saya butuhkan.
Peta ini memang belum lengkap, beberapa teman meminta untuk dilengkapi dengan informasi yang lebi detail : seperti asal kabupaten pengungsi, tempat rawan konflik : perjudian, tempat miras,; tempat acara adat untuk perkumpulan warga, penyandang cacat dll.
Berikut Gambar peta Kamp Naibonat :

----------------------------------------------------