







Visi
“Lingkar Relawan Inspirasi Untuk Timor Impian”
Misi
"Jadi Inspirasi Untuk Perubahan"

“Jadi Relawan, Jadi Inspirasi”

Inilah sebuah mimpi yang memanggil CIS untuk menjadi;
Simpul Relawan Inspirasional (SERASI) merupakan kumpulan pribadi-pribadi yang saling mengikat diri, membentuk simpul dan jalinan dalam ikatan kerelawanan yang mewujud untuk terus menginspirasi dunia yang lebih baik dari pojok Pulau Timor.
SIMPUL merupakan ikatan yang bermakna sebagai wadah, media yang mengikat, mengaitkan, menjalin, membentuk, mengisi, mengokohkan dan memberi roh/spirit.
RELAWAN adalah identitas asali yang merupakan panggilan historis dan theologies CIS, serta diyakini sebagai panggilan Ilahi dalam suara jiwa untuk menjadi (being) individu sejati yang bermakna bagi dunia sekitarnya.



(Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Sekolah)
Handicap International Federation adalah salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang/isu pengurangan risiko bencana dan pengarusutamaan isu kecacatan.
Semenjak bulan Januari hingga Desember 2011, CIS Timor menjadi salah satu mitra kerja Handicap International dalam sebuah program yang bernama School Disaster Risk Reduction (SDRR) atau program pengurangan risiko bencana berbasis sekolah di empat sekolah dasar di kabupaten Belu, diantaranya tiga sekolah dasar inklusi yaitu SDI Tenukiik, SDI Tulamalae dan SDI Haliulun serta satu Sekolah Luar Biasa Negeri Tenubot.

"Bapa dong kan jam begini sibuk kerja di kantor jadi biar mama-mama sa yang datang…"
Topik Laki-laki dan Posyandu itu, membuat suasana terasa semakin ramai. Sebagian besar isi pesan dari kalimat itu adalah Laki-laki jarang ada di Posyandu.

Sejak Akhir 2005 ketika program repatriasi ditutup oleh Pemerintah dan UN (UNHCR dan IOM). Bisa dikatakan tidak ada tidak ada eks pengungsi Timor Timur yang bermukim di Timor Barat ini berminat untuk pulang. sejak 1999 hingga 2005, berdasarkan rekapitulasi data pemerintah dari 18.600-an keluarga atau lebih dari 55 ribu jiwa pengungsi telah kembali ketanah kelahiran mereka melalui program repatriasi.


Saat ini jumlah pengungsi di Timor Barat berkisar 23.000 keluarga, mereka semua tersebar di Kota Kupang, kabupaten Kupang, TTS, TTU dan yang terbanyak ada di kabupaten Belu. Di antara mereka, sebagian besar sudah memiliki rumah tinggal yang cukup layak huni bantuan dari pemerintah dan organisasi internasional lainnya, namun tak sedikit juga dari mereka yang masih menempati kamp-kamp pengungsian. Sejak 1999 hingga 2008 secara umum ada tiga jenis program yang diluncurkan pemerintah untuk persoalan pengungsi ini yakni : Relokasi, Repatriasi dan Pemberdayaan.

![]()
Posyandu masih menjadi tempat yang identik dengan ibu (perempuan) dan balita karena merekalah yang wajib mengunujungi posyandu setiap bulannya. Seakan- akan tugas memantau perkembangan balita menjadi tugas seorang ibu, yang sudah sejak dahulu ditetapkan tugasnya melakukan semua hal yang berkaitan dengan tugas domestik.
