





CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cistimor@gmail.com










![]()
| Edisi I | Edisi LXXIV Rekonsiliasi di Timor Timur | |
| Edisi II | ||
| Edisi III | ||
| Edisi IV | ||
| Edisi V | ||
| Edisi VI | TNI dan Pengungsi "HABIS MANIS SEPAH DIBUANG" | |
| Edisi VII | Rekonsiliasi Hati | |
| Edisi VIII | ||
| Edisi IX | Resetlement (Pemukiman Kembali) "Antara ada dan Tiada" | |
| Edisi X | Kamp Noelbaki, Riwayatmu Kini..!! | |
| Edisi XI | ||
| Edisi XII | 20 Mei, Apakah Tanggal Itu Berarti...?? | |
| Edisi XIII | LSM di Kamp Pengungsi "Beri Ikan atau Pancing" | |
| Edisi XIV | Resettlement "Sampai Dimana Ceritanya...??? | |
| Edisi XV | Semangat Belajar "Dian yang Tak Kunjung Padam" | |
| Edisi XVI | Kebunku Nafas Hidupku | |
| Edisi XVII | Suara HAti sang "Labarik" | |
| Edisi XVIII | HUT RI dan Nasib Pengungsi "Merah Putih di Sudut Kamp Pengungsi" | |
| Edisi XIX | Pemerintah RTDL "Perahu Kecil di Tengah Badai" | |
| Edisi XX | 31 Agustus, Biti Bot dan Orang Lokal yang Resah | |
| Edisi XXI | Ketika Kita HArus Memilih. . .! ! | |
| Edisi XXII | Relokasi Rekonsiliasi | |
| Edisi XXIII | Bagaiman Dengan yang Tinggal? | |
| Edisi XXIV | Ketika Orang Tuapukan Menuntut Ganti Rugi | |
| Edisi XXV | Mencari Kambing Hitam di Hutan Wemer | |
| Edisi XXVI | Repatriasi : Kenapa Dibuka Lagi? | |
| Edisi XXVII | Kabar dari Lolukalay | |
| Edisi XXVIII | Registrasi Lagi | |
| Edisi XXIX | Didalam Data, Diluar Bongkar | |
| Edisi XXX | Relokasi, Sampai dimana Ceritanya? | |
| Edisi XXXI | Uang Jepang, Dinkes dan Kimpraswil | |
| Edisi XXXII | Mari Ciptakan Kedamaian | |
| Edisi XXXIII | Relokasi dan Pelaksanaannya | |
| Edisi XXXIV | Pemilu di Kamp..?? | |
| Edisi XXXV | Titipan Harapan dari Derok Aitos | |
| Edisi XXXVI | Bagaimana Setelah Lahan Didapat??? | |
| Edisi XXXVII | Lahan Bagi Masa Depan Keluarga | |
| Edisi XXXVIII | Berusaha ditengah Keterbatasan | |
| Edisi XXXIX | Pemukiman Lokal, Apa Kabarmu...? | |
| Edisi XL | Pemukiman Mandiri, Apa Sikap Kita? | |
| Edisi XLI | BBR Datang Lagi....!!! | |
| Edisi XLII | Kabar dari Pulau Sumba | |
| Edisi XLIII | Mereka yang Terlupakan | |
| Edisi XLIV | Kami Butuh Pemukiman | |
| Edisi XLV | Buah dari Ketekunan | |
| Edisi XLVI | Bukti Sebuah Kemandirian | |
| Edisi XLVII | Apa Dukungan Kita Bagi Mereka | |
| Edisi XLVIII | ||
| Edisi XLIX | Negosiasi Lahan | |
| Edisi L | ||
| Edisi LI | ||
| Edisi LII | ||
| Edisi LIII | ||
| Edisi LIV | ||
| Edisi LV | ||
| Edisi LVI | ||
| Edisi LVII | ||
| Edisi LVIII | ||
| Edisi LIX | ||
| Edisi LX | ||
| Edisi LXI | ||
| Edisi LXII | ||
| Edisi LXIII | ||
| Edisi LXIV | ||
| Edisi LXV | ||
| Edisi LXVI | ||
| Edisi LXVII | ||
| Edisi LXVIII | ||
| Edisi LXIX | ||
| Edisi LXX | ||
| Edisi LXXI | ||
| Edisi LXXII | ||
| Edisi LXXIII | ||
| Edisi LXXIV | ||
| Edisi LXXV | ||
| Edisi LXXVI | ||
| Edisi LXXVII | ||
| Edisi LXXVIII | ||
| Edisi LXXIX | ||
| Edisi LXXX | ||
| Edisi LXXXI | ||
| Edisi LXXXII | ||
| Edisi LXXXIII | ||
| Edisi LXXXIV | ||
| Edisi LXXXV | ||
| Edisi LXXXVI | ||
| Edisi LXXXVII | ||
| Edisi LXXXVIII | ||
| Edisi LXXIX | ||
| Edisi XC | ||
| Edisi XCI | ||
| Edisi XCII | ||
| Edisi XCIII | ||
| Edisi XCIV | ||
| Edisi XCV | ||
| Edisi XCVI | ||
| Edisi XCVII | ||
| Edisi XCVIII | ||
| Edisi XCIX | ||
| Edisi C |
. : : eSHa pada Agustus s/d Oktober 2008 : : .
Usulan penambahan satu lokasi percontohan program menjadi empat lokasi, tidak jadi ditindaklanjuti karena pertimbangan pengembangan program ke depan. Dalam periode ini, kegiatan yang menonjol adalah tinggal bersama komunitas (live-in) di 3 lokasi percontohan. Masing-masing petugas pendamping sudah lebih dikenal oleh warga. Pekerjaan pendampingan masih dalam tahapan analisis situasi, di mana di tahap ini tim memfokuskan diri untuk menjangkau areal-areal dusun sampai ke pelosok-pelosok desa dengan tujuan untuk lebih mengenal langsung kehidupan warga di dusun-dusun dan melihat potensi mereka. Kedekatan tim dengan warga memberi peluang untuk tim menggelar pertemuan bersama warga. Pemahaman warga terhadap program Serviso Hamutuk semakin baik, dibanding dengan sebelumnya. Kini mereka lebih mudah dan senang berdiskusi tentang persoalan hidup yang dihadapi tanpa tuntutan untuk segera dibantu. Mereka lebih memahami peran kami sebagai advokat atau pembela mereka. Dalam beberapa pertemuan dengan warga, banyak terdengar keluhan tentang lemahnya kesadaran gotong royong di antara mereka. Mereka tahu bahwa selama ini mereka sangat bergantung pada bantuan. Dan sampai di sini mereka terkesan pasrah sambil menunggu perubahan secara struktural di dalam komunitas mereka. Seorang warga di desa Bakustulama berkata "kami tidak bisa berbuat apa-apa karena aparat kami memang tidak bisa diharapkan; saya tidak tau apa sebenarnya yang mereka kerjakan!".
Terdapat perbedaan yang signifikan antara temuan tim dalam assesment desa dan assesment dusun. Dalam assesment desa, tradisi gotong royong terkesan masih kuat serta suasana konflik dan kekerasan tidak begitu nampak, hal ini sempat membuat kami sangat percaya diri bahwa hambatan terhadap pelaksanaan program mungkin tidak begitu berat. Namun dalam assesment dusun, kami menemukan fakta seorang istri meninggal karena digorok oleh suaminya di dusun Tulama desa Bakustulama. Di dusun Laninis desa Lawalutolus, seorang pemuda mengalami 12 jahitan di dada kirinya karena ditikam oleh seorang warga dalam suasana perayaan adat dimana banyak tokoh adat, pastor dan pemerintah hadir di sana. Begitu juga yang dialami oleh warga di Desa Bakstulama dalam suasana khidmat perarakan patung Bunda Maria untuk memaknai bulan Oktober sebagai bulan Rosaria. Mereka merasa terganggu dan terpaksa berlari ketakutan dari dalam Kapela karena di depan pintu kapela ada beberapa laki-laki saling mengancam dengan memegang parang, batu dan pedang hanya karena ulah lepas kontrol dua laki-laki yang mabuk. Tiga kasus ini telah menjadi urusan polisi.
Sesuai dengan motto kami; kenal, dekat, berbaur dan belajar atau "NATURAL", kami berupaya mengenal serta menjadi dekat dengan komunitas lewat pendekatan desa dan pendekatan dusun. Sedangkan untuk berbaur dan belajar, kami memulai dengan menjadi bagian langsung dalam pola keseharian mereka. Kami melihat ada beberapa masalah menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar yakni:
Air bersih yang terbatas pada musim kemarau di beberapa dusun sehingga warga terpaksa mengkonsumsi air yang berwarna kecoklatan dan keruh.
Status tanah yang tidak jelas menyebabkan warga settlement di desa Lawalutolus dan Bakustulama merasa tidak nyaman dan sangat berhati-hati dalam membangun relasi antar sesama warga. Kami di sini harus hati-hati untuk bangun hubungan, salah-salah kita bisa diusir, kita mau tinggal di mana lagi, kata seorang ibu di desa Bakustulama yang menggambarkan suasana hatinya. Ucapan ibu ini terbukti; kasus pembunuhan suami terhadap istrinya (sang istri adalah adik kandung tuan tanah) tidak hanya membawa suaminya ke penjara, tapi rumahnya juga langsung diratakan setelah acara pemakaman.
Pangan yang tidak mencukupi sehingga beberapa petani merasa bekerja sia-sia (desa Bakustulama dan Lawalutolus)
Jalanan yang semakin rusak dari waktu ke waktu berdampak pada naiknya biaya transportasi, khususnya di dusun Maukliman desa Fatuba'a sehingga pedagang hasil bumi merugi.
Banyak anak yang tidak sekolah dan putus sekolah di dusun Oe'oan dan Maukliman desa Fatuba'a karena jarak SD yang jauh, 4-6 Km pergi-pulang.
Di dusun Fohodunuk dan Laninis - desa Lawalutolus, satu rumah masih dihuni oleh 3 rumah tangga, sehingga konflik rumah tangga sering terjadi. Pola tinggal seperti ini banyak ditemui. Aparat dusun saat ini masih melakukan pendataan.
75% warga di dusun Laninis dan Fodunuk tidak memiliki WC. Aktifitas BAB sering dilakukan di kebun dan sungai.
Dalam perspektif pekerjaan sosial, bina damai mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar. Di mana pencapaian kedamaian sosial, pada hakekatnya hanya dapat diwujudkan jika kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Air bersih, makanan, perumahan, pendidikan, sanitasi dan kesehatan merupakan jenis-jenis kebutuhan dasar yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup.
Dari penelusuran desa pada triwulan II dan penelusuran dusun di triwulan III, kami memasuki triwulan IV dan akan fokus pada pengkajian masalah untuk mencari akarnya dan memetakan kekuatan komunitas. Beberapa masalah yang disebutkan di atas akan kami konfirmasi lebih lanjut dalam satu bulan pertama triwulan IV. Satu hal penting yang akan kami kaji adalah mengenai sejauh mana hubungan saling mempengaruhi antara masalah-masalah kebutuhan dasar dan konflik atau sebaliknya konflik serta munculnya masalah-masalah kebutuhan dasar yang dialami. Kami membuat 4 matriks untuk memulai proses ini selain melakukan pertemuan komunitas berkala dan pendampingan terfokus pada kelompok khusus. Ke-4 matriks tersebut adalah matriks kajian masalah, kajian gender, pemetaan tokoh dan pengalaman mediasi serta pemetaan perempuan yang peka terhadap isu keadilan sosial.
KEGIATAN TIM SERVISO HAMUTUK
Pada triwulan III ini, kami merasakan penerimaan yang baik dari masyarakat terhadap pelaksanaan program Serviso Hamutuk. Namun kami belum membicarakan secara mendalam bersama mereka mengenai akar konflik dan analisis SWOT, seperti yang kami harapkan dalam perumusan Tujuan-Hasil untuk Triwulan III. Kami masih merasa kurang sebagai pendamping dan fasilitator desa, untuk itu dalam pertimbangan kami, selain melakukan penelusuran desa, perlu juga melakukan penelusuran dusun agar lebih mengenal komunitas dan sebaliknya lebih banyak warga yang mengenal kami. Hasil dari penelusuran dusun adalah persoalan-persoalan komunitas menjadi begitu nyata dan kaitannya dengan konflik juga semakin terasa.
Bulan Agustus hingga Oktober 2008 ini merupakan bulan yang cukup sibuk untuk persiapan PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) bagi rakyat Belu dan NTT pada umumnya. Di jalan, kebun, pasar, dalam cerita antar tetangga, di sumur, sungai, pesta dan lain-lain pembicaraan tentang calon-calon dalam PILKADA menjadi issue hangat yang menyedot perhatian orang-orang yang mendengarkan. Mobilisasi warga dalam kampanye massa juga sangat tinggi. Dalam beberapa kunjungan, teman-teman pendamping sering mendapati rumah-rumah warga kosong karena mengikuti keramaian kampanye. Rencananya PILKADA Belu akan berlangsung pada tanggal 22 Oktober 2008.
Kegiatan yang dilakukan Tim:
1. Tinggal 2-3 hari di desa dalam tiap 1 atau 2 minggu.
Melakukan dokumentasi dan analisis konflik yang pernah terjadi atau yang ditemui selama 6 bulan (Mei-Agustus 2008)
Meneliti faktor penyatu dan pemecah di komunitas
Sebagai support untuk kegiatan komunitas, tim hanya terlibat untuk dokumentasi (foto) dalam acara adat dan keagamaan (bulan Rosario). Kami belum menggunakan dana yang disediakan untuk mendukung kegiatan itu, karena mempertimbangkan dampaknya.
---------------------------